Tata cara makan ini memiliki makna spiritual yang dalam, terkait dengan menjaga kesucian tubuh dan pikiran, serta rasa hormat terhadap makanan yang diberikan oleh Tuhan. Tata cara makan ini ditujukan bagi setiap umat Hindu Bali yang ingin menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran agama.
Para pemuka agama, seperti pedanda, juga mengajarkan tata cara makan ini kepada umat yang ingin mengikuti ajaran agama dengan baik.
Dalam lontar Tutur Lebur Gangsa, disebutkan bahwa makan harus dilakukan dengan penuh kesadaran, tidak terburu-buru, dan dengan sikap hormat.
Menurut Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Klungkung, Ayu Putri Suryaningrat menjelaskan bahwa makanan yang dimakan dianggap sebagai persembahan dari Tuhan, sehingga umat harus menjaga kesopanan dan kesucian dalam melakukannya. Beberapa tata cara yang ditekankan agar senantiasa sesuai dengan etika.
Pertama, makan dengan tangan kanan karena tangan kiri dianggap tidak suci untuk makan. Kedua, Tidak makan sambil berbicara. Ketiga, Makan dengan penuh perhatian dan rasa syukur.
Ada beberapa tata cara makan yang dilarang. Pertama, makan sambil berdiri, karena secara medis makan secara terburu-buru. Kemudian makan sambil selonjoran kaki.
“Makan sambil menjilat-jilat juga dilarang, makan sambil jongkok, makan sambil berjalan juga dilarang. Artinya banyak fase makan yang dilarang,” ujarnya.
Lalu bagaimana etika makan yang benar? Makan yang baik dalam Lontar Tutur Lebur Gangsa yaitu dengan duduk bersila, makan dengan menggunakan tangan dan duduk menghadap ke timur.
“Alangkah baiknya duduk bersila menghadap ke timur menggunakan tangan. Kalau dari sisi kesehatan, tentu dengan menggunakan tangan bisa membedakan mana makanan keras, mana tulang dan makanan yang lunak,” ungkapnya.
Dalam Lontar Tutur Lebur Gangsa memang tidak menjelaskan secara langsung tentang doa dan mantram sebelum makan.
Namun, dalam lontar itu memberikan penjelasan agar senantiasa mensyukuri makanan yang akan disantap.
“Ada sujud Syukur, ketika makan makanan yang sehat, dan meyakini jika Ida Sang Hyang Widhi akan memberikan merta atau kehidupan,” paparnya.
Tata cara makan ini berlaku terutama di kalangan umat Hindu Bali yang menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini juga diterapkan di rumah tangga, pura, dan tempat-tempat lainnya di mana umat Hindu melaksanakan kegiatan makan bersama.
Tata cara makan ini berlaku setiap kali umat Hindu Bali makan, baik itu dalam upacara keagamaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Makanan yang disajikan dalam upacara juga harus diperlakukan dengan cara yang penuh kehormatan dan kesucian.
Pentingnya mengikuti tata cara makan ini adalah untuk menjaga keharmonisan antara tubuh, pikiran, dan roh.
Makanan dalam pandangan agama Hindu bukan hanya sebagai kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai bentuk persembahan dan anugerah dari Tuhan.
Oleh karena itu, makan dengan cara yang benar mencerminkan rasa syukur dan menjaga kehormatan terhadap makanan yang diberikan.
Proses makan dalam ajaran lontar ini dimulai dengan niat yang suci dan penuh kesadaran. Sebelum makan, umat disarankan untuk berdoa sejenak sebagai bentuk syukur atas makanan yang diberikan.
“Setelah selesai makan, biasanya umat juga disarankan untuk mengucapkan terima kasih atau berdoa kembali, sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan yang telah dimakan,” jelasnya.
Melalui penerapan tata cara makan yang diajarkan dalam Lontar Tutur Lebur Gangsa, umat Hindu Bali diingatkan untuk tidak hanya menjaga tubuh, tetapi juga menjaga pikiran dan spiritualitas dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal yang paling sederhana seperti makan.
“Nasihat etika makan dalam lontar Tutur Lebur Gangsa ini juga harus dilihat secara insidental dan situasi pada waktu tertentu. Maka jangan sampai mengingkari nasihat etik secara moral,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika