Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ritual Ruwat Bumi di Pura Pucak Padang Dawa:  Ada Prosesi Nangiang Tapakan Ida Bhatara Nawa Sanggha  

I Putu Mardika • Minggu, 10 Agustus 2025 | 23:41 WIB

 

Tapakan Dewata Nawa Sanga di Pura Pucak Padang Dawa
Tapakan Dewata Nawa Sanga di Pura Pucak Padang Dawa
BALIEXPRESS.ID-Pura Pucak Padang Dawa yang berlokasi di Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali hingga kini masih setia dengan tradisi Ruwat Bumi sebagai simbol menjaga keharmonisan alam.

Tidak sulit menjangkau pura ini. Dari Kota Denpasar melalui jalur/arah jalan raya Denpasar-Singaraja berjarak lebih-kurang 40 kilometer ke arah utara hingga di depan kantor Kecamatan Baturiti.

Dari Kota Kecamatan Baturiti kemudian menyusuri jalan desa menuju arah ke barat lebih-kurang 5 kilometer, bisa diakses dengan menggunakan beragam moda transportasi, baik motor atau mobil, karena jalan beraspal hingga di depan Pura Pucak Padang Dawa.

Lingkungan Pura Pucak Padang Dawa merupakan alam yang sangat sejuk berupa sawah ladang dengan dataran tinggi pegunungan Padang Dawa. Bangunan Pura Pucak Padang Dawa menghadap ke arah selatan, sehingga prosesi normatif memasuki tempat suci ini dilakukan dari arah selatan menuju ke arah hulu bagian utara.

Penataan mandala pura berorientasi pada sistem kosmis terdiri atas tri mandala, yaitu tiga ruang meliputi jeroan, jaba tengah, dan jaba sisi.

Baca Juga: Bank BPD Bali Raih Penghargaan PR Popular Companies Awards 2025

Utama mandala sebagai ruang dalam Pura Luhur Pucak Padang Dawa terdapat beberapa bangunan di antaranya Meru, Pelinggih Taksu, Pesimpenan, Gedong, Paruman Agung, Bale Panjang, Bale Saji dan Panggungan.

Di sisi sebelah samping kiri madia mandala berdiri bangunan Pura Penataran Agung Pucak Padang Dawa; Pura Dalem Purwa Pucak Padang Dawa; Pura Puseh Agung Pucak Padang Dawa; dan Pura Tegal Suci Pucak Padang Dawa.

Setiap pura tersebut memiliki bangunan Bale Panjang disebut Bale Paruman Agung yang berfungsi untuk tempat barong-barong dan rangda di tempatkan sebelum menginjak prosesi inti ritual Paruman Barong atau upacara ruwat bumi.

Pengempon Pura Luhur Pucak Padang Dawa, I Gede Suryawan mengatakan Upacara Ruwat Bumi, dimaknai sebagai suatu penyucian alam semesta dari segala bentuk ancaman mara bahaya dari perjalanan sang waktu (kala).

“Upacara ruwat bumi mengandung makna agar senantiasa terwujud keseimbangan yang harmonis antara alam manusia dengan alam semesta, baik vertikal maupun horizontal,” jelasnya.

Upacara ini dilangsungkan setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali dan diselenggarakan secara bertahap dalam bentuk kecil (nista), sedang (madia), maupun besar (utama).

Baca Juga: Mesin Gasifikasi Plasma di TOSS Center Karangdadi Hampir Rampung, Golkar Dorong Pemkab Atasi Kendala Listrik dan Akses Jalan

Ritual ini merupakan paruman Barong. Uniknya, ada prosesi Nangiang atau membangunkan tapakan Barong Nawa Sanggha dari tempat penyimpanan melalui proses upacara ritual, kemudian setelah dirias, di tempatkan kembali di Bale Pepelik Pura Pucak Padang Dawa.

Turunnya tapakan Barong Nawa Sanggha menandakan bagian awal pelaksanaan upacara ruwat bumi, kemudian menuju transisi bagian inti atau puncak pelaksanaannya.

“Jika dikaitkan dengan siklus tri kona, ritual nangiang ini dapat disejajarkan dengan utpeti, yaitu membangunkan kekuatan spiritual dewata, kemudian spirit itu diagungkan agar bersemayam di tapakan Barong Kedingkling sebagai kekuatan Dewata Nawa Sanggha,” sebutnya.

Petapakan barong yang disungsung di Pura Pucak Padang Dawa adalah Barong Blasblasan atau sering pula disebut Barong Kedingkling atau Nongkling. Sebutan Nongkling ini diduga diambil dari kebiasaan orang mendengar suara gamelan yang mengiringi.

Barong ini berwujud tokoh-tokoh Wayang Wong dalam cerita Ramayana dan dipercaya oleh masyarakat penyungsung sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa dalam bentuk Dewata Nawa Sanggha.

“Kesembilan tapakan barong itu menggambarkan situs pengider-ider bhuana agung selaku penguasa ruang dan arah mata angin jagat raya yang sesungguhnya sebagai manifestasi,” sebutnya.

Baca Juga: Saling Lapor Kasus Penganiayaan, Kepala Desa di Buleleng dan Warga Jadi Tersangka: Begini Kejadiannya

Sembilan tokoh tapakan Ida Bhatara Nawa Sanggha atau pralingga Barong Blasblasan yang distanakan di Pura Pucak Padang Dawa sesuai warna, aksara, dan letak serta kuasanya masing-masing.

Semisal, Tapakan Ida Bhatara atau tokoh Anoman, warna tapel putih, sebagai perwujudan Sang Hyang Iswara, menggunakan senjata bajra berbentuk genta, dengan gambaran aksara sang, menghadap ke timur dan menguasai arah timur.

Tapakan Ida Bhatara atau tokoh Menda dengan warna muka merah muda, perwujudan Sang Hyang Maheswara, dengan senjata dhupa sebagai unsur api, gambaran aksaranya nang, menghadap tenggara dan menguasai arah tenggara.

Tapakan Ida Bhatara dengan tokoh Anggada warna muka merah, perwujudan Sang Hyang Brahmâ, menggunakan senjata gada berwujud pentung, gambaran aksaranya bang, menghadap selatan dan menguasai arah selatan.

Tapakan Ida Bhatara atau tokoh Sugriwa warna mukajingga, sebagai perwujudan Sang Hyang Ludra, dengan senjata mosala, dan gambaran aksaranya mang, letaknya menghadap baratdaya penguasai arah baratdaya.

Tapakan Ida Bhatara atau tokoh Sangut warna mukanya berwarna kuning, perlambang Sang Hyang Mahadewa, menggunakan senjata nagapasa berupa pecut ularnaga, gambaran aksaranya tang, letaknya menguasai arah barat.

Baca Juga: Tragis! Siswa SD Tusuk Leher Teman Pakai Gunting hingga Tewas, Diduga Terpengaruh Game dan Youtube: Detik-detik Penangkapan Jadi Sorotan

Tapakan Ida Bhatara Anila warna mukanya berwarna wilis, sebagai perlambang atau perwujudan Sang Hyang Sangkara, menggunakan senjata angkus, dengan gambaran aksara cing, letaknya menguasai arah barat laut.

Tapakan Ida Bhatara atau tokoh Delem, dengan warna muka kehitam-hitaman, merupakan perlambang Sang Hyang Visnu, menggunakan senjata cakra, dan gambaran aksaranya ang, letaknya menguasai arah utara.

Tapakan Ida Bhatara tokoh Rahwana dengan warna muka abu-abu, sebagai perwujudan Sang Hyang Sambu atau Sunia, lambang alam kosong menggunakan senjata tombak berkepala tiga (tri sula), dengan gambaran aksara wang, menguasai arah timur laut, arah menuju alam sorga (sorga loka).

“Tapakan Ida Bhatara Rahwana dengan warna muka mancawarna (lima warna), sebagai perwujudan Sang Hyang Widhi Wasa, menggunakan senjata teratai (padma), gambaran aksaranya ing dan yang, letaknya di tengah atau pusat,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#dewata nawa sanga #pura #Tapakan #Pura Pucak Padang Dawa