Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tirtha dalam Berbagai Lontar: Diperoleh Lewat Pedanda dan Pelinggih, Gunakan Mantram  

I Putu Mardika • Rabu, 3 September 2025 | 21:47 WIB

 

Pura Tirta Pancoran Solas, di Kintamani Kabupaten Bangli menjadi salah satu pura selain sebagai tempat melukat juga tempat untuk nunas tirta.
Pura Tirta Pancoran Solas, di Kintamani Kabupaten Bangli menjadi salah satu pura selain sebagai tempat melukat juga tempat untuk nunas tirta.
BALIEXPRESS.ID-Tirtha menjadi salah satu sarana yang vital digunakan pada Umat Hindu dalam menunjang upacara Yadnya. Tirtha berfungsi sebagai sarana penglukatan atau pemarisudha dan wangsuh pada yang diperoleh dari berbagai proses panjang.

Sarati Banten, Jro Ketut Utara mengatakan, tirta disebutkan dalam berbagai pustaka suci. Seperti Lontar Panti agama tirtha, disebutkan tirtha ngaran amertha, yang artinya tirtha memberi kehidupan.

Dalam Lontar Widi Sastra, dijelaskan jika tirta menyebabkan pikiran baik (idep suci), Prilaku teladan (ambek rahayu) dan berbicara penuh kesejukan (sabda menak).

Tirtha juga disebutkan sebagai air yang sudah disakralisasikan. “Proses sakral yang dilakukan bertujuan untuk memberikan unsur nilai spiritual,” kata Utara.

Dikatakan Utara, secara pemahaman tirtha diyakini oleh umat memiliki kekuatan spiritual. Karena secara proses diperoleh dari dua cara. Pertama dengan dimantrai oleh Pendeta atau orang yang disucikan.

Tirtha ini masih dianggap penglukatan atau pembersihan terhadap diri seseorang, maupun alat-alat dan sesajen yang akan dipergunakan dalam suatu upacara.

Cara kedua tirta diperoleh dengan dimohon di suatu pelinggih atau tempat yang diangap suci. Tirtha semacam ini dianggap sebagai anugrah karena kesucian atau kekuatan spritualnya diyakini berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai manifestasi-Nya yang dipuja pada pelinggih atau tempat bersangkutan.

Jro Utara mengatakan, tirtha yang dibuat oleh sulinggih (Dwijati) disebut juga Sang Diksita khususnya untuk tirtha pembersihan.

Sehingga disebut dengan tirtha Griya karena diperoleh dari seorang Sulinggih. Ada juga tirtha yang didapat melalui memohon (nuur) oleh Pemangku, Pemangku Dalang Balian.

Baca Juga: Rumah Warga di Sampalan Klod Dibobol Maling, Uang Tunai Rp6 Juta Raib

Dalam tradisi Hindu di Bali, tirta diyakini berfungsi sebagai penyucian. Semisal bebantenan sebelum dipersembahkan terlebih dahulu harus disucikan secara simbolis dengan tirtha pembersihan yang dibuat oleh Pendeta.

Kewajiban mensucikan upakara atau bebantenan yang akan dipersembahkan dalam upacara yadnya dengan tirtha seorang Pendeta atau Sang Rumage Diksita, termuat dalam Lontar Tutur Gong Besi.

Dalam Lontar Tutur Gong Besi dijelaskan: “saluwir bebanten yadnya matirthakaryan Padanda Putus tan ketampi aturaniya”.

Jika diterjemahkan artinya: segala sesaji atau upakara yadnya kalau tidak disucikan dengan tirtha yang dibuat oleh Pendeta utama, tidak akan diterima persembahannya

“Oleh sebab setiap upakara yadnya atau sesaji sebelum digunakan sebagai sarana persembahan dipercikan tirtha penglukatan,” kata pria asal Kubutambahan ini.

Menurutnya, tirtha penglukatan adalah tahap awal untuk membebaskan segala sesuatu dari kekotoran fisik dan spritual.

Kekotoran yang ditimbulkan dari pikiran (upadrawa) dan perkataan (ujar ala), disucikan dengan tirta.

Baca Juga: Sosok Ojol yang Temui Gibran dan Prabowo Jadi Sorotan, Netizen Beri Sindiran Menohok

Menariknya, Sang Diksita atau Pendeta disaat membuat tirtha penglukatan umumnya beliau menggunakan mantram Apsu Dewa.

Mantra mini yang ditujukan keada Dewi Gangga untuk menyucikan segala yang berhubungan dengan hal-hal negatif.

Di samping mantram yang digunakan untuk ngelukat segala sesajen yaitu: om sidhi guru sarasat, om sarwa wighnaya namah, sarwa klesa, sarwa roga-sarwa satru-sarwa papa winasa ya namah swaha

“Pada hakekatnya bertujuan sama dengan mantram sehingga upacara dapat terlepas dari godaan atau hambatan, penyakit, cacat dan papa supaya lenyap. Sehingga upacara berjalan lancar tanpa ada halangan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, pembuatan tirtha oleh Pemangku dibuat melalui memohon kehadapan Dewa Siwa dengan mengucapkan saa Mangku. “Tirtha yang dipercikkan pada tubuh, diminum dan dibasuhkan di muka merupakan simbolisasi pembersihan bayu, saba dan idep,” sebutnya.

Keutamaan tirtha dalam menopang pelaksanaan ritual juga tertuang dalam Lontar Siwa Gama. Dikatakan Jro Ketut Utara dalam Lontar Siwa Gama disebutkan “kirang banten atuku dening mantra, kirang mantra atuku dening adnyana, kirang adnyana atuku dening tirtha”

Baca Juga: Pasca Kalah Praperadilan, Pengacara Togar Situmorang Sang Panglima Hukum Ditahan Polda Bali

“Kalau melihat sumber sastra tersebut jelas sekali bagaimana sesungguhnya posisi tirtha, karena makna yang terkandung dalam konteks penerapan prosesi yadnya sangat penting. Bahkan jika tirtha tidak ada, maka dianggap pelaksanaan yadnya tidak bisa tuntas,” paparnya.

Penggunaan tirtha juga semakin maksimal jika diiringi dengan lantunan mantra. Saat Tirta dipercikan ke ubun-ubun sebanyak tiga kali sambil mengucapkan mantra dalam hati (japa), mantranya :Ong Hrang Hring Sah Parama Siwa Merta Ya namah Swaha, memiliki makna memohon peleburan dosa agar dikaruniai kebahagiaan lahir dan bathin.

Kemudian saat Minum tirta sambil mengucapkan doa di dalam hati. Minum pertama mantra :Ong Atma Paripurna ya namah swaha, minum kedua mantra : Ong Jiwata Paripurna ya namah swaha, minum ketiga, mantra Ong Sarira Paripurna ya namah Swaha. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#lontar #yadnya #sastra #hindu #tirtha #Widi