BALIEXPRESS. ID- Setiap enam bulan sekali, masyarakat Bali merayakan Tumpek Bubuh atau Tumpek Wariga, hari ketika pohon-pohon dan tanaman diberi bubuh, olahan tepung beras, sebagai ungkapan bhakti dan rasa syukur. Bagi masyarakat tradisional, ini bukan sekadar ritual, melainkan penegasan bahwa tumbuhan adalah saudara satu kosmos.
Dalam filosofi Tri Hita Karana, hubungan harmonis antara manusia dan alam (palemahan) adalah pilar kehidupan, dan Tumpek Bubuh menjadi momen sakral untuk mengingatkan kembali akan tanggung jawab itu. Hal tersebut dijelaskan oleh Ida Bagus Gede Paramita, Dosen Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan.
Disebutkan bahwa kini, Pemerintah Provinsi Bali mencanangkan Teba Modern, sebuah gerakan yang sesungguhnya menyambung napas dari kearifan lama. Teba, halaman belakang rumah orang Bali tempo dulu, dulunya berfungsi sebagai lumbung pangan mini dan laboratorium ekologis keluarga. Di sana tumbuh pohon buah, tanaman obat, sayuran, dan di situ pula limbah organik diproses menjadi pupuk alami.
Modernisasi dan alih fungsi lahan telah membuat banyak teba hilang atau berubah fungsi. Melalui Teba Modern, fungsi itu dihidupkan kembali: masyarakat diajak menanam pohon di pekarangan demi penghijauan, sekaligus membuat lubang biopori untuk mengolah sampah organik rumah tangga.
Keduanya, Tumpek Bubuh dan Teba Modern, bertemu dalam satu benang merah: penghormatan pada alam yang diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Dalam Tumpek Bubuh, kita memberi sesaji pada tanaman; dalam Teba Modern, kita memberi kehidupan melalui pohon baru dan tanah yang subur berkat kompos dari biopori. Lubang biopori yang dibuat di pekarangan bukan hanya menelan sampah organik, tetapi juga menjadi saluran resapan air yang menjaga kelembapan tanah dan menyediakan nutrisi bagi tanaman.
“Bayangkan jika setiap rumah di Bali memiliki dua hingga empat lubang biopori yang aktif diisi sampah dapur setiap hari. Bayangkan pula setiap pekarangan menumbuhkan minimal satu pohon produktif, mangga, kelapa, nangka, atau kelor dan beberapa tanaman obat atau sayuran,” paparnya.
Pada hari Tumpek Bubuh, selain berdoa, warga bisa memeriksa kelembapan tanah, menambah kompos, atau memangkas tanaman. Ritual menjadi kalender perawatan ekologi, dan pekarangan kembali menjadi pusat kehidupan berkelanjutan.
Tentu, ada tantangan yang perlu diwaspadai. Gerakan ini bisa berakhir hanya sebagai seremoni penanaman pohon tanpa tindak lanjut, atau sekadar lubang biopori yang dibiarkan kosong. Karena itu, keterlibatan komunitas sangat penting: banjar bisa menjadi koordinator kegiatan, sekaa teruna membantu kerja lapangan, PKK mengelola sampah organik, dan pemangku memberi penanda waktu perawatan lewat kalender upacara.
“Jika Teba Modern dijalankan konsisten dan terintegrasi dengan nilai Tumpek Bubuh, maka gerakan ini bukan hanya proyek lingkungan, tetapi juga pembaruan komitmen budaya. Setiap pohon yang tumbuh dan setiap tanah yang subur akan menjadi doa yang ditanamkan ke bumi,” pungkas Gus Paramita.*
Editor : Putu Agus Adegrantika