Seluruh prajuru adat ikut terlibat untuk bahu membahu menuntaskan tradisi ini, mulai dari tahap persiapan hingga puncak acara. Uniknya, krama yang Menek Medesa wajib menyiapkan Nama Adat atau Pungkusan.
Gede Widiarta selaku penyarikan mengatakan pada saat krama yang Menek Medesa sudah berada di areal jeroan atau utama mandala Pura Dalem, mereka wajib membawa canang sari yang berisi Canang Kojong dan pungkusan (nama yang digunakan diadat).
Canang sari ini nantinya akan diambil satu persatu oleh ulun desa, untuk nantinya ditaruh di piyasan untuk diaturkan kemudian dilanjutkan dengan persembahyangan bersama.
“Persembahyangan ini adalah memohon keselamatan dan kelancaran dalam proses pelaksanaan menek medesa yang sedang berlangsung,” kata Gede Widiarta.
Persembahyangan mempersembahkan banten pecingkrem, canang sari berisi canang kojong dan nama pungkusan (nama digunakan diadat) yang dipuput oleh jro mangku dalem atau pengempon Pura Dalem.
Usai persembahyangan dilanjutkan dengan pemberian Canang Kojong yang diambil dari canang sari yang dibawa sesuai dengan Pungkusan atau nama adat.
Canang Kojong tersebut harus dipegang dengan baik karena memiliki simbol jiwa permana dari krama (warga) yang bersangkutan. Canang kojong ini dipercayai kesakralanya.
“Jika canang kojong tersebut jatuh maka itu merupakan pertanda krama (warga) yang bersangkutan akan mengalami musibah, setelah itu dilanjutkan dengan penyampaian sesimpedan,” paparnya.
Sesimpedan disampaikan ketika krama (warga) yang mengikuti Menek Medesa. Terutama usai melaksanakan persembahyangan dan sudah memegang canang kojong yang diberikan oleh ulun desa.
Sesimpedan berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh oleh krama (warga) yang sedang menikuti proses menek medesa yakni berbunyi:
“Sedurung cening memargi jagi pacang nulud dapuh nunas linggih cening di bale panjang di pura bale agung sake wante setonden cening lakar memargi sautin petaken kakine ken adaan cening ke segarane molihang be gede ken cening ke gunung molihan anti utawi paku”
Baca Juga: Wanita Belanda Diduga Ditipu Rp 1 Miliar di Bali, Kuasa Hukum Sebut Kasus Mandek di Polisi
Artinya: Sebelum kamu menuju Pura Desa melaksanakan nulud dapuh di bale panjang tetapi sebelum kamu akan berjalan jawab pertanyaan Kakekmu pergi ke segara mendapatkan ikan besar Atau kamu Pergi ke gunung mendapatkan anti dan paku.
Sesimpedan tersebut memiliki makna tujuan dari krama (warga) mengikuti Menek Medesa. Misalnya pergi ke segara mendapatka ikan besar yang berarti krama (warga) tersebut mencapai atau menjadi kebayan gede (pengelingsir).
Sedangkan makna simbolik untuk pergi ke gunung mendapatkan anti atau paku berarti krama (warga) tersebut bisa menjadi pengganti jro mangku.
Selesai penyampaian Sesimpedan tersebut dilanjutkan dengan perjalanann krama menuju Pura Desa dengan memegang canang kojon. Nah, saat dalam perjalanan menuju Pura Desa ada pantangan yang tidak boleh dilakuan oleh krama yang sedang Menek Medesa yakni tidak diperbolehkan berhenti ditengah jalan.
Krama juga pantang menoleh ke kanan atau ke kiri dan hanya fokus berjalan menuju Pura Desa. Ketika dalam perjalanan terdapat hambatan atau canang kojong yang dibawa jatuh maka menandakan krama yang bersangkutan akan mengalami musibah. Sesampainya Pura Desa langsung dilanjutkan dengan nulud dapuh di bale panjang bedangin
Nulud Dapuh yakni mendorong canang kojong di sisi kauh (barat) atau kangin (timur) bale dawa bedangin sesuai dengan linggi orang tua masing-masing. Mendorong mulai dari pojok kelod (utara) sampai ke kaja (selatan) bale dawa bedangin.
Kemudian canang kojong tersebut disimpan didalam lubang yang terdapat pada sisi sudut bale dawa bedangin. Ketika sudah selesai lubang tersebut akan ditutup mengunakan bata oleh ulun desa.
Baca Juga: Densus 88 Tangkap ASN Kemenag, Diduga Terlibat Terorisme: Ini Respons Kemenag
“Penyimpanan canang kojong yang memiliki simbol jiwa permana dari masing-masing krama (warga) tersebut menandakan tempat linggih masing-masing krama (warga) pada saat menjadi bagian dari desa enam dasa,” ungkapnya.
Selesai penyimpanan canang kojong tersebut akan dilanjutkan dengan persebahyangan bersama di Pura Desa. Persebahyangan ini dipuput oleh jro mangku gede atau pengempon Pura Desa.
Pelaksanaan persebahyangan ini tidak hanya diikuti oleh krama (warga) yang mengikuti menek medesa saja tetapi diikuti juga oleh orang tua dari masing-masing krama (warga).
Persembahyangan ini adalah memohon agar krama (warga) yang mengikuti prosesi menek medesa ini langgeng dalam hubungan rumah tangga dan panjang umur serta sebagai ungkapan puji syukur atas kelanjaran kelancaran dalam pelaksanakan menek medesa yang sudah berlangsung.
Setelah melaksanakan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan penyampaian sesimpedan dari jro mangku gede. Sesimpedan ini sama seperti yang telah disampaikan di Pura Dalem sebelumnya.
Kemudian, pada saat akan meningalkan Pura Desa krama (warga) akan mundur tiga langkah ke belakang sebelum berbalik badan dan meningalkan Pura Desa untuk menganti pakain.
Tahap akhir dalam pelaksanaan tradisi menek medesa yakni setelah sesimpedan oleh Jro Mangku Gede di Pura Desa.
Setelah Sesimpedan tersebut selesai maka serangkaian proses tradisi menek medesa telah selesai dilaksanakan. Krama yang mengikuti Menek Medesa akan mengganti pakaian dan akan dilanjutkan dengan ngayah serangkaian piodalan Sabha Dalem.
Bagi yang sudah melaksanaan tradisi Menek Medesa ini sudah menjadi kasinoman baru yang mendapatkan tugas khusus atau ngayah selama upacara piodalan yang berlangsung di Desa Lemukih seperti sabha dalem, sabha gede dan piodalan lainya selama 1 tahun.
Setelah itu, disebut dengan kasinoman lama yang bertugas mendampingi kasinoman baru sampai tilem kesanga, barulah nantinya disebut dengan desa nyamping,
Kemudian dari desa nyamping akan menjadi desa enam dasa (berjumlah 60 orang) jika dari salah satu anggota dari desa enam dasa (berjumlah 60 orang) meninggal dan digantikan oleh yang berada di desa nyamping sesuai urutan menek medesa paling lama.
“Terkecuali Ulun Desa yaitu Bau dan Kebayan ketika meninggal diganti secepatnya diambil dari anggota Desa Enam Dasa (berjumlah 60 orang) tersebut berdasarkan urutan Menek Medesa,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika