Tradisi siat sambuk menjadi tradisi warisan turun-temurun Banjar Pohgending yang rutin digelar setiap satu sekali tepatnya pada hari pengerupukan yang jatuh pada tilem sasih kesanga
Tradisi siat sambuk secara harfiah memiliki terjemahan dimana kata siat berarti perang dan sambuk berarti sabut kelapa. Perang yang dimaksud ini bukanlah perang yang ditimbulkan dari perselisihan untuk memenangkan konflik, melainkan sebuah tradisi unik yang mengadopsi strategi ala perang modern yang mempertemukan dua kelompok.
Berbicara tentang historis kemunculan tradisi siat sambuk sangat sulit untuk diketahui. Tokoh Adat Pitra, I Wayan Jelas mengakatan, bahwa tradisi siat sambuk di Banjar Poh Gending tidak memiliki catatan tertulis berupa prasasti yang pasti mengenai awal mula pelaksanaannya.
Namun, berdasarkan cerita turun-temurun dari para tetua, tradisi ini mulai dijalankan setelah terbentuknya Banjar Pohgending sebagai sebuah komunitas yang terdiri dari penduduk pendatang.
Faktanya bahwa seluruh warga memiliki pura kawitan di luar Banjar Pohgending menjadi bukti bahwa mereka berasal dari luar wilayah tersebut. Meskipun demikian, tradisi siat sambuk tetap dilestarikan dan diwariskan melalui penuturan lisan dari generasi ke generasi.
Diketahui pula bahwa historis tradisi siat sambuk ini merupakan hasil improvisasi dari tradisi mabuu-buu yang pada umumnya digelar masyarakat Hindu pada hari pengerupukan dengan mengitari obor atau daun kelapa kering (danyuh) yang dibakar mengelilingi pekarangan rumah.
“Sedangkan tradisi siat sambuk, hanya saja yang dibakar disini bukanlah danyuh melainkan sabut kelapa (sambuk) yang dilemparkan oleh kelompok wong kaja dan wong kelod,” paparnya.
Kemudian pada dekade tahun 90-an sempat mengubah konsep penyelenggaraan tradisi siat sambuk dari pertempuran sabut kelapa yang dibakar menjadi parade obor yang diadakan oleh anak-anak berkeliling desa yang disertai pentongan kulkul.
Namun, banyak masyarakat menganggap bahwa dengan diubahnya tradisi siat sambuk, mereka merasa seakan-akan terdapat identitas diri yang sirna.
Masyarakat Banjar Pohgending menilai ada perasaan yang hilang. Masyarakat merasa seperti ada kekosongan saat tradisi siat sambuk tidak terselenggara.
Namun, tahun 1995 tradisi ini kembali digelar. Bahkan, saat siat sambuk dilaksanakan, ada pasukan serang yang bertanggung jawab untuk melempar sambuk kepada kelompok lawan. Serta terdapat pasukan perbekalan yang bertanggung jawab untuk menyiapkan dan mengangkut sambuk.
Tradisi siat sambuk di Banjar Adat Pohgending, Desa Pitra dilaksanakan setiap 1 tahun sekali tepatnya pada Hari Pengerupukan atau satu hari menjelang hari raya Nyepi.
Tradisi ini dilaksanakan pada sore hari (sandikala) bertepatan dengan waktu pergantian siang dan malam.
Sebelum melaksanakan tradisi siat sambuk, pemuda dan pemudi di lingkungan Banjar Adat Pohgending akan melakukan pengarakan Ogoh-ogoh terlebih dahulu mengelilingi area banjar adat.
Dalam pelaksanaan tradisi ini akan dibagi menjadi 2 kelompok pemuda yang akan berperang dengan cara saling lempar sabut kelapa yang sudah dibakar. Prosesi tradisi siat sambuk dipersiapkan jauh 15 hari sebelum Pengrupukan.
Tradisi ini dimulai menjelang sore setelah upacara pengarakan ogoh-ogoh, ketika meriam bambu yang telah dinyalakan selama sekitar 15 hari sebelum Nyepi diistirahatkan.
Menjelang sandikala, saat sabut kelapa (sambuk) mulai dibakar dan asap mengepul ke udara, tanda bahwa pertempuran Siat Geni akan segera dimulai.
Tradisi ini dipimpin langsung oleh Kelian Banjar Adat Pohgending dan dijaga oleh Pecalang Banjar Adat Pohgending untuk menghindari adanya perkelahian diluar jalannya tradisi Siat Sambuk, tradisi ini dilaksanakan selama kurang lebih 15-20 menit.
“Ketika bendesa adat memanggil para pemuda yang tergabung dalam sekehe teruna-teruni, mereka terbagi menjadi dua pasukan wong kelod, yang mewakili warga selatan jalan, dan wong kaja, yang mewakili warga utara. Kedua kelompok ini dipersiapkan untuk bertempur menggunakan sabut kelapa yang dibakar sebagai senjata,” paparnya.
Pasukan, yang hanya mengenakan kamen dengan cara "mebulet ginting", bersiap di posisi masing-masing, dipisahkan oleh meja kecil di tengah lapangan sebagai pengaman. Saat gong baleganjur mulai ditabuh, pertempuran dimulai. Pasukan saling melempar sabut kelapa yang menyala, dan suasana semakin sengit.
Setelah pelaksanaan tradisi, semua peserta akan berkumpul kembali dan nunas tirta pada pemangku adat dan kembali berkumpul, bersosialisasi dan melupakan semua emosi yang tersulut dalam perlaksanaan tradisi siat sambuk.
Pelakasanaan tradisi siat sambuk ini sangat penting bagi masyarakat Banjar Adat Pohgending, karena masyarakat banjar adat pohgending mempercayai tradisi ini sebagai penolak bala dan menetralisir energi-energi negatif di lingkungan banjar adat Pohgending.
“Tradisi siat sambuk sendiri melambangkan pertempuran antara kekuatan negatif yang diwakili oleh api dan rasa permusuhan, yang kemudian disucikan melalui prosesi perdamaian dan pembersihan diri, sehingga komunitas dapat menyambut Nyepi dengan hati yang bersih dan tenang,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika