I Nyoman Sunarya dari Balai Arkeologi Denpasar dalam hasil risetnya menemukan puluhan situs tinggalan budaya masa lampau yang tersebar di kawasan Pecatu, Jimbaran, hingga Uluwatu. Temuan tersebut mengungkap peradaban lama yang berakar pada tradisi lokal dan spiritualitas Hindu Bali.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah keberadaan Goa Selonding di kawasan Pecatu. Gua ini diyakini sebagai tempat pertapaan kuno yang masih dianggap sakral oleh masyarakat setempat. Di dalamnya terdapat ruangan kecil yang dipercaya sebagai tempat semedi.
Goa Selonding juga berkaitan erat dengan mitos keberadaan keris pusaka dan dipercaya sebagai tempat peristirahatan tokoh-tokoh spiritual masa lampau. Sampai kini, gua ini masih digunakan dalam upacara adat tertentu oleh warga sekitar.
Tak jauh dari situ, ditemukan pula Gua Karang Boma 1 dan 2, yang terletak di tebing karang pantai selatan. Gua ini diduga kuat digunakan sebagai tempat pertapaan atau pelindungan diri di masa lalu, dengan struktur batu alami yang masih utuh.
Gua Batu Pageh, yang berada di antara Pantai Padang-padang dan Labuan Sait, juga mencerminkan pola hunian prasejarah. Di sekitar gua ini ditemukan fragmen gerabah dan sisa-sisa aktivitas manusia purba.
Selain tinggalan berupa gua, wilayah Badung Selatan juga kaya akan pura kuno yang menyimpan nilai arkeologis tinggi. Salah satunya adalah Pura Luhur Uluwatu, yang dibangun di atas tebing tinggi menghadap Samudera Hindia.
Pura Luhur Uluwatu tidak hanya menjadi ikon pariwisata Bali, tapi juga pusat spiritual penting. Berdasarkan catatan sejarah, pura ini diyakini didirikan pada abad ke-11 oleh Mpu Kuturan, tokoh penyebar ajaran Siwa-Buddha di Bali.
Tak jauh dari Uluwatu, berdiri Pura Dalem Kulat, yang menurut penelitian adalah bagian dari sistem pura kahyangan tiga di desa adat setempat. Pura ini memiliki pelinggih tua dan jejak struktur batu yang menunjukkan usianya yang cukup tua.
Di kawasan Batu Belah, terdapat Pura Batu Belah yang menyimpan artefak arkeologi seperti batu berukir dan fragmen gerabah. Letaknya yang tersembunyi di balik semak belukar membuatnya jarang dikunjungi, meski nilai sejarahnya tinggi.
Penelitian juga menemukan Pura Pangeleburan Labuan Sait, yang berada tak jauh dari pantai dan sering dikaitkan dengan praktik penyucian (melukat). Pura ini menjadi saksi relasi antara manusia dan laut dalam kosmologi masyarakat Bali.
Pura lain yang tak kalah penting adalah Pura Batu Dihi atau dikenal juga sebagai Pura Dalem Selem. Pura ini dikenal dengan pemujaan unsur “gelap” atau aspek kegelapan dalam keseimbangan kosmos Hindu Bali.
Pura Dalem Bangsing terletak di tengah kawasan pemukiman dan dikelilingi hutan bambu. Di tempat ini, peneliti menemukan struktur batu dan arca sederhana yang menunjukkan bentuk pemujaan lokal terhadap roh leluhur.
Keberadaan Pura Beji di wilayah Jimbaran menjadi penanda pentingnya unsur air dalam praktik spiritual masyarakat. Pura ini digunakan untuk mengambil tirtha (air suci), dan memiliki struktur pancuran kuno dari batu.
Pura Parerepan Ida Bhatara Luhur, yang masih aktif digunakan oleh masyarakat adat, diyakini sebagai tempat pemujaan roh leluhur raja atau tokoh penting masa lalu. Arsitekturnya menunjukkan perpaduan gaya Bali klasik dan lokal.
Peneliti juga mencatat Pura Puseh Pecatu sebagai pusat pemujaan yang erat hubungannya dengan sistem pemerintahan desa adat. Pura ini berada di tengah desa dan menyimpan pelinggih berbahan batu padas yang menunjukkan usia ratusan tahun.
Tak kalah penting adalah Pura Gunung Payung, yang terletak di tebing tinggi dekat Pantai Gunung Payung. Di tempat ini, ditemukan juga batu-batu megalitik yang menjadi petunjuk kemungkinan adanya praktik religi pra-Hindu.
Terakhir, Pura Dalem Balangan menjadi situs suci yang menandai batas spiritual wilayah adat. Pura ini berdiri dekat Pantai Balangan dan masih digunakan dalam berbagai upacara penting seperti piodalan dan melasti.
Keseluruhan temuan ini menunjukkan bahwa wilayah Badung Selatan bukan hanya kawasan wisata modern, tetapi juga landskap arkeologi spiritual yang menyimpan sejarah panjang peradaban Bali.
Pola penyebaran situs menunjukkan adanya sistem pemukiman tradisional yang berpola terpusat pada pura dan sumber air. Gua-gua digunakan sebagai tempat pertapaan, sedangkan pura berfungsi sebagai pusat aktivitas keagamaan dan sosial.
Dalam perspektif arkeologi, situs-situs ini mencerminkan kesinambungan budaya dari masa prasejarah hingga era Hindu-Bali. Struktur batu, arca, dan sistem penempatan pura mengikuti pola kosmologis yang khas.
Tim peneliti menekankan pentingnya pelestarian situs-situs ini, terutama di tengah gencarnya pembangunan pariwisata. Beberapa situs bahkan terancam hilang akibat alih fungsi lahan dan tekanan pembangunan vila serta hotel.
Sebagian besar situs belum ditetapkan sebagai cagar budaya resmi, meskipun telah memenuhi syarat dari sisi usia dan nilai sejarah. Langkah pendataan dan pengamanan dianggap perlu segera dilakukan oleh pemerintah daerah. (dik)
Editor : I Putu Mardika