Tetapi juga keberadaan Situs Candi Budha di kawasan itu. Situs suci agama Budha ini sudah ada sejak Abad ke 8. Bahkan, di situs ini terdapat Ganesha, yang menunjukkan adanya harmonisasi atau sinkretisme Siwa-Buddha di Bali Utara.
Menurut Perbekel Kalibukbuk, Ketut Suka, S.Sos, sejarah penemuan Candi Budha Kalibukbuk diawali pada tahun 1994 di tanah tegalan milik A.A. Ngurah Sentanu. Penemuan berawali dengan penggalian sumur ditanah tegalan miliknya.
“Saat menggali banyak ditemukan tumpukan benda-benda aneh kemudian dilaporkan pada Balai Arkeologi Denpasar. Setelah ekskavasi disimpulkan benda-benda itu adalah bekas suatu bangunan suci umat Budha,” paparnya.
Kemudian dilakukan proses pemugaran yang selesai pada tahun 2009. Candi ini berbentuk stupa dengan 3 buah candi yaitu 2 Candi Perwara dan 1 Candi Induk.
Secara kosmologis candi ini terdiri dari 3 bagaian yaitu kaki candi (kamadhatu), badan candi (rupadhatu) dan atap candi (arupadhatu).
Setiap bagian candi memiliki makna-makna simbolis yaitu kaki candi melambangkan dunia disaat manusia dipenuhi hawa nafsu.
Badan candi melambangkan manusia mulai meninggalkan keduniawian dan atap candi melambangkan manusia telah memutuskan hubungan dengan keduniawian.
“Candi induk memiliki bentuk eksagonal dan memiliki ruangan yang berfungsi sebagai tempat persembahyangan. Atap candi berbentuk stupa dengan dikelilingi oleh stupa-stupa kecil diempat penjuru mata angin,” sebutnya.
Candi perwara berbentuk persegi dan pada atap candi berbentuk stupa. Letak candi dibangun berjajar arah barat timur, Candi Induk berada ditengah dengan diapit 2 Candi Perwara disebelah barat dan timur.
Candi ini dibangun menghadap ke selatan diatas tanah berbentuk persegi panjang dengan ukuran 29 x 19 meter.
Candi ini dibangun dari bahan dasar Bata yang sering disebut Bata tipe Majapahit dengan ukuran 40 x 20 x 10. Candi Induk memiliki ukuran tinggi 12 meter dengan diameter dasar candi sebesar 7 meter.
Kedua Candi Perwara memiliki ukuran yang sama yaitu tinggi 5 meter dan lebar 2,7 meter. Disitus ini selain ditemukan fondasi candi juga ditemukan berbagai bentuk Stupika, Materai, Kereweng, Keramik dan Uang Kepeng yang memiliki arti religius yang tinggi.
Pada awalnya candi ini tidak mendapat persetujuan untuk dipugar oleh dinas purbakala nasional karena minimnya temuan pada situs, namun mengingat pentingya situs ini maka candi ini dipugar walaupun bahan dasarnya sebagian besar buatan sekarang.
Proses ekskavasi dilakukan dari awal ditemukan tahun 1994 sampai tahun 2000 kemudian dipugar dari tahun 2000 sampai tahun 2009.
Keunikan dari candi Budha kalibukbuk yang pertama adalah bahwa kompleks Candi Kalibukbuk menghadap ke arah tenggara.Biasanya arah candi menghadap ke utara. Sementara Candi Budha menghadap ketenggara hal ini dapat diketahui karena pada induk candi terdapat tangga yang berada di sisi tenggara.
Keunikan Kedua, biasanya relief candi menggunakan relief cerita pewayangan, dengan mengambil alur cerita Ramayana dan patung Dewa yang secara umum yaitu Siwa ataupun Wisnu.
Tetapi pada peninggalan Candi Budha dihias dengan motif sulur-suluran dan relief Ghana dengan posisi jongkok, kedua tangan diangkat ke atas di samping kepala seperti posisi menahan beban di atasnya.
Dari sisa-sisa unsur dekoratif tersebut menghasilkan rekontruksi bentuk candi utama berupa stupa dihias dengan relief Ghana berada di antara lantai hiansan relief dan bagian atas kaki candi.
Keunikan candi Budha yang beikutnya adalah berbentuk stupika dengan sudut-sudut simetris yang sangat jelas.
Kemudian ada batu- batu kecil yang menyerupai sebuah pagar yang hanya terdiri dari sebuah batu saja. Padahal biasanya Candi itu berbentuk stupika dengan garis yang hampir tidak Nampak sama sekali,
Disebelah candi Budha terdapat pohon kelapa yang tidak umum ditemukan pada wilayah lain.
Menurut Ketut Suka, pohon kelapa itu disebut dengan Pohon Kelapa Rangda, karena ranting bakal buah yang dalam Bahasa bali disebut pangan dan kloping tumbuh dari sebagian batangnya, demikian pula memiliki daun yang sangat lebat dan sangat kuat.
Bahkan daun, kloping maupun pangan yang sangat keringpun sangat sulit untuk jatuh karena sangat kuatnya.
Kelapa ini sangat sulit berbuah, jikapun berbuah biasanya hanya sebutir atau dua butir dan tidak pernah jatuh.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, buah dan daun dari pohon kelapa ini memiliki kegunaan untuk kegiatan yang memiliki nilai magic,
Keunikan lainnya adalah Candi Budha bangunan yang menghadap kearah tenggara, hal ini sangat berkaitan dengan kemudian dibangunnya pelinggih Majapahit yang berlokasi diarah tenggara dari candi Budha ini.
Hal tersebut membuktikan bahwa ada kaitan yang sangat erat antara candi Budha dengan Pura Majapahit yang menurut kesaksian dari Kelian Desa adat menyatakan bahwa, Pura Majapahit itu sebenarnya ingin dibangun diwilayah Denpasar dan tempat lain.
“Tetapi pengempon Pura mendapat pawisik agar membangun Pura Majapahit di lokasi saat ini, yaitu berdekatan dari candi Budha dan berada diarah Tenggara sesuai dengan arah dari Candi Budha tersebut,” ungkapnya.
Di sisi lain, Stupa di Candi Kalibukbuk yang menggunakan atribut Siwa, hanya dapat dimungkinkan apabila masyarakatnya mengembangkan toleransi.
Pembangunan Candi Kalibukbuk sebagai harmonisasi unsur Buddha dan Siwa (Hindu) mencerminkan sikap toleransi yang tinggi di antara pemeluknya, bahkan telah terjadi sinkretisme dan membuat dua ajaran tersebut melebur menjadi aliran Siwa-Buddha.
“Kini, Candi Kalibukbuk berfungsi sebagai tempat pemujaan, baik bagi umat Buddha maupun Hindu,” pungkasnya. (dik)