Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bencana Alam dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Bhama Kertih Jaga Keharmonisan Bumi lewat Guru Piduka

I Putu Mardika • Sabtu, 13 September 2025 | 00:38 WIB
Potret ruko yang hancur diterjang bankir Tukad Badung. (Bali Express/Agung Bayu)
Potret ruko yang hancur diterjang bankir Tukad Badung. (Bali Express/Agung Bayu)

BALIEXPRESS.ID-Naskah lontar kuno Bali tidak hanya berisi tuntunan ritual dan filsafat hidup, tetapi juga menyimpan kearifan dalam menghadapi ancaman bencana alam. Lontar Roga Sanghara Bhumi dan Bhama Kertih menjadi dua pustaka penting yang sejak berabad-abad lalu menekankan pentingnya keseimbangan kosmik untuk menjaga kelestarian dunia.

Dalam lontar Roga Sanghara Bhumi, dijelaskan bahwa kehancuran dunia dapat terjadi karena murkanya dua kekuatan kosmik: Bhatara Druwaresi yang berstana di atas langit, dan Sanghyang Anantasana yang berada di Sapta Petala. Kedua kekuatan ini digambarkan sebagai penjaga harmoni semesta yang bila terganggu akan menimbulkan malapetaka.

Akademisi Pendidikan Agama Hindu dari Institut Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, menyebut bahwa lontar ini memuat tanda-tanda kehancuran bumi.

“Api membesar, bhuta pisaca menjelma manusia, dunia kacau, manusia kehilangan kesadaran, hingga permusuhan antar-saudara. Bahkan mereka yang menjalani dharma justru mendapat celaan,” paparnya.

Selain itu, fenomena kelahiran abnormal pada hewan juga disebut sebagai pertanda kehancuran. Misalnya, anjing bersetubuh dengan sapi atau babi, kerbau bersetubuh dengan sapi, dan munculnya hewan salah timpal.

Di samping itu, gempa bumi kerap terjadi, mantra tidak lagi manjur, racun merajalela, serta bumi dipenuhi kekotoran.

Untuk menjaga kerahayuan bumi, lontar tersebut mengingatkan raja atau pemimpin agar mempersembahkan guru piduka.

Persembahan ini ditujukan kepada Bhatara Putrajaya di Gunung Besakih, Dewa Ulun Danu di danau, serta Bhatara Baruna di laut. Ketiga tempat itu diyakini sebagai orientasi kosmik Bali yang harus dijaga kesuciannya.

“Roga Sanghara Bhumi secara jelas berfungsi sebagai alarm bagi pemimpin. Pesannya sederhana: keseimbangan jagat harus terus diupayakan, baik bhuana agung (alam semesta) maupun bhuana alit (manusia),” tegas Murniti.

Pandangan serupa juga tertuang dalam lontar Bhama Kertih. Bedanya, teks ini lebih banyak memberi pedoman pembangunan, mulai dari rumah tangga hingga tempat suci. Namun keduanya sama-sama menekankan harmoni antara manusia dan alam.

Murniti menjelaskan, umat Hindu di Bali sesungguhnya memiliki banyak ajaran untuk menjaga ekosistem. Selain Tri Hita Karana, dikenal pula ajaran Sad Kertih yang dirumuskan dalam Purana Bali. Keenamnya adalah Atma Kertih, Samudra Kertih, Wana Kertih, Danu Kertih, Jagat Kertih, dan Jana Kertih.

Atma Kertih menekankan penyucian roh (atma) dari belenggu Tri Guna. Umat Hindu melaksanakan hal ini melalui upacara Pitra Yadnya, mulai dari ngaben, mamukur, hingga ngelinggihang Dewa Hyang.

Namun, penyucian atma hanya mungkin dilakukan bila tempat penyucian itu sendiri dalam keadaan bersih dan suci.

Dari sinilah ajaran Atma Kertih berkaitan erat dengan Samudra Kertih. Laut dipandang sakral, sebagai tempat pelarungan abu jenazah sekaligus lokasi pengelukatan untuk membersihkan diri dari mala. Maka, menjaga kebersihan laut menjadi kewajiban spiritual.

Sayangnya, kondisi kini justru berbalik. Banyak pantai di Bali tercemar limbah rumah tangga maupun industri.

“Biota laut dan sumber hayati pun rusak. Fakta ini sangat bertolak belakang dengan ritual melabuh gentuh di segara untuk memohon kepada Dewa Baruna agar dunia tetap harmoni,” kata Murniti.

Selain laut, hutan juga mendapat perhatian penting lewat konsep Wana Kertih. Leluhur Bali membangun Pura Alas Angker di tengah hutan agar kawasan itu dipandang sakral. Kata “angker” bermakna tenget atau penuh aura spiritual, sehingga masyarakat enggan merusak hutan.

Dalam kitab Pancawati, ada tiga cara melestarikan hutan: Mahawana, Tapawana, dan Sriwana. Mahawana menekankan fungsi hutan sebagai penyimpan air. Tapawana menjadikan hutan tempat orang suci bertapa atau bermeditasi. Sementara Sriwana menjelaskan hutan sebagai sumber kemakmuran.

Namun kini, fungsi hutan Bali banyak terganggu. Penebangan liar, alih fungsi hutan menjadi pemukiman, hingga pembangunan vila untuk pariwisata menggerus daya tahan alam. Akibatnya, banjir dan kekeringan sering melanda wilayah yang dulu aman karena hutan berfungsi sebagai daerah tangkapan air.

Konsep Danu Kertih juga tidak kalah penting. Danau sebagai sumber air tawar harus dijaga kelestariannya. Di setiap danau biasanya berdiri Pura Ulun Danu, tempat ritual mekelem atau menenggelamkan hewan korban. Sayangnya, danau-danau di Bali kini mengalami sedimentasi parah hingga menyebabkan luapan air yang merugikan warga.

Kertih berikutnya adalah Jagat Kertih, yakni menjaga keharmonisan sosial. Leluhur menerjemahkannya dengan mendirikan Desa Pakraman, lengkap dengan Tri Kahyangan yang menjadi pusat spiritual dan sosial masyarakat.

Yang terakhir, Jana Kertih, menekankan pembentukan manusia yang peka dan sadar lingkungan. Ajaran ini menjadi penutup yang menegaskan bahwa upaya menjaga jagat raya tidak hanya bersifat kosmik, tetapi juga individual.

Menurut Murniti, jika ajaran Sad Kertih benar-benar dijalankan, Bali tidak hanya kuat secara spiritual tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana. “Sad Kertih adalah fondasi kearifan lokal yang mestinya menjadi pedoman mitigasi bencana di era modern,” pungkasnya.

Lontar-lontar kuno Bali sesungguhnya telah mengajarkan pencegahan dini terhadap bencana alam. Hanya saja, praktik nyata di lapangan sering jauh dari nilai-nilai luhur tersebut. "Dari laut yang tercemar, hutan yang digunduli, hingga danau yang rusak, semuanya menunjukkan tantangan besar bagi Bali menjaga harmoni alamnya," pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #lontar #naskah kuno #Roga Sanghara Bhumi