Beragam jenis nyuh yang digunakan memiliki makna filosofis yang tinggi dan dimuat dalam berbagai pustaka suci Hindu.
Dalam ritual Hindu selain sebagai kelengkapan daksina, ragam bebantenan lainnya seperti; prayascita, biyakala, dan durmanggala, menggunakan kelapa yang masih muda disebut bungkak dengan memanfaatkan airnya.
Mengenai bungkak khusus jenis kelapa gading menurut salah seorang penekun sastra yang dari Griya Sunya Gunung Kawi Manuaba, Ida Bagus Made Bhaskara, setidaknya ada tiga teks yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami fungsi dan makna kelapa bungkak nyuh gading.
Pertama, disebutkan dalam lontar Rajah Pangereka Bungkak bahwa, bungkak menjadi media untuk mengguratkan aksara suci dalam berbagai ritus magis keagamaan. Teks tersebut menjelaskan sejarah-mitos pohon kelapa hingga manfaatnya dalam kehidupan.
Kedua, lontar Kelapa Tattwa menyebutkan sebuah mitologi munculnya pohon kelapa yang bertumbuh dari waranugraha Bhagawan Wrespati melalui ‘yoga’ demi keseimbangan kondisi alam semesta.
“Bahwa, anugerah diberikan hanya kepada orang yang sudah suci tidak hanya bersih semata,” jelasnya.
Ketiga disebutkan dalam lontar Raja Bungkak, tumbuhnya pohon kelapa dengan beraneka ragam warna dari percikan tirtha amerta yang menetes ke tanah,
Ia menjelaskan, ketika bumi mengalami kehancuran karena tumbuh-tumbuhan dirasuki kekuatan kala yang dinamakan buta dasa angkara bumi berbentuk racun sehingga menimbulkan wabah penyakit pada semua makhluk hidup.
Berdasarkan hasil tapa Sang Bhagawan diturunkan energi kehidupan berwujud tetesan amerta dari 9 Dewa yang selanjutnya bernama Dewata Nawasanga jatuh ke tanah tumbuh menjadi pohon kelapa
“Oleh sebab itu mengupas makna tentang bungkak pada akhirnya membicarakan manifestasi Dewata Nawasanga yang dipercaya menyebabkan munculnya berbagai warna serta karakter fisik kelapa,” imbuhnya.
Masih menurut Baskara, bungkak merupakan sarana penting untuk melaksanakan ajaran bhakti, permohonan, pengampunan, kesucian, dan pembersihan diri. Dalam penjelasannya disebutkan empat klasifikasi penggunaan bungkak.
Pertama, Nyasa, digunakan sebagai simbol yang berbentuk rerajahan pada banten khusus. Kedua, Pralina, sebagai tempat untuk pengembalian berbagai unsur alam (panca maha bhuta) kepada sumbernya.
Ketiga, Sauca/samskara, digunakan sebagai pembersihan aura negative baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari alam semesta tanpa dilengkapi mantra atau ‘rerajahan’ langsung dipercikkan;
Keempat sebagai Sarana, digunakan dalam ritus-ritus magis untuk menghidupkan dan menggerakkan kemampuan batin seperti ‘nerang cuaca’ oleh para pawang.
Di Bali bungkak juga dipahami sebagai simbol Dewi Saraswati dan dalam teks-teks kuno disebutkan dengan istilah ‘Degan’ terhubung pada kata ‘keduegan’ atau pengetahuan yang dipahami sebagai simbol Dewi Saraswati.
Sedangkan dalam ritual besar yang berisikan banten dewa-dewi, bungkak dipahami menjadi simbol waranugraha atau anugerah.
“Selain untuk pembersihan, ketika ingin meningkatkan diri pada level kesucian penggunaan bungkak hendaknya melalui prosesi magis, disertai rangkaian sesaji dan mantram,” imbuhnya.
Penggunaan kelapa bungkak pada berbagai ritus keagamaan secara teologis salah satunya bermakna menyatakan eksistensi para Dewata Nawa Sanga atau sembila dewata penjaga penjuru mata angin.
Dijelaskan Ida Bagus Made Bhaskara, berdasarkan warna buahnya tanaman kelapa dibedakan menjadi tiga golongan.
Kelapa Hijau adalah kelapa yang memiliki kulit buah berwarna hijau dan memiliki batang tinggi besar dengan buahnya berukuran cukup besar.
Sarana ini biasanya digunakan untuk sesaji dalam upacara tradisional bahkan diambil airnya digunakan sebagai penawar racun mengatasi muntahmuntah (pengobatan);
Kemudian Kelapa Merah merupakan golongan kelapa yang memiliki kulit buah berwarna merah atau kecoklatan.
Jenis ini termasuk golongan kelapa dalam ukuran pohon besar dan tinggi, buah yang dihasilkan berbentuk bulat dan berukuran besar memiliki kandungan minyak cukup tinggi, di Bali salah satunya terdapat kelapa Udang atau kelapa Brahma, Mulung, Bojog, Rangda, Sudamala;
Kelapa Kuning adalah golongan kelapa yang memiliki kulit buah berwarna kuning tergolong kelapa hibrida yang sudah berbuah pada umur 3 tahun saat tanaman mencapai tinggi 1 m-1,5 m.
Ukuran pohon tidak terlalu tinggi atau lebih pendek dan kecil, buahnya berbentuk bulat dengan ukuran lebih kecil dan sering dimanfaatkan sebagai sarana ritual.
Jenis kelapa kuning atau di Bali dinamakan kelapa gading yang sesungguhnya memiliki tiga warna kulit yakni; warna oranye, warna kuning gading-keputihan, dan warna kuning gading-kehijauan.
“Ketiga jenis inilah sering digunakan sebagai sarana upakara baik buah yang sudah tua maupun yang masih muda. Oleh karena itu budaya masyarakat Bali memberi nama kelapa (nyuh madan) terlihat lebih banyak dari jenis kelapa,” imbuhnya.
Dalam sesuai dengan warna, karakter fisik, penempatan dan pemanfaatannya sebagai bahan pangan dan pengobatan.
Sedangkan jenis Genjah dan Hibrida lebih banyak dimanfaatkan sebagai kelengkapan sarana upakara karena bentuknya lebih kecil. (dik)
Editor : I Putu Mardika