Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Sanggah Kemulan dari Bambu hingga 11 Rong di Pedawa: Tradisi Hindu Bali yang Lestari hingga Kini

I Putu Suyatra • Senin, 2 Juni 2025 | 13:57 WIB

Sanggah Kemulan di Pedawa
Sanggah Kemulan di Pedawa

BALIEXPRESS.ID - Hindu Bali dikenal dengan beragam adat pernikahannya, mulai dari "mapadik" (meminang), "ngerorod" (kawin lari), hingga "nyentana" (mempelai wanita meminang pria). Namun, di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, ada istilah pernikahan yang begitu khas: "Melaib".

Meskipun terdengar seperti "lari," "melaib" di sini memiliki makna yang lebih dalam, merujuk pada prosesi melangsungkan pernikahan itu sendiri.

Menariknya, "melaib" di Pedawa terbagi menjadi enam jenis, mulai dari "melaib ngemaling" hingga "melaib ngerorod," menunjukkan keragaman praktik dalam satu desa yang sama.

Baca Juga: Bang-Ipat Salurkan Program Bedah Warung Harmoni di Desa Pengambengan

Sanggah Kemulan: Pelinggih Bambu Sakral Simbol Rumah Tangga Baru

Keunikan "melaib" tak berhenti di situ. Setiap pria yang menikah di Desa Pedawa memiliki kewajiban unik: membuat "sanggah kemulan".

Pelinggih atau tempat pemujaan yang terbuat dari bambu ini, yang juga dikenal sebagai "sanggah nganten," menjadi simbol sakral pembentukan rumah tangga baru.

Meskipun tak ada aturan tertulis (awig-awig) yang mewajibkannya, keyakinan kuat masyarakat terhadap mitos leluhur menjadikan tradisi ini bertahan hingga kini.

Ni Ketut Tiki, atau akrab disapa Men Surya, salah satu tukang banten di Desa Pedawa, menjelaskan, "Kepercayaan dari dulu sanggah kemulan di desa sudah ada sebelum penjajahan Majapahit dan masih ada sampai sekarang."

Masyarakat Pedawa percaya bahwa sanggah kemulan adalah kunci keharmonisan, kebahagiaan, dan pelindung dari penyakit.

Baca Juga: Malam Puncak 'Satya Braya Jembrana' Refleksi 100 Hari Kepemimpinan, Bang-Ipat Sampaikan Realisasi Program Prioritas

"Kita di sini percaya kalau orang yang sudah menikah tidak membuat sanggah kemulan maka salah satu dari pasangan itu sakit. Karena upakara pernikahannya belum lengkap, belum mendirikan sanggah kemulan," tambahnya.

Bahkan, pemilihan material bambu untuk sanggah kemulan pun tak sembarangan. Hanya bambu bali atau "tiing bali" yang boleh digunakan, karena dianggap sebagai simbol Dewa Brahma.

Jumlah ruang (rong) dalam sanggah kemulan pun harus ganjil, maksimal 11 rong, disesuaikan dengan kepercayaan masing-masing keluarga.

Menyatukan Dua Leluhur: Purusa dan Predana dalam Sanggah Kemulan

Keunikan lain dari sanggah kemulan adalah konsep purusa dan predana yang tak terpisahkan.

Setiap laki-laki yang menikah, baik dengan perempuan dari dalam maupun luar Desa Pedawa, wajib "ngelinggihang" (menempatkan) bhatara bhatari (leluhur) dari pihak istri di sanggah kemulan mereka. Masyarakat percaya, secara niskala, leluhur dari kedua belah pihak menikah di sanggah kemulan, sehingga kemudian dipuja bersama-sama.

"Di sanggah kemulan masyarakat Pedawa yang kami sembah sesuai dengan masing-masing kepercayaan keluarga tersebut," jelas Wayan Sukrata, seorang warga.

Hal ini menunjukkan betapa personal dan mendalamnya ikatan spiritual dalam tradisi pernikahan mereka.

Ritual "Ngamputang Lis" dan Konsep "Ulu-Teben" yang Unik

Prosesi upacara sanggah kemulan biasanya dilakukan saat Purnama Kapat dan Purnama Kedasa.

Setelah hari baik ditentukan, dilaksanakan upacara "ngamputang lis" untuk menyucikan sanggah kemulan sebelum leluhur ditempatkan.

Baca Juga: Bupati Badung Launching Program Nak Badung Sehat, Tingkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Badung

Uniknya, upacara ini menggunakan mantra khas Desa Pedawa yang disebut "sesontengan," yang artinya "banten apa yang dihaturkan maka itu yang diucapkan."

Setelah itu, proses "ngerapuh" dilakukan, yaitu memercikkan air suci ke sanggah kemulan, diikuti dengan persembahyangan untuk memohon keharmonisan.

Selama prosesi ini, banten atau sesaji akan "ngayengan" (dibiarkan) hingga dupa habis. Setiap harinya, canang burat wangi juga dihaturkan di sanggah kemulan.

Tak hanya itu, Desa Pedawa memiliki konsep penempatan bangunan yang berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya. Mereka tidak menggunakan konsep mata angin, melainkan "ulu-teben" (tinggi-rendah).

"Ulu dianggap sebagai kawasan suci yang lebih tinggi, sementara teben adalah tempat yang lebih rendah untuk kandang, jineng, dan kamar mandi," jelas Nyoman Kalam.

Bahkan, posisi tidur pun diatur agar kepala menghadap sanggah kemulan, sebagai bentuk penghormatan.

Tradisi "melaib" dan sanggah kemulan di Desa Pedawa adalah bukti nyata kekayaan budaya Bali yang tak pernah berhenti memukau.

Ia bukan sekadar pernikahan, melainkan jalinan erat antara cinta, keyakinan spiritual, dan warisan leluhur yang terus hidup.***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#PEDAWA #Kabupaten Buleleng #Kemulan #hindu bali #tradisi #perkawinan