BALIEXPRESS.ID - Pemandangan luar biasa terjadi hari ini, Minggu (11/5)! Puluhan ribu krama Desa Adat Jimbaran memadati Jalan Uluwatu I, Bali, dalam balutan mapeed (prosesi berjalan kaki) menuju Pura Luhur Uluwatu, Desa Pecatu, Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Upacara Hindu Bali, Masupati Ida Bhatara Dewa Ayu yang digelar setiap dua setengah tahun sekali ini sontak mengubah jalanan menjadi lautan manusia yang khusyuk.
Sekretaris Sekaa Barong Desa Adat Jimbaran, I Ketut Sutarja, mengungkapkan bahwa siklus dua setengah tahunan ini bisa saja berubah tergantung pawisik (bisikan spiritual) yang diterima.
"Apabila ada pawuwus (pawisik) dari atas, walaupun belum ada dua atau dua setangah tahun akan kami melakukan upacara ini," ujarnya, menyiratkan adanya kekuatan tak terduga yang membimbing tradisi ini.
Rangkaian upacara sakral ini ternyata telah dimulai jauh hari, 50 hari sebelum Hari Raya Galungan.
Diawali dengan nunas baos (memohon petunjuk) dan metedunan Pelawatan Ida Bhatara (prosesi penurunan simbol suci).
Kemudian dilanjutkan dengan mapajar ageng (persembahan besar) pada Hari Umanis Galungan, diikuti piodalan (upacara hari jadi) di tiga Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Jimbaran: Pura Ulun Swi, Pura Dalem, serta Pura Puseh dan Desa.
"Di ketiga Pura Ini ketika Pelawatan Ida Bhatara Dewa Ayu metangi (simbol suci bangkit), kami melaksanakn prosesi Mepinton saat piodalan. Kami ngaturang sembah (menghaturkan sembah) karena Seshunan (yang disembah) akan Napak Pertiwi (menginjak bumi)," jelas Sutarja, menggambarkan kekhidmatan setiap tahapan.
Baca Juga: Unik! Tradisi Mencuri Anak Sapi Demi Kesucian Desa di Bali: Bukan Kriminal, Justru Ritual!
Puncak Ritual: Jalan Kaki Misterius ke Uluwatu dan Calonarang Semalam Suntuk!
Puncak upacara jatuh pada hari ini. Setelah berkumpul dan bersembahyang di Pura Ulun Swi, puluhan ribu krama dengan khusyuk berjalan kaki mengiringi Ida Bhatara Dewa Ayu menuju Pura Luhur Uluwatu yang berjarak cukup jauh.
"Sebelum ke Pura Uluwatu akan beristirahat terlebih dahulu, bahkan di setiap pura di Desa Pecatu akan dihaturkan pejati (persembahan). Istirahatnya di Pura Pererepan Pecatu. Acara puncaknya di Pura Luhur Uluwatu," terang Sutarja.
Namun, kejutan tak berhenti di sana! Usai upacara di Pura Luhur Uluwatu, rombongan akan kembali ke Pura Prerepan, dan di Lapangan Pecatu akan digelar pertunjukan calonarang semalam suntuk!
"Saat di Pecatu calonarang akan digelar sampai besoknya. Pagi hari kesesokannya baru dilanjutkan kembali ke Pura Ulun Swi," jelasnya, menambah elemen mistis dalam rangkaian upacara ini.
Pantangan Aneh: Mengapa Harus Jalan Kaki ke Uluwatu?
Yang lebih menarik dan mengundang tanya adalah keharusan berjalan kaki menuju Pura Luhur Uluwatu.
Sutarja mengungkapkan adanya kejadian aneh di masa lalu yang membuat tradisi ini tetap dipertahankan.
Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Maut Saat Truk Fuso Menggila Tabrak 4 Motor, 1 Nyawa Melayang!
"Kata orang tua sebelumnya pernah direncanakan dan mungkin sudah pernah dilakukan untuk menggunakan mobil, tetapi ada kejadian yang tidak masuk akal.
Sehingga kembali dilakanakan dengan berjalan kaki," paparnya, menyisakan misteri di balik pantangan unik ini.
Mengapa rencana menggunakan mobil berujung pada kejadian "tidak masuk akal"?
Kekuatan spiritual apa yang mengharuskan puluhan ribu krama Jimbaran menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki?
Misteri ini menambah daya tarik dan kekhidmatan Upacara Masupati Ida Bhatara Dewa Ayu, sebuah tradisi yang terus hidup dan memukau di Pulau Dewata. ***
Editor : I Putu Suyatra