Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Soma Ribek Momen Menjadikan Uang sebagai Sarana Prema, Menyembuhkan Luka Jiwa di Tengah Maraknya Bunuh Diri

I Putu Mardika • Senin, 8 September 2025 | 23:14 WIB

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi saat memberikan dharma wacana
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi saat memberikan dharma wacana
BALIEXPRESS.ID-Setiap enam bulan sekali tepatnya soma wuku Sinta umat Hindu di seluruh Nusantara merayakan Hari Soma Ribek, yang dalam tradisi Hindu Bali merupakan momen untuk memuliakan padi, kesejahteraan, dan juga uang sebagai sarana hidup.

Namun perayaan ini bukan sekadar ritual menyimpan hasil bumi atau harta, melainkan sebuah pengingat spiritual agar kita memperlakukan uang bukan sebagai tuan, tetapi sebagai pelayan Dharma.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi, S.Sos, M.Pd menjelaskan pembelajaran nilai kehidupan sangat bergantung dari bagaimana kita memandang arti dari dua hal yang sangat krusial.

Yakni antara kebutuhan dan keinginan,di tengah era digital saat ini, sering menyaksikan fenomena yang memprihatinkan, semakin banyak orang yang kehilangan pegangan hidup, bahkan memilih jalan bunuh diri.

Data global maupun nasional menunjukkan kasus bunuh diri meningkat di Bali, tentu sangat miris, Bali yang merupakan pulau impian, pulau penuh kedamaian, pulau dengan seribu Dewa, pulau penuh keindahan menyimpan takbir yang memilukan.

Ironisnya, kasus bunuh diri yang mencuat dengan fenomena pemberitaan yang viral dari kasus bunuh diri terutama di kalangan generasi muda yang merasa tertekan oleh standar sosial, ekonomi, maupun tuntutan media digital.

Fenomena tentang pandangan dari beberapa kalangan yang menganggap uang adalah segalanya, sehingga ketika ekonomi runtuh, jiwa pun ikut runtuh.

“Uang dalam Perspektif Dharma dan Prema tentu mengisyaratkan setiap umat untuk mampu memilah nilai uang dari sudut Dharma dengan dilandasi oleh etika yang tepat dalam menggunakan uang,” jelasnya.

Pengetahuan yang memuliakan fungsi uang dalam ajaran Hindu, uang disebut sebagai Dana  bukan tujuan, tetapi alat untuk melakukan Dharma. Kitab suci mengingatkan kita,

Dalam Bhagawadgita disebutan: yat karoṣi yad aśnāsi yaj juhoṣi dadāsi yat, yat tapasyasi kaunteya tat kuruṣva mad-arpaṇam

“Apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan, lakukanlah itu sebagai persembahan kepada-Ku.”

Artinya, termasuk uang yang kita miliki. Bila digunakan dengan Premacinta kasih yang tulus dan universal uang menjadi suci, membawa kebahagiaan, dan mampu menyembuhkan luka jiwa.

Irma menyebut, pesan moral yang memberi ruang uang dalam Prema berarti, Melayani sesama dengan berbagi dan menolong tanpa pamrih, Melayani para dewa dengan yadnya dan menjaga kesucian alam.

Upaya Melayani leluhur dengan Pitra Yadnya dan keluarga dengan kasih dan Melayani diri sendiri bukan untuk keserakahan, tetapi untuk tumbuh dalam Dharma.

Dalam Mahābhārata, Anuśāsana Parva 165.40, ditegaskan: Ṛṇa-trayaṁ pratibaddho ’yaṁ yadā jīvenābhipadyate

Artinya, Sejak lahir, manusia telah terikat oleh tiga utang (ṛṇa). Tiga utang itu adalah Deva Ṛṇa, Ṛṣi Ṛṇa, dan Pitṛ Ṛṇa. Inilah pengingat bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Uang yang kita miliki adalah titipan untuk membayar utang suci ini.

Irma menyebut, Bila umat Hindu melupakan Tri Ṛṇa, maka kita akan merasa hidup hampa meskipun memiliki harta. Kekosongan batin inilah yang kerap mendorong orang jatuh pada depresi hingga bunuh diri.

Hal itu dapat dilihat dari beberapa fenomena yang sedang marak dan viral. Kemajuan yang serba digital dapat diakses dari manusia yang mudah terjebak pada ilusi kebahagiaan.

Media sosial menampilkan kesuksesan palsu yang diukur dengan uang. Generasi muda merasa gagal bila tidak mampu mengikuti standar konsumtif. Tekanan ekonomi diperparah oleh perbandingan diri yang tak sehat.

Hari Soma Ribek hadir sebagai penyeimbang, mengingatkan bahwa uang seharusnya menghidupi jiwa, bukan membunuhnya, dengan Prema, uang bisa menjadi jembatan untuk saling menopang, bukan dinding pemisah yang menjerumuskan dalam kesepian.

“Pesan Spiritual yang memberi sesuluh kehidupan bukan hanya paham akan arti dari hari Soma Ribek yang terpenting adalah langkah nyata dan implementasi dalam bentuk tindakan dan aksi nyata berupa pelayanan yang sangat mulia, yakni dengan memandang,” jelasnya.

Menurutnya, Uang bukan tujuan, tetapi sarana pelayanan. Prema adalah obat jiwa. Uang yang dipakai dalam cinta kasih akan melahirkan kebahagiaan sejati. “Tri Ṛṇa adalah pengendali. Dengan ingat pada hutang suci ini, kita tak akan kehilangan arah walau berada dalam tekanan hidup,” paparnya.

Irma menyebut, Sebagaimana Bhagavad Gītā XVI.1–3 menegaskan bahwa sifat ilahi salah satunya adalah dānaṁ (suka memberi). Memberi dengan kasih dapat menjadi obat bagi orang lain, bahkan bagi luka batin kita sendiri.

Melalui perayaan Hari Soma Ribek, marilah kita renungkan kembali, Apakah uang kita sudah menjadi alat pelayanan dalam Prema.

“Nah, Apakah rejeki kita sudah menyentuh sesama, sehingga mampu mencegah jiwa-jiwa rapuh memilih jalan bunuh diri? Mari kita jadikan uang bukan sekadar simbol materi, melainkan jalan untuk membayar Tri Ṛṇa dan menebar cinta kasih (Prema) dengan demikian, hidup kita akan berisi, bermakna, dan penuh kedamaian,” ajaknya.

Motivasi Spiritual untuk membuka kesadaran diri dapat dijabarkan bahwa Uang yang dipakai untuk diri sendiri hanya akan habis, tetapi uang yang dipersembahkan dalam cinta kasih akan berlipat menjadi berkah dan penyembuh jiwa.

“Soma Ribek mengingatkan bahwa uang bukanlah tuan yang memperbudak, melainkan pelayan Dharma yang menghidupi jiwa dengan kasih.” Tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika