Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung, Luh Sri Kusuma Dewi, S.Fil.H, M.Ag, menjelaskan Di Bali ada prinsip yang sangat dijunjung oleh masyarakat Bali yakni “saling asah, asih, asuh, sagilik saguluk, salunglung sabayantaka, paras paros sarpanaya.
Secara keseluruhan mengajarkan pentingnya kebersamaan, gotong royong, saling menghargai, dan kasih sayang dalam kehidupan bersmasyarakat, itu sebabnya umat manusia harus saling mengasihi tanpa memandang adanya perbedaan
Dalam agama Hindu juga mengenal konsep etika dasar yakni Tri Kaya Parisudha yang terdiri dari manahcika berarti berpikir yang baik dan benar, wacika berarti berkata yang baik dan benar serta kayika berarti perbuatan yang baik benar.
Perundungan itu terjadi ketika sesuatu yang diucapkan atau dilakukan secara berlebihan, yang menyebabkan salah satu pihak merasa tersakiti.
“Jika dalam satu kelompok semua orang tertawa itu artinya tertawa bersama, tetapi jika dalam kelompok semua orang tertawa dan satu orang menangis itu artinya ketidakseimbangan situasi emosional, ada yang senang atas penderitaan orang lain,” jelasnya.
Dalam kitab Sarasamuccaya.129 menyebutkan bahwa: Hinangatariktangan vidyahinan vigarhitan, Rupadravinahimamsca sattvahinamsca naksipet
Artinya “Janganlah melakukan penghinaan kepada orang yang lumpuh, kepada orang yang memiliki jari tangan atau kaki cacat, kepada yang tidak terpelajar, yang terhukum, yang jelek, yang miskin, dan lemah”.
“Dari sloka tersebut dapat disimpulkan bahwa jika kita sebagai manusia tidak ingin disakiti oleh orang lain, baik dari segi perkataan dan perbuatan maka perlakukanlah orang lain selayaknya memperlakukan diri sendiri,” tegasnya.
Mengingat kelahiran sebagai manusia merupakan kelahiran yang utama karena hanya manusialah yang memiliki Tri Pramana (Bayu, Sabda, Idep), yang memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang salah, mana yang keliru dan mana yang baik (Wiweka).
Sama halnya dalam konsep Tat Twam Asi (salah satu mahawakya/ucapan agung dalam Chandogya Upanishad), Tat artinya itu atau dia, Twam artinya engkau atau kamu, dan Asi artinya adalah. Konsep Tat Twam Asi ini menekankan kesatuan antara diri (atman) dengan realitas tertinggi (brahman).
Semua makhluk hidup merupakan percikan kecil (atman) dari Brahman sehingga kedudukan kita semua sama, hanya saja kita terbelenggu oleh Awidya (kegelapan atau ketidaktahuan), sehingga tidak mengetahui bahwa kita semua adalah sama.
“Kita sebagai manusia juga harus ingat dengan adanya hukum sebab akibat yang disebut karma phala dari perbuatan yang kita laksanakan,” paparnya.
Karma phala terdiri dari tiga jenis. Pertama, Sancita Karma Phala, yakni hasil perbuatan di masa lampau yang dinikmati di kehidupan sekarang.
Kedua, Prarabda Karma Phala yaki hasil perbuatan di masa sekarang yang dinikmati di kehidupan sekarang.
Ketiga, Kryamana Karma Phala yakni hasil perbuatan di masa sekarang yang akan dinikmati di masa mendatang.
Kemudian, dalam kitab sarasamuscaya.152 menyebutkan bahwa: “Na hi pranat priyataram loke kincana vidyate Tasmaddayam narah kuryyad yathatmani tatha pare” yang artinya Tidak ada yang lebih berharga dari hidup. Oleh sebab itu, seseorang harus bersikap baik kepada orang lain seperti pada dirinya sendiri.
Jadi, jika kita melakukan perundungan atau bully hari ini, kelak anak dan cucu juga akan merasakan hal yang sama. Jika hasil perbuatan itu langsung dinikmati hari ini, mungkin salah satunya akan mendapat tindakan pendisiplinan dari petugas yang berwenang dan mendapat sanksi sosial di masyarakat.
“Jika tidak ingin merasakan hal tersebut, marilah “perlakukan orang lain seperti memperlakukan diri sendiri” sebagaimana yang telah disebutkan dalam Kitab Sarasamuccaya.152,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika