Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Dalem Susunan Wadon: Jejak Mpu Kuturan di Tanah Serangan, Ada Prosesi Pamendakan saat Pujawali

I Putu Mardika • Selasa, 5 Agustus 2025 | 04:01 WIB

Pura Dalem Susunan Wadon di Desa Serangan, Denpasar
Pura Dalem Susunan Wadon di Desa Serangan, Denpasar
BALIEXPRESS.ID-Pura Dalem Susunan Wadon yang terletak di Desa Adat Serangan, Denpasar, merupakan peninggalan sakral yang erat kaitannya dengan kehadiran tokoh besar agama Siwa-Budha, Mpu Kuturan, di Bali.

Diperkirakan didirikan pada akhir abad ke-10, pura ini menyimpan warisan spiritual dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha dikenal sebagai tokoh penting yang datang ke Bali pada masa pemerintahan Raja Udayana Warmadewa dan permaisurinya Gunapriya Dharma Patni sekitar tahun 993 Masehi. Kehadiran beliau turut membentuk struktur keagamaan dan sistem pemujaan yang tersisa hingga kini.

Salah satu kontribusi besar Mpu Kuturan adalah merancang konsep purusa-pradana, yang menjadi dasar pendirian Pura Dalem Sakenan (Susunan Lanang) dan Pura Dalem Susunan Wadon sebagai pasangan spiritual.

Konsep ini mencerminkan kesatuan antara unsur maskulin dan feminin dalam tatanan kosmologi Bali.

Dalam sejarahnya, pembangunan dan renovasi Pura Dalem Susunan Wadon telah melalui dua tahap utama.

Tahap pertama dimulai pada tahun 1990 oleh Dinas Purbakala yang merenovasi struktur candi. Kemudian dilanjutkan pada tahun 1993 secara bertahap hingga 2003.

Pengembangan besar-besaran dimulai tahun 1993 hingga 2023. Proyek ini mencakup penataan kawasan jaba tengah dan jaba sisi, pembangunan candi bentar, wantilan, pelinggih-pelinggih, serta pelinggih Gusti Ayu Jegeg.

Meski pembangunan terus dilakukan, masyarakat bersama pengempon dari Puri Agung Gelogor Denpasar tetap menjaga keaslian titik-titik kesucian pura. Setiap renovasi dilakukan tanpa menghilangkan warisan arsitektur dan spiritual yang ada.

Pura ini diempon oleh sekitar 300 kepala keluarga dari Puri Agung Gelogor serta penyungsung dari berbagai wilayah yang rutin tangkil ke Pura Dalem Susunan Wadon.

Mereka berperan aktif dalam setiap pelaksanaan upacara besar, termasuk pemendakan.

Bangunan inti di pura ini cukup lengkap. Di antaranya adalah pelinggih utama berupa candi kurung (sthana Ida Bhatari Susunan Wadon), pelinggih Ratu Gede Dalem Ped, Ratu Gede Blembong, Pancer Jagat, Dukuh Sakti, Dalem Segening, Ratu Niang Sakti, dan Ratu Ayu Mas Jegeg.

Baca Juga: Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Hindu Soroti Polemik MDA, Sampaikan 10 Petisi ke DPRD Bali

Menurut Jero Mangku Gede Dalem Kepala, A.A. Ketut Wirya asal mula berdirinya Pura Susunan Wadon berhubungan dengan kisah spiritual.

Disebutkan bahwa Ida Bhatari Susunan Wadon keluar dari Pura Dalem Sakenan karena merasa tersinggung akibat suaminya, Ida Bhatara Dalem Sakenan, mengambil wangi atau madu (istri baru).

Karena peristiwa itu, Ida Bhatara Dalem Sakenan membangun sthana khusus bagi istri pertamanya di lokasi Pura Dalem Susunan Wadon saat ini, sebagai bentuk penghormatan.

Pola ini mencerminkan nilai kesetaraan dan penghormatan dalam sistem pemujaan Bali kuno.

Candi kurung di kedua pura ini memiliki arsitektur yang identik, namun arah hadapnya berlawanan.

Di Pura Dalem Sakenan, pelinggih menghadap ke barat, sedangkan di Susunan Wadon menghadap ke timur.

“Saat upacara, para penyungsung di masing-masing pura saling bersembahyang menghadap satu sama lain sebagai simbol saling menghormati,” katanya.

Salah satu upacara penting adalah ngerebeg, yang menjadi simbol pertemuan spiritual antara keluarga besar pura. Upacara ini digelar di Pesamuan Agung Pura Dalem Sakenan, dihadiri oleh unsur purusa (Dalem Sakenan) dan pradana (Dalem Susunan Wadon).

Uniknya, untuk menghadirkan Ida Bhatari Susunan Wadon yang disebut "ngambul", hanya Ida Bhatara Dalem Kepala, putra beliau yang dapat memendak (menjemput).

Beliau dipercaya sebagai satu-satunya yang mampu membuat Ida Bhatari bersedia “lunga” atau hadir dalam upacara.

Baca Juga: Duh, Kakak Walikota Denpasar Berpulang Setelah Nyiramin Layon Ibu

Pura Dalem Kepala yang terletak di Desa Kepaon, Denpasar Selatan, menjadi pusat pemendakan. Prosesi ini melibatkan rangkaian perlengkapan upacara seperti umbul-umbul, tedung, lelontek, dan gambelan baleganjur.

Pemendakan dilaksanakan dua kali setahun pada hari Saniscara Kliwon (Kuningan) dan Redite Umanis Kuningan (Manis Kuningan).

“Prosesi dimulai dari Pura Puseh dengan ritual “hanasinuryak” atau sorak ramai sebagai tanda persetujuan spiritual,” ungkapnya.

Setelah itu, Ida Bhatara Dalem Kepala menuju Pura Susunan Wadon dan malam harinya dipendak ke Pesamuan Agung Pura Dalem Sakenan. Upacara dilakukan dengan menghaturkan pedatengan, peras, suci, dan berbagai jenis banten lengkap.

Malam itu juga, sarana pemendakan dihaturkan kepada sejumlah dewa-dewi dan Bhatara-Bhatari dari berbagai pura penting seperti Gunung Agung, Batur Sakti, Besakih, dan Petingan. Usai persembahan, Ida Bhatari dibawa ke Pesamuan Agung.

Hari berikutnya, prosesi pengerebegan dimulai. Ida Bhatara dan para pengiring membawa umpon-umpon mengitari area pura tiga kali. Ritual ini diiringi gamelan dan tari pendet sebagai bentuk penghormatan.

Selanjutnya, dilakukan upacara tabuh agung dan tari kincang-kincung sebagai penutup. Tari ini diyakini sebagai sarana menolak bala dan memohon keselamatan bagi umat dan alam sekitar.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Apresiasi Fraksi-Fraksi DPRD Badung, Sampaikan Jawaban Pemerintah Atas Ranperda RPJMD, Pajak Daerah dan KUA-PPAS Perubahan 2025

Prosesi diakhiri dengan nyolahan tombak, yaitu menusukkan tombak ke caru panca sanak. Setelah itu, semua Bhatara “napak” (menginjak) caru sebagai bentuk restu sebelum kembali ke payogan masing-masing.

Krama  yang ngayah dalam pemendakan ini mencakup penyungsung Pura Dalem Kepala, Pura Dalem Sakenan, dan Pura Dalem Susunan Wadon, serta masyarakat adat dari Desa Pemogan dan Kepaon.

"Para pengemong utama berasal dari Puri Agung Gelogor dan Puri Kesiman. Tanpa kehadiran Ida Bhatara Dalem Kepala, Ida Bhatari Susunan Wadon diyakini tidak akan berkenan hadir di Pesamuan Agung," tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Pura Dalem Susunan Wadon #serangan #hindu #denpasar #pura #mpu kuturan