BALIEXPRESS.ID – Pratima dan pralingga merupakan simbol. Simbol dipakai sebagai wahana konsentrasi persembahyangan umat Hindu, dasar sastranya adalah Kitab Bhagawata Purana atau Srimad Bhagawata. Hal tersebut dijabarkan oleh Ida Kade Suarioka, yang merupakan akademisi Universitas Hindu Indonesia Denpasar.
Disebutkan dalam kitab tersebut bahwa ada 10 cara untuk kembali ke alam Tuhan. Diantaranya adalah Srawanam, Padasewanam, Arcanam. “Srawanam artinya memuliakan Tuhan melalui petunjuk,wacana para Maha Rsi. Padasewanam artinya memuliakan Tuhan melalui pengabdian total kepada orang suci. Arcanam artinya memuliakan Tuhan melalui sarana symbol arca,pralingga,prasada,” paparnya.
Maka untuk itulah masyarakat Hindu Bali dalam memulai membuat pratima dan pralingga berangkat dari latar belakang adanya wangsit atau sipta. Kemudian dari faktor kewangsaan, dan atas dasar petunjuk sulinggih.
Diungkapkan bahwa ada dua sumber lontar yang menyebutkan tentang tata cara membuat Pratima dan Pralingga yaitu Lontar Ngusabha Desa dan Ngusabha Nini dan Lontar Wiswa Karma ( tata cara ngaryaning Pratima pralingga lingganing widhi ).
Bahan untuk membuat Pratima dan pralingga diantaranya adalah untuk Arca Pratima pralingga dalam wujud Dewa,berbahan kayu cendana, majegau, cempaka kuning, jepun Bali dan lain-lain. “ Untuk yang berbentuk yang menyeramkan ( Ratu Niang, Rangda, Celuluk ),bahan kayunya adalah Kayu Pule,” tegasnya.
Sementara pemilihan hari baik dalam membuat Pratima Pralingga yaitu awal membuat memilih Dewasa : Purnama,Tilem dan kajeng Kliwon. Dewasa melaspas adalah bertepatan dengan pujawali atau piodalan di tempat suci yang bersangkutan.
“Ini mengisyaratkan bahwa makna adalah landasan dari pemahaman bahasa, yang tidak hanya terbatas pada sekadar arti kata-kata ( wirasa ). Pratimā adalah salah satu kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti: suatu gambaran, suatu cerminan, pemantulan, suatu ukuran, suatu lambang, suatu simbol,” beber Suarioka.
Pratima dan pralingga juga sebagai media pemujaan yang telah dilakukan proses penyucian sehingga dipercaya sebagai simbol dari Dewa-Dewi, Bhatara-Bhatari, dan juga Pitara-Pitari (Leluhur) tertentu. Khususnya sebagai wadah atau media untuk mengadakan hubungan dg Ida sang Hyang Widhi Wasa.
“Pralingga sebagai hasil karya seni yang bersifat sakral, dipergunakan sebagai simbol kedudukan (linggih) Ida Sang Hyang Widhi Waśa dengan segala manifestasiNya dalam wujud Bhatāra-Bhatārī, atau Dewa-Dewi dan juga simbol kedudukan (linggih) Pitara-Pitari atau leluhur, mempunyai bentuk sebagai binatang,” pungkasnya. *
Editor : Putu Agus Adegrantika