Tarian sakral ini tidak hanya diperntaskan dalam pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Tetapi juga hingga dadia-dadia.
Tari Rejang Lilit bukanlah sekadar pertunjukan seni biasa. Tarian ini memiliki makna spiritual yang dalam, mencerminkan rasa syukur, permohonan keselamatan, serta penghormatan terhadap alam semesta.
Menariknya, para penari Rejang Lilit terdiri dari perempuan desa lintas generasi, mulai dari gadis remaja hingga para ibu.
Mereka mengenakan busana adat Bali berupa kamen, kebaya putih, serta selendang berwarna cerah.
Penampilan mereka menciptakan vibrasi kesucian dan keanggunan, selaras dengan nuansa upacara Purnama Kedasa.
Prosesi sakral ini diawali dengan sembahyang bersama di areal Merajan Sri Nararya Kresna Kepakisan. Upacara dipuput oleh pemangku dan serati banten yang telah bersiap sejak sore hari.
Setelah rangkaian persembahyangan selesai, para penari mulai bergerak membentuk formasi melingkar, melilitkan gerakan tangan dan tubuh secara perlahan mengikuti irama gamelan gong dari sekaa gong setempat.
Gerakan dalam Tari Rejang Lilit memang tampak sederhana, namun sarat makna filosofis. Setiap langkah, putaran, dan gerak tubuh melambangkan keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Inilah yang menjadikan tarian ini tidak hanya sebagai persembahan, tetapi juga sebagai ritual penyucian jagat dan diri.
Salah satu tetua Dadya Merajan Sri Nararya Kresna Kepakisan, Made Merta, menegaskan bahwa Tari Rejang Lilit tidak hanya dipentaskan di Kahyangan Tiga, tetapi juga saat odalan besar di merajan-merajan keluarga yang tersebar di Desa Banyuseri.
“Ini sebagai bentuk pelestarian dari warisan leluhur yang tak ternilai,” ujarnya.
Menurut Made Merta, pelaksanaan tari ini wajib dilakukan saat piodalan besar di Pura Desa, Pura Dalem, dan pura-pura lain di desa.
“Purnama Kedasa dipilih karena dipercaya sebagai waktu yang penuh energi spiritual, sangat baik untuk melaksanakan upacara dan persembahan suci kepada Sang Hyang Widhi,” katanya.
Tidak hanya sebagai sarana spiritual, tarian ini juga menjadi wahana pembentukan karakter generasi muda.
Keterlibatan para remaja perempuan dalam Rejang Lilit kali ini diyakini kian menguatkan semangat untuk melestarian tarian sakral ini.
Usai pementasan Rejang Lilit, seluruh warga mengikuti persembahyangan bersama sebagai bentuk syukur atas kelancaran dan kesakralan rangkaian upacara yang telah digelar.
Warga meyakini bahwa pelaksanaan Tari Sakral Rejang Lilit mendatangkan vibrasi positif, mendukung keseimbangan alam, serta memberi perlindungan spiritual bagi desa.
“Kami melestarian tarian ini sebagai warisan para leluhur,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika