Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

3 Fakta Penting Pura Tanah Enggan di Tabanan: Dibangun Raja Lewat Meditasi, Tanpa Genta dan Sulinggih

I Putu Suyatra • Sabtu, 7 Juni 2025 | 15:32 WIB

Pura Tanah Enggan di Banjar Juntal, Desa Kaba Kaba, Kediri, Kabupaten Tabanan.
Pura Tanah Enggan di Banjar Juntal, Desa Kaba Kaba, Kediri, Kabupaten Tabanan.

BALIEXPRESS.ID – Nama Kaba Kaba tak hanya lekat dengan sejarah kerajaan di Bali, namun juga menyimpan jejak spiritual yang unik. Di balik megahnya peninggalan masa lalu, tersembunyi sebuah pura atau tempat suci Hindu Bali kuno yang mengundang penasaran: Pura Tanah Enggan di Banjar Juntal, Desa Kaba Kaba, Kediri, Kabupaten Tabanan.

Pura ini konon dibangun atas pawisik raja melalui meditasi, dan yang paling mengejutkan, ada keyakinan khusus di sini bahwa sulinggih tidak perlu lagi memimpin upacara, bahkan pemangku memiliki pantangan ketat terkait penggunaan genta.

1.  Jejak Sejarah dan Wangsit Raja: Lahirnya Pura Tanah Enggan

Menurut Pemangku Pura Tanah Enggan, Jro Mangku I Made Yerada, pura ini merupakan salah satu dari sekian banyak pura yang dibangun oleh raja Kaba Kaba di masa lampau.

Baca Juga: Perbekel Baturiti Minta Maaf kepada De Gadjah, Usai Viral Pernyataan Kontroversial

"Zaman dahulu raja kan suka meditasi. Katanya demi mencapai kejayaan dibangun sejumlah pura. Salah satunya Pura Tanah Enggan," ujar Jro Mangku Yerada kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Kisah berdirinya Pura Tanah Enggan bermula dari keinginan raja untuk memiliki tempat pemujaan yang lebih dekat.

Melalui meditasi mendalam, raja mendapatkan jawaban bahwa pura harus didirikan di sebuah "tanah renggang" yang memiliki aura khusus.

"Tanah renggang inilah kini menjadi Pura Tanah Enggan. Tanah renggang itu kini sudah tidak ada bekasnya," jelasnya.

Pura ini merupakan salah satu pura tertua, berdiri mendahului Pura Puseh, Desa, dan Dalem, sejajar dengan Pura Agung dan Pura Kroya di zamannya. 

Baca Juga: 4 Momentum Penting Rizky Ridho yang Kini Jadi Bagian Tembok Kokoh Timnas Indonesia: Dari Debutan Persebaya Hingga Trio JJR yang Mengguncang Asia!

2.  Pengabdian Tanpa Genta: Kisah Unik Pemangku dan Ida Ratu Gede Putus

Setelah pembangunan pura, tak ada yang bersedia menjadi pemangku.

Sang raja akhirnya menunjuk leluhur Jro Mangku I Made Yerada untuk mengemban tugas sakral ini.

Awalnya, leluhurnya berjuang sendiri tanpa bantuan kerabat, karena penduduk asli di sana adalah dari Banjar Carik Padang, Desa Nyambu.

Namun, para bangsawan bergelar Gusti dari keturunan raja Kaba Kaba tetap menjadi pangempon pertama dan terus membantu hingga kini.

Keunikan lain terletak pada piodalan pura yang diselenggarakan setiap purnama (piodalan kecil) dan piodalan besar setiap lima piodalan kecil, atau satu bulan setelah piodalan di Pura Agung.

"Memang susah kalau ditanya kepastian piodalan di pura tersebut, sebab tidak memakai patokan wuku ataupun sasih," kata Jro Mangku Yerada.

Saat piodalan, fenomena karauhan sering terjadi, di mana pamedek (umat) mengalami trance karena "rencang Ida napak pertiwi" (pengikut gaib turun ke dunia).

Ciri-ciri pamedek yang kerauhan bisa menirukan tingkah macan hingga anak kolok, yang kemudian disadarkan dengan tirta (air suci).

Baca Juga: Gaji ke-13 ASN: Strategi Pemerintah Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Tengah Tantangan Global

Namun, yang paling mencengangkan adalah pantangan bagi sulinggih (pendeta Hindu Bali) untuk memimpin upacara, bahkan untuk mlaspas atau makarya besar.

Jro Mangku I Made Yerada mengungkapkan keyakinan bahwa Ida Ratu Gede Putus yang berstana di Pura Tanah Enggan bermanifestasi sebagai Nak Lingsir (Sulinggih) dan memimpin sendiri upacara secara niskala.

"Sejak dahulu hanya seorang pemangku saja bisa muput upacara. Selain itu, pemangku pun dilarang memakai genta," paparnya.

Pantangan genta ini bahkan pernah diuji oleh leluhur Jro Mangku Yerada.

Saat mencoba menggunakan genta, genta itu tidak berbunyi, dan tangan sang pemangku menjadi kaku.

Setelah nunas baas (meminta petunjuk niskala), didapat jawaban bahwa Nak Lingsir di Pura Tanah Enggan juga menggunakan genta, sehingga melarang pemangku untuk menggunakannya.

Baca Juga: 5 Fakta Penting Pura di Tengah Sawah Badung: Satu Palinggih, Ribuan Kesembuhan!

"Semenjak peristiwa itu hingga sekarang, kalau piodalan tidak memakai genta," pungkas Jro Mangku Yerada, yang telah menjadi pemangku sejak 1997. 

3.  Lokasi Mudah Dijangkau, Berkah untuk Umat

Pura Tanah Enggan kini mudah ditemukan karena berlokasi di sisi jalan utama Desa Kaba Kaba.

Pura ini memiliki pemaksan (kelompok pengempon pura) hingga 200 Kepala Keluarga yang tersebar di berbagai wilayah di Bali.

Di area utamaning mandala pura, terdapat sejumlah palinggih, antara lain: Paliggih Ida Ratu Gede Putus sebagai palinggih utama, serta Palinggih Ida Ratu Biyang, Ida Ratu Made, Ida Ratu Nyoman, dan Ida Ratu Agung Dewa Ayu Alit.

Pura Tanah Enggan adalah bukti kekayaan spiritual Hindu Bali yang penuh misteri dan keunikan, di mana tradisi, wangsit, dan kepercayaan menyatu dalam sebuah kisah yang tak pernah usai.

Apakah Anda berani berkunjung dan merasakan langsung aura mistis Pura Tanah Enggan? ***

Baca Juga: Dinilai Tidak Netral, Arya Wedakarna Sayangkan Sikap Perbekel Baturiti

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Genta #Pura Tanah Enggan #sulinggih #hindu bali #tabanan