Salah satunya adalah Tradisi Nguliang Ajang, sebuah upacara khusus yang digelar ketika seorang jro mangku meninggal dunia yang dilangsungkan di Pura Rambut Naga.
Tradisi ini bukan sekadar ritual biasa. Bagi masyarakat Tukadmungga, Nguliang Ajang adalah penghormatan terakhir yang diberikan kepada mereka yang telah mengabdikan hidupnya sebagai pemangku, balian, atau klian adat di pura.
Upacara ini menandai tuntasnya tugas spiritual mereka di dunia.
“Nguliang Ajang ini bukan hal baru, tapi sudah dilaksanakan sejak zaman leluhur kami. Ini adalah tradisi warisan yang harus dijaga, karena di dalamnya ada makna besar tentang pengabdian dan pelepasan tugas suci,” ujar Ketut Wicana, Kelian Adat Dharmajati Desa Tukadmungga.
Menurut Wicana, pelaksanaan Nguliang Ajang menunjukkan bahwa sang sane ngiring (mendiang jro mangku) telah menyelesaikan tugas sucinya di pura.
Rangkaian Nguliang Ajang berlangsung selama beberapa hari. Tiga hari sebelum puncak acara, keluarga melaksanakan mejauman dan mapiuning—ritual pemberitahuan dan permohonan kehadiran kepada para uleman.
“Pada saat mejauman, kami datang ke para pihak yang akan diundang. Ini penting, karena Nguliang Ajang bukan hanya urusan keluarga, tapi urusan komunitas adat,” jelas Wicana.
Setelah itu, keluarga melakukan nunas di paibon. Dalam prosesi ini, keturunan mendiang memohon kepada Dewa Hyang agar arwah leluhur distanakan dalam kampuh putih kuning sebagai simbol kesucian.
Berbagai sarana upakara seperti peras pejati dan soda putih kuning dihaturkan di merajan. Semua ini disiapkan dengan penuh kesungguhan dan ketelitian, karena menyangkut etika spiritual.
Menjelang hari H, keluarga menyerahkan sarana upakara ke pura tempat sang jro mangku biasa bertugas. Di sana, masyarakat bekerja sama untuk menyiapkan upacara besar ini.
Puncak upacara diawali dengan ritual nganteb banten, termasuk banten surya nglungsur, prayascita, byakala, dan durmanggala. Setelah itu dilakukan pengelisan, yakni pembersihan sarana dan palinggih.
“Semua tahapan dilakukan sesuai sastra dan tradisi. Ini bentuk bakti terakhir kepada beliau yang telah banyak ngayah untuk masyarakat adat,” kata Wicana.
Setelah pembersihan, jro mangku kembali menghaturkan banten Nguliang Ajang, mulai dari suci agung, pengulapan, hingga pras ayaban. Setiap persembahan mengandung makna simbolik yang dalam.
Selanjutnya, digelar persembahyangan oleh keluarga dan para tamu undangan. Kemudian dilanjutkan dengan nunas tirta wangsuhpada sebagai simbol penyucian dan pelepasan ikatan duniawi.
Ritual mepegat sot pun digelar. Ini adalah prosesi pemutusan ikatan hutang karma leluhur terhadap Ida Sang Hyang Widhi, menandai akhir pengabdian spiritual sang jro mangku.
Rangkaian dilanjutkan dengan mepurwa daksina, yakni mengitari pura sebanyak tiga kali. Ini melambangkan perjalanan jiwa menuju pelepasan dan keseimbangan alam.
Setelah semua ritual selesai, para uleman dan keluarga melaksanakan prosesi Nglungsur Ajang, yakni memohon ajang (banten) untuk dimakan bersama dalam prosesi magibung.
“Nguliang Ajang bukan hanya untuk yang telah tiada, tapi juga pengingat bagi yang hidup agar tetap menjalankan dharma dan menjaga harmoni,” imbuh pensiunan Guru Agama Hindu ini.
Tak berhenti di sana, upacara ditutup dengan Ngelinggihang Dewa Hyang kembali ke paibon. Dewa Hyang dikembalikan ke merajan, menandakan berakhirnya rangkaian upacara.
Dalam pelaksanaan Nguliang Ajang, berbagai pihak terlibat. Mulai dari Jro Mangku Pemucuk, Kelian Gede Pura, Kelian Desa, hingga Kelian Serati dan Pecalang. Semua bekerja sama menjaga kesakralan ritual.
Keterlibatan Kelian Truna Bunga juga penting, sebagai penggerak pemuda agar tetap mencintai tradisi. Mereka membantu teknis upacara sekaligus belajar nilai-nilai luhur tradisi ini.
Beragam sarana digunakan dalam upacara ini, seperti kelapa, minyak, beras, bumbu dapur, banten pamegat sot, ajang, hingga penek babi seberat 100 kilogram. Semua dipersiapkan dengan gotong royong.
“Nguliang Ajang ini bukan sekadar upacara, tapi wajah dari budaya Bali yang hidup. Ini adalah jati diri kami di Tukadmungga, yang akan terus kami wariskan,” tutup Ketut Wicana.
Editor : I Putu Mardika