Kisah Unik Pura Sekar Tejakula: Bukti Nyata Harmoni Tiga Agama di Pulau Dewata! Tak Boleh Persembahkan Daging Babi
I Putu Suyatra• Jumat, 16 Mei 2025 | 23:15 WIB
Pura Sekar di Tejakula, Kabupaten Buleleng.
BALIEXPRESS.ID – Di balik keindahan alam Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali yang tenang, tersimpan sebuah permata toleransi yang mungkin belum banyak diketahui.
Sebuah tempat suci Hindu Bali unik bernama Pura Sekar berdiri kokoh, menjadi simbol kerukunan antarumat beragama yang patut diacungi jempol di tengah masyarakat Bali yang mayoritas Hindu.
Terletak tak jauh dari jalur utama Singaraja – Amlapura dan hanya berjarak sekitar 100 meter dari bibir pantai, Pura Sekar menyimpan sebuah keunikan yang mencengangkan.
Memasuki area pura, mata pengunjung akan langsung tertuju pada tiga palinggih utama yang berdiri berdampingan.
Bukan palinggih biasa, ketiga bangunan suci ini secara simbolis mewakili tiga agama besar: Islam, Hindu, dan Buddha!
Tiga Palinggih, Satu Harmoni:
Penyarikan Pura Sekar, Nyoman Kerta, mengungkapkan kepada media bahwa Pura Sekar adalah pura paling unik di Kecamatan Tejakula karena keberadaan tiga palinggih tersebut.
Palinggih Islam, yang terletak paling barat, dipercaya sebagai stana Ratu Gede Serabad.
Di sebelahnya berdiri Palinggih Hindu, yang dipercaya sebagai stana Ratu Ayu Jong Galuh.
Dan yang tak kalah menarik, di sisi timur terdapat Palinggih Buddha, yang dipercaya sebagai stana Ratu Bagus Mas Subandar.
Keunikan ini semakin terasa saat upacara di pura. Khusus untuk Palinggih Islam, persembahan tidak pernah menggunakan daging babi, melainkan hanya telur.
Namun, saat piodalan (upacara besar), jika menggunakan kambing dan sapi, persembahan tersebut juga akan dihaturkan di palinggih Islam.
"Pura ini menjadi salah satu yang terunik di Tejakula. Hal tersebut terlihat dari tiga palinggih yang mencirikan keragaman agama yang ada di Indonesia," jelas Nyoman Kerta.
Jejak Pelabuhan Kuno dan Awak Kapal Multikultural:
Mengulik lebih dalam sejarah Pura Sekar, Nyoman Kerta mengutip cerita dari para panglingsir (sesepuh) di Tejakula.
Konon, dulunya di pantai dekat lokasi pura saat ini terdapat sebuah pelabuhan besar yang menjadi pusat perdagangan.
Banyak kapal berlabuh, menciptakan interaksi antara pedagang, awak kapal, dan masyarakat Tejakula yang beragam.
Cerita mistis menyebutkan bahwa suatu ketika, sebuah perahu yang membawa beras dan padi mengalami kebocoran dan hendak berlabuh di pelabuhan tersebut.
Seluruh awak kapal diyakini memeluk agama yang berbeda-beda: Islam, Hindu, dan Buddha. Setelah kejadian itu, para awak kapal dikabarkan melakukan yoga semadi (meditasi).
Namun, jejak mereka kemudian menghilang secara misterius. Masyarakat setempat percaya bahwa mereka bukanlah manusia biasa.
Berdasarkan peristiwa aneh tersebut, didirikanlah Pura Sekar di tempat itu, yang hingga kini masih dikeramatkan oleh masyarakat Tejakula.
"Seperti itulah kurang lebih cerita atau mitos yang saya dapat dari para panglingsir di sini," imbuh Nyoman Kerta.
Kesuburan Tanah dan Kekuatan Supranatural:
Lebih lanjut, Nyoman Kerta menuturkan bahwa padi dari perahu yang hilang tersebut disebarkan oleh masyarakat di sekitar pura.
Ajaibnya, padi itu tumbuh subur, membuat daerah sekitar menjadi gemah ripah (subur dan makmur), yang kemudian dikenal sebagai "bunga gumi ring Tejakula" (bunga bumi di Tejakula).
"Karena padi tersebut disebarkan di seputar pura, sehingga daerah sekitar menjadi subur dan indah atau sering dikatakan bunga gumi ring Tejakula. Dari sana diasosiasikan menjadi Pura Sekar. Selain itu, sesuhunan (roh penjaga) di sini begitu baik. Apapun permintaan, bisa terwujud. Sebaliknya, kalau sudah ada kesalahan atau kejahilan, bisa sakit terus meninggal dan itu sudah banyak terbukti," pungkas Nyoman Kerta, menambahkan dimensi spiritual yang kuat pada Pura Sekar.
Kisah Pura Sekar di Tejakula ini menjadi oase yang menyegarkan di tengah isu-isu intoleransi.
Keberadaan tiga palinggih yang mewakili agama berbeda menjadi bukti nyata bahwa harmoni dan toleransi dapat tumbuh subur berdampingan.
Pura ini bukan hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga monumen persatuan dan penghargaan terhadap perbedaan.
Tertarik menyaksikan langsung potret indah kerukunan umat beragama ini? Jangan ragu untuk mengunjungi Desa Tejakula dan mengungkap keunikan Pura Sekar yang penuh makna! ***