Tumbuh-tumbuhan dalam Teks Tutur Siwagama, menyebutkan bahwa tumbuh tumbuhan merupakan mahluk ciptaan Tuhan sebagaimana juga manusia, binatang, dan mahluk lainnya.
Guru Besar Unud, Prof. Dr. Nyoman Suarka, M.Hum menjelaskan tumbuh-tumbuhan terungkap dalam kata-kata sthawara, lata gulma, twaksarah, sarwa trêna pada kutipan di atas merupakan leksikon tumbuh-tumbuhan dalam bahasa Jawa Kuna.
Tumbuh-tumbuhan diciptakan oleh Sang Hyang Adisuksma pada saat melakukan yoga ketujuh setelah lahirnya manusia dan binatang.
Sang Hyang Adisuksma adalah Sang Hyang Widhi atau Tuhan sebagai sumber asal dan tujuan seluruh alam semesta menurut teks tutur Siwagama. Dengan demikian, tumbuh-tumbuhan merupakan salah satu mahluk ciptaan Tuhan, selain manusia dan binatang.
Urutan kelahiran manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan sebagaimana dijelaskan dalam teks tutur Siwagama merupakan fakta semiotik yang menandakan makna kesadaran penciptaan alam semesta beserta isinya oleh Tuhan menurut hukum pramana (ukuran, takaran, kadar, kebenaran) sebagai daya hidup yang dimiliki setiap mahluk.
Manusia memiliki tiga pramana (tripramana), yaitu daya gerak (bayu), daya ucap (sabda), dan daya pikiran (idep). Binatang memiliki dua pramana (dwipramana), yaitu daya gerak (bayu) dan daya ucap (sabda).
“Sedangkan Tumbuh-tumbuhan hanya memiliki satu pramana (ekapramana), yaitu daya gerak (bayu),” jelasnya.
Keyakinan akan Tuhan disebut Sang Hyang Widhi sebagai sumber asal dan tujuan alam semesta beserta seluruh isinya menurut teks tutur Siwagama menumbuhkan kesadaran manusia bahwa Tuhan ada di dalam setiap ciptaan-Nya.
Jika demikian halnya, maka Tuhan ada di dalam tumbuh-tumbuhan menjadi jiwa menjiwai tumbuh-tumbuhan.
Di sisi lain, teks tutur Bhuwana Purana menyatakan bahwa Tuhan sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan dinamakan Sang Hyang Trenagulma. Istilah trena gulma berasal dari gabungan kata trena, yang secara leksikal berarti rerumputan dan kata gulma berarti serumpun pepohonan, semak belukar.
Sang Hyang Trenagulma diyakini sebagai perwujudan I Meme I Bapa (…Sang Hyang Trenagulma, pragan i mémé mwang i bapa…). Istilah I Meme I Bapa merupakan sebutan lain dari Pradhana Purusa. Dalam pandangan Samkhya segala sesuatu lahir dari pertemuan Purusa (I Bapa) dan Pradhana (I Meme).
Tempat pertemuan atau perpaduan Purusa (I Bapa) dan Pradhana (I Meme) adalah tempat tidur (rumaga paturon), berbentuk gedong catu (rumaga gedong catu).
Dalam teks tutur Siwagama dijelaskan bahwa gedong adalah palinggih tempat pemujaan roh leluhur yang telah disucikan (atma pratistha). Catu adalah palinggih tempat memuja dewa sebagai sinar suci Tuhan (dewa pratistha).
“Palinggih gedong catu merepresentasikan keyakinan teologis umat Hindu dalam memuja kebesaran serta kemuliaan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa melalui pemujaan roh leluhur dan dewa-dewa. Palinggih gedong catu dibuat dari bahan tumbuh tumbuhan atau kayu. Tumbuh-tumbuhan atau kayu adalah ciptaan Tuhan,” paparnya.
Tuhan berada dan sekaligus menjiwai tumbuh-tumbuhan atau kayu. Lebih jauh teks tutur Bhuwana Purana membangun kesadaran teologis manusia dalam memandang tumbuh-tumbuhan sebagai wujud ciptaan Tuhan dan Tuhan bersemayam di dalam tumbuh-tumbuhan.
Teks tutur Bhuwana Purana menjelaskan kemuliaan tumbuh-tumbuhan (kamenakan taru) sebagai tempat bersemayam Tuhan, bahwa kayu majagau merupakan tempat bersemayam Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Sadhasiwa (…saddhasiwa majagawu…).
Kayu cendana merupakan tempat bersemayam Tuhan dalam manifestasi Nya sebagai Paramasiwa (…paramasiwa candana…), dan kayu kemenyan adalah tempat bersemayam Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa Guru (…gurusiwa taru menyan…).
“Teks tutur Bhuwana Purana membangun kesadaran umat Hindu bahwa pohon majagawu merupakan simbol Bhujangga, cendana adalah simbol Boddha, dan pohon kemenyan merupakan simbol Siwa,” sebutnya.
Beringin Pohon Angker
Dalam teks tutur Siwagama dijelaskan bahwa pohon beringin merupakan pohon yang dipercaya angker, sebagai tempat tinggal roh-roh halus di bawah pimpinan Raja Bhuta Banaspati.
Dijelaskan Prof. Nyoman Suarka, bentuk pemuliaan tumbuh-tumbuhan sebagai ciptaan Tuhan dijelaskan dalam teks tutur Bhuwana Purana dan tutur Sundarigama yang mewajibkan umat Hindu melakukan pemujaan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Sang Hyang Trenagulma atau Sang Hyang Sangkara sebagai dewa penguasa tumbuh-tumbuhan, pada setiap Sabtu Kliwon Wariga atau disebut Tumpek Wariga, Tumpek Pangatag, Tumpek Bubuh, Tumpek Panguduh.
“Teks tutur Bhuwana Purana di atas secara eksplisit menjelaskan hubungan manusia dengan tumbuh-tumbuhan bersifat mutualistik. Tumbuh tumbuhan merupakan sumber kehidupan bagi manusia,” jelasnya.
Ia menambahkan, manusia hidup dari tumbuh tumbuhan. Makanan, minuman, dan bahkan obat-obatan yang dibutuhkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, bersumber pada tumbuh-tumbuhan, baik akar, batang, daun, bunga, maupun buah. Manusia bisa hidup sehat berkat tumbuh-tumbuhan.
Manusia membuat ramuan obat dari bahan tumbuh-tumbuhan sehingga manusia bisa hidup sehat dan segar bugar (“…tunasin urip, tunasin seger, dwaning manusané, taru maka boréhnya, lolohnya don kayu, dadi ia seger…” ‘…dimintai kehidupan, dimintai kesegaran, karena manusia menggunakan bahan bedak dari tumbuh-tumbuhan, begitu pula bahan minuman dari tumbuh-tumbuhan sehingga manusia dapat hidup sehat dan bugar…’).
Selanjutnya, tumbuh-tumbuhan merupakan sarana pemujaan kepada Tuhan demi mendapatkan keselamatan hidup (tunasin urip, tunasin seger). Manusia menggunakan tumbuh-tumbuhan sebagai sarana upacara persembahan kepada Tuhan.
Demikian pula, tempat suci pemujaan Tuhan dibuat dari bahan tumbuh-tumbuhan atau kayu untuk mendapatkan keselamatan (“…mwang maubad banten, masih don kayu anggon banten, mwah woh ipun, malih sekar ipun, dadi canang, gina-ginawé seger kang manusa…” ‘…dan lagi sarana obat serta sesajen, daun tumbuh-tumbuhan dijadikan sarana sesajen upacara persembahan kepada Tuhan, baik buah maupun bunganya, dipakai canang, yang bisa mendatangkan keselamatan bagi manusia…’).
Tumbuh-tumbuhan adalah teman manusia dalam menuju kematian (apan taru anggén nyama, ajak mati). Maksudnya adalah tumbuh-tumbuhan dapat juga mengancam keselamatan hidup manusia, jika manusia salah serta berlebihan memperlakukan dan memanfaatkan tumbuh tumbuhan.
Tumbuh-tumbuhan akan menjadi sumber bencana, menjadi racun menimbulkan penyakit bagi manusia, dan bahkan mendatangkan kematian (dadi béda, dadi kali, dadi kala, ngadakang gring, ginawé lara, ginawé pati).
Tidak hanya sampai di situ, tumbuh-tumbuhan pun akan dijadikan sarana mengantarkan perjalanan kematian manusia. Manusia menggunakan bahan tumbuh-tumbuhan atau kayu untuk peti jenasah maupun tempat pengusungan jenasah (bade, wadah).
“Pada masa lalu sebelum menggunakan kompor, manusia menggunakan kayu bakar dalam proses pembakaran jenasah,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika