Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tarian Baris di Desa Bayung Gede, Memiliki Kedudukan Istimewa, Penari Diwarisi Secara Turun-Temurun

I Putu Mardika • Selasa, 10 Juni 2025 | 03:26 WIB

Tari Baris Gede di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli
Tari Baris Gede di Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli
BALIEXPRESS.ID-Desa Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli tak hanya dikenal dengan tradisi Ari-Ari Megantung.

Tetapi juga ada memiliki sejumlah tarian sakral seperi Tari Baris Jojor, Baris Gede, Baris Bajra, Baris Presi, Baris Dadap dan Rejang.

Adat Bayung Gede, Jro Ketut Sukarta mengatakan, dalam urutan tarian, Baris Jojor menari pertama, bilamana para pamangku atau Jero Kebayan sudah siap dalam penyelenggaraan Upacara.

Baris Jojor ditarikan oleh remaja putra dengan senjata tombak. Setelah Baris Jojor selesai ditarikan, maka keluarlah Baris Gede, juga dengan senjata tombak yang lebih panjang. Selanjutnya akan menari Baris Bajra.

“Seusai Baris Bajra menari, maka keluarlah Baris Presi yang terdiri dari 2 kelompok yakni yang membawa perisai atau tamiang dan yang membawa panah,” ungkapnya.

Selanjutnya,yang membawa perisai terlebih dahulu keluar, disusul yang membawa panah yang pada akhirnya terjadi perang antar dua kelompok ini. Setelah itu keluar Baris Dadap yang gerakannya jauh lebih lambat diiringi nyanyian.

Setelah itu barulah Rejang yang ditarikan oleh penari daa bunga – remaja putri sebagai akhir serial tarian sacral mengiringi upacara.

“Untuk setiap jenis tari baris, maka di Bayung Gede jumlah penari tidak ditetapkan, namun setiap baris ini ditarikan minimal oleh 4 orang,” imbuhnya.

Setiap kelompok tarian ini berada dalam satu sekaa atau tempekan, seperti juga tempekan penabuh Gong, baik Gong Gede maupun Gong Kebyar.

Jika kelompok bersangkutan tidak bisa menarikan baris atau rejang itu dengan minimal 4 orang, yang berarti acara itu gagal, maka kelompok itu akan dikenakan sanksi, karena sudah berarti merusak upacara.

Pura Penataran di Bayung Gede, terdapat satu balai-balai yang disebut Bale Baris. Itu pertanda bahwa tari baris memiliki kedududkan yang istimewa di desa ini.

Jika rangkaian upacara akan berlangsung dengan tarian baris sebagai tarian walinya, maka upakara juga dihaturkan di Bale Baris itu yakni di langgatan balai dimaksud.

Penunjukan penari baris dilakukan oleh kelompok masing-masing. Biasanya, secara turun temurun, ketrampilan ini terwarisi.

“Misalnya seorang anak atau cucu dari seorang penari Baris Gede, maka anak atau cucunya akan secara lahirlhiah mendalami tarian ini dan ikut di dalam klompok itu,” paparnya.

Demikian juga dengan anak atau cucu sang penabuh gamelan Gong Gede. Upacara di Desa Bayung Gede berupa Pangusaban, namun diselenggarakan setelah berlangsungnya upacara Pangusaban Kadasa di Pura Batur.

Ida Bhatara di Bayung Gede lunga ke Pura Batur saat upacara Pangusaban Kadasa. Beberapa hari setelah puncak karya di Batur, Baris Bayung Gede ngaturang solah, untuk selanjutnya

“Ida Bhatara di Bayung Gede mawali ke Bayung Gede, dihaturi pamendak untuk selanjutnya katuran Pangusaban di Pura Panataran Bayung Gede,” (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Kintamani #sakral #bangli #Baris Gede #Desa Bayunggede