Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Alasam Pisang Wajib ada dalam Banten, Diyakini Melambangkan Urip, Simbol Kerendahan Hati

I Putu Mardika • Senin, 30 Juni 2025 | 03:47 WIB

Pisang menjadi sarana penting dalam ritual Hindu
Pisang menjadi sarana penting dalam ritual Hindu
BALIEXPRESS.ID-Penggunaan pisang menjadi sarana penting dalam ritual umat Hindu. Pisang sarat akan makna bahkan diulas dalam berbagai Pustaka Hindu, sehingga wajib digunakan dalam persembahan karena lambang dari doa yang terwujud dalam wujud nyata, berisi unsur alam, simbol persembahan, dan rasa tulus bhakti.

Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Buleleng, Luh Irma Susanti, M.Pd menjelaskan  di antara ragam buah dan sarana yang dipersembahkan dalam banten, ada satu buah yang nyaris tak pernah absen yakni pisang.

Ia menjelaskan, banten adalah miniatur dari Bhuwana Agung alam semesta dalam skala kecil. Setiap unsur dalam banten menggambarkan elemen kehidupan seperti tanah, air, api, udara, dan eter atau Panca Mahabhuta.

Dalam susunan buah-buahan, keberadaan pisang menjadi pengikat. Bentuk pisang yang memanjang dan padat, menjadi penopang buah lainnya.

Warnanya yang kuning keemasan atau hijau, mencerminkan kesegaran dan kematangan hidup. Pisang bisa hadir dalam berbagai jenis banten pejati, gebogan, ajuman, prayascitta, hingga banten panca yadnya.

Lontar Dewa Tattwa menyebutkan: "Sang biu nglambangin urip sane ngubengin dharma, sane ngawit ring nglaksanayang bhakti lan rasa rahayu.

“Artinya, Pisang melambangkan kehidupan yang mengitari dharma, menjadi awal dalam pelaksanaan bhakti dan keselamatan,” paparnya.

Dalam susunan banten, pisang seringkali diletakkan di antara buah-buahan lain, atau bahkan menjadi inti (paksi) dari susunan tersebut.

Filosofinya, Pisang adalah pengikat rasa dan getaran energi dari seluruh buah yang dipersembahkan.

Tanpa pisang, banten dianggap tidak sempurna, karena belum ada unsur ajeg (peneguh). Dalam ajaran Tattwa, pisang juga menyimbolkan Dewa Wisnu, pemelihara alam, dan inti dari harmoni semesta.

Dalam Lontar Sundarigama. Dijelaskan bahwa setiap penyusunan banten memiliki nilai: “Banten sane tan wenten biu, tan madaging rahayu, tan sampun ayuning pangatur.” Artinya, banten yang tanpa pisang, tidak mengandung vibrasi rahayu, dan belum sempurna susunannya.

Dalam Lontar Bhagawan Garga, disebut pula:“Biu makasami rasa, nyarengin sang buah, ring tengah i tan wicara. Banten tan mawi biu, tan saking kawisesan.

“Pisang memuat semua rasa, menemani buah lainnya, di tengah ia tak banyak bicara. Banten tanpa pisang, tiada keistimewaan,” imbuhnya.

Dengan kata lain, sambung Irma, pisang adalah simbol kerendahan hati dan kematangan batin. Ia tidak mencolok, namun menjadi pusat energi dan penyeimbang.

Pisang bukan hanya simbol dalam banten. Namun juga mencerminkan jalan hidup spiritual seorang bhakta. Pisang tumbuh tanpa berduri, memberi banyak manfaat.

Setelah berbuah, pohon pisang mati seperti yadnya yakni memberi, lalu melepas.

Buah pisang digunakan umat Hindu di Tengger saat Kasodo
Buah pisang digunakan umat Hindu di Tengger saat Kasodo

Daunnya dipakai untuk pembungkus makanan suci. Buahnya bisa dimakan oleh semua kalangan tidak diskriminatif. Artinya, pisang adalah simbol pengorbanan dan pemberian tanpa pamrih, sesuai dengan konsep yadnya sejati.

Pisang adalah buah sattvika, yang sederhana, bergizi, penuh makna, dan mudah diterima semua kalangan.

Dalam banyak gebogan banten, pisang tidak hanya ditaruh sembarangan, tetapi ditempatkan di tengah atau dasar. Ia menjadi taksu dari susunan tersebut.

“Jika pisang tidak ada, maka getaran buah lainnya menjadi kurang seimbang. Energi yang ditata melalui buah tidak memiliki pusat gravitasi spiritual,” katanya.

Tanpa pisang, Banten menjadi lempas taksu (kehilangan roh). Dalam konsep Hindu Bali, taksu tidak muncul karena bentuk, tapi karena kesadaran dan penyatuan simbol. Pisang adalah simbol penyatu itu.

Pisang menjadi elemen pertiwi yang matang dan stabil. Ia mengandung air, padat, dan hidup, menyatukan semua elemen ke dalam bentuk yang nyata.

Banten memang masih bisa dihaturkan. Tapi seperti pakaian tanpa ikat pinggang, atau rumah tanpa tiang tengah, banten tanpa pisang ibarat, Kurang harmoni, Tidak ada penyeimbang energi, Kurang menarik perhatian vibrasi niskala.

Dalam banyak tradisi, umat sering menunda persembahan jika belum ada pisang. Hal ini bukan semata karena aturan, tapi karena keyakinan bahwa niat suci harus disertai simbol suci.

Di zaman sekarang, seringkali tergoda pada bentuk banten yang mewah dari  buah import, hiasan emas, susunan tinggi. Namun tanpa niat tulus dan simbol yang benar, banten bisa kehilangan makna.

“Pisang mengingatkan kita untuk menjadi sederhana tapi bernilai, Menjadi pengikat dalam keluarga dan masyarakat, menjadi pemberi, bukan pencari pamrih. Pisang adalah cermin diri kita,” ungkapnya.

Pisang bukan sekadar buah, melainkan lambang teologis dalam tradisi Hindu. Ia tumbuh untuk memberi, bukan untuk mengambil.

Berbuah satu kali, lalu mati dalam keheningan, sambil menyisakan tunas-tunas baru sebuah simbol dari nishkama karma, tindakan tanpa pamrih.

Sebagai bagian dari filosofi, pisang mencerminkan dharma ekologis.

Tanpa merusak tanah, seluruh bagiannya dari akar hingga jantung bermanfaat bagi manusia, menunjukkan prinsip ahimsa dan efisiensi suci.

“Ia memberi tanpa sisa, regeneratif, dan tidak eksploitatif,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#lontar #dewa tattwa #Banten #hindu #pisang #penyuluh agama hindu #buleleng