Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Diyakini Penolak Bala, Tari Sang Hyang Penyalin di Pancasari Dipentaskan Keliling Desa, Simbol Penyucian dari Energi Negatif

I Putu Mardika • Jumat, 25 Juli 2025 | 16:52 WIB

 

Tari Sang Hyang Penyalin di Desa Pancasari jelang dipentaskan keliling desa
Tari Sang Hyang Penyalin di Desa Pancasari jelang dipentaskan keliling desa
BALIEXPRESS.ID-Seka Sanghyang Puspa Mandala Giri Sanghyang Penyalin Desa Adat Pancasari, Kecamatan Sukasada kembali mementaskan tarian Sang Hyang Penyalin pada Selasa (22/7) lalu. Prosesi mesolah dilakukan dengan keliling desa untuk menetralisir Energi negatif

Kelian seka Gede Adi Mustika menjelaskan, sebelum prosesi pementasan, terlebih dahulu diilaksanakan pesapsapan, pasupati, mesakapan dan pedudusan. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan prosesi mesolah.

Tarian Sang Hyang Penyalin merupakan tarian pra Hindu yang keberadaannya masih dilestarikan di Desa pancasari. Saat ini, tarian ini dilestarikan oleh seka sanghyang puspa mandala giri Tari Sanghyang Penyalin sebagai tarian yang bertujuan untuk menolak Bala.

“Tarian ini biasa ditarikan pada saat tilem ke enem atau upacara keagmaan. Pada lontar Manik Maya, dikisahkan tentang cerita Bhatara Siwa, mengutus istrinya Dewi Uma turun ke bumi atau mercapada,” katanya.

Konon, Dewi Uma berubah wujud menjadi seorang raksasa yang berparas sangat menyeramkan dengan sebutan Dewi Durga dan Beliau berstana di Pura Prajapati.

Baca Juga: Kronologi Pemuda Tega Habisi Bos Cengkeh di Desa Selat, Polisi Ungkap Motif Pelaku

Namun Bhatara Siwa sempat berjanji dengan istri. Bahwa, pada suatu saat kalau waktunya sudah tiba Bhatara Siwa akan mengikuti perjalanan istrinya ke bumi. Akhirnya janji itu telah tiba dimana Bhatara Siwa akan mengikuti dan menelususri perjalanan dari Bhatari Durga.

“Diceritakan turunnya Bhatara Siwa ke bumi diiringi oleh para Bala atau Buta Kala, dan sebagai ciri dari kedatangan atau turunnya Bhatara Siwa ke Bumi akan terdengar suara, seperti gonggongan anjing yang saling bersahutan serta suara burung gagak saling bersautan,” paparnya.

Hal ini diyakini sebagai pertanda telah turunnya Bhatara Siwa diiringi para Buta Kala, dan Bala iringannnya berharap akan bisa memakan manusia. Sehingga, banyak timbul wabah penyakit yang mengakibatkan banyak orang meninggal dunia.

Nah, pada saat kejadian itu lantas Bhatara Siwa bersabda kepada manusia di Bumi ini.

Apabila ada kejadian seperti tersebut agar manusia pada saat matahari menjelang terbenam supaya keluar rumah menuju atau berkumpul di balai banjar atau di suatu tempat seperti perempatan desa rame-rame, serta mementaskan atau mempersembahkan tarian "Sanghyang Penyalin".

Baca Juga: Ganggu Kinerja dan Rusak Citra Lembaga, Dua Oknum ASN Buleleng Dipecat Usai Diduga Selingkuh

Dengan tujuan setelah Bhatara Siwa dengan Bala iringannya itu menikmati tontonan Sanghyang itu akan merasa senang hatinya.

Kemudian akan menghilangkan sifat negatifnya untuk mengganggu umat manusia dan akan kembali ke sorga menjadi dewa-dewi, yang justru akan memberikan berkatnya kepada seluruh umat manusia di Bumi.

Ia menambahkan, Tarian ini dipersembahkan kepada dewa-dewi dan untuk nyomia para Bhuta Kala, khususnya saat Tilem Kanem, Tilem Kasanga di Catus Pata.

“Artinya, ritus dilaksanakan saat pacaruan untuk menetralisir kala agar tidak mengganggu manusia. Ya tujuanya untuk menolak bala,” imbuhnya.

Menurutnya, para penari tidak hanya berasal dari anggota sekeha. Adi menyebut, para pengiring dari penyalin ini boleh siapa saja. Tetapi syaratnya harus berjodoh. “Kalau tidak mejodo, maka rotannya tidak akan bergerak,” imbuhnya.

Kedua penyalin itu, sebut Adi Mustika, memang rutin diganti. Namun harus tetap melalui prosesi sakral.

Mulai dari proses nunas rotannya di hutan, wajib menggunakan upacara. Waktu penggantiannya pun tidak boleh sembarangan, yakni bertepatan dengan Soma Kliwon Pemacekan Agung.

Baca Juga: Terlibat Skandal Perselingkuhan, Dua Oknum ASN Sekretariat DPRD Buleleng Dipecat

“Selama ini penyalin distanakan di Gedong Simpen, Kantor Kepala Desa Pancasari. Kami meyakini yang berstana adalah widyadara-widyadari yang merupakan tapakan dari Ida Betara Taksu ring Dalem Dasar Pancasari,” tuturnya.

Adi menyebut, ngiringang Sang Hyang Penyalin bertujuan untuk menyomia bhuta demi keharmonisan alam. Bahkan, jika tidak disolahkan, Desa Pancasari pun mengalami grubung yang mengakibatkan kebrebehan.

“Hewan piaraan banyak mati tak jelas, kambing, sapi mati semua. Kejadiannya dulu tahun 2006. Sehingga setelah rutin ditarikan, kejadian seperti itu, astungkara, tidak terulang kembali. Karena Bhuta Kala sudah disomya sehingga tidak meminta tumbal,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika