Dalam momentum yang bertepatan dengan perayaan Hari Pariwisata Dunia (World Tourism Day/WTD), nama seorang jurnalis senior, Djoko Moeljono, mencuri perhatian publik. Ia tercatat sebagai insan media pertama di Bali yang dianugerahi ITLS Award 2025 – Circle Excellent of IHGMA Bali oleh Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DPD Bali.
Penghargaan tersebut diserahkan bersama 11 tokoh dari berbagai bidang yang dinilai memiliki kontribusi nyata bagi perkembangan pariwisata. Dengan capaian ini, Djoko Moeljono menorehkan sejarah baru karena peran jurnalis yang biasanya berada di balik layar pemberitaan kini mendapatkan panggung pengakuan di level industri.
Sebagai editor senior Bali Tribune, Djoko menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi mendalam atas penghargaan yang diterimanya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini bukanlah semata prestasi pribadi, melainkan juga pengakuan atas peran media dalam mendukung pariwisata Bali.
“Kami di dunia media berusaha konsisten mendukung kemajuan pariwisata melalui penyampaian informasi yang jujur dan konstruktif kepada masyarakat. Penghargaan ini menjadi motivasi agar kami semakin maksimal dalam berkontribusi,” ucapnya, Minggu (28/9).
Selain Djoko Moeljono, penghargaan ITLS Award 2025 juga diberikan kepada sejumlah figur yang dinilai berkontribusi besar di bidangnya masing-masing. Mereka datang dari beragam latar belakang, mulai dari kementerian, pemerintahan, akademisi, hingga tokoh adat, budaya, dan lingkungan.
Nama-nama seperti Ni Made Ayu Marthini, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, AA Ari Dwipayana, Koordinator Staf Khusus Presiden RI 2019–2024, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, turut masuk dalam daftar penerima.
Tokoh lain yang juga mendapatkan penghargaan adalah Rektor ITBM Bali Ismoyo Sumarlan, akademisi Universitas Udayana Prof. I Nyoman Darma Putra, serta Ketua Yayasan Pesraman Gurukula Bangli I Wayan Arsada. Tidak ketinggalan, Prof. I Gde Pitana sebagai pakar pariwisata, I Gusti Rai Ari Temaja selaku tokoh lingkungan, CEO PT Jimbaran Hijau Putu Agung Prianta, maestro seni tari Prof. I Wayan Dibia, serta Perbekel Desa Sulangai I Nyoman Sunarta turut diapresiasi.
Menurut Ketua IHGMA Bali, Komang Artana, penghargaan tahunan ini merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang telah memberikan dedikasi luar biasa dalam membangun pariwisata Bali.
Ia menekankan bahwa ajang ITLS 2025 dirancang tidak hanya untuk memberikan apresiasi, tetapi juga sebagai wadah pembelajaran, diskusi, dan penguatan visi bersama dalam menghadapi tantangan global.
“Kami ingin memastikan bahwa kontribusi mereka tidak hanya dikenal dalam lingkup lokal, tetapi juga tercatat dalam sejarah pembangunan pariwisata berkelanjutan di Bali,” ujarnya.
Selama dua hari penyelenggaraan, ITLS 2025 mengusung tema The Future of Hospitality & Tourism: Embracing Responsible & Inclusive Growth. Tema ini dipilih untuk menjawab kebangkitan pariwisata pasca pandemi sekaligus memosisikan sektor ini sebagai motor pemulihan ekonomi dunia.
Baca Juga: Layanan Pertanahan Berikan Dampak Nyata terhadap Penambahan Nilai Ekonomi di Indonesia
Acara dibuka oleh perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Ketut Yadnya, yang menyampaikan bahwa IHGMA Bali telah berperan penting dalam mendukung program pemerintah meningkatkan kualitas SDM pariwisata. Menurutnya, forum ini bukan sekadar konferensi, tetapi juga bentuk komitmen jangka panjang untuk mencetak tenaga profesional berdaya saing global.
Ketua panitia, Milka Sitorus, menambahkan bahwa ITLS diharapkan menjadi tradisi tahunan yang mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri pariwisata. Acara ini, kata Milka, dirancang sebagai landasan strategis bagi lahirnya pemimpin baru yang memiliki kompetensi modern dan visi keberlanjutan. Dengan demikian, ITLS bukan hanya forum diskusi, melainkan juga ruang pembekalan bagi generasi muda agar siap menghadapi lanskap pariwisata global.
Berbagai program unggulan juga digelar untuk memperkuat kapasitas para profesional, antara lain Hospitality Professional Workshops yang membahas manajemen pendapatan hotel, pemasaran, pengelolaan makanan dan minuman, serta strategi tambahan pendapatan. Di sisi lain, Tourism Debate Competition mempertemukan mahasiswa sekolah perhotelan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis dan komunikasi efektif.
Tidak kalah menarik, sesi Tourism Leaders Talk menghadirkan pakar internasional dan nasional seperti Terence Wee dari Singapura, Woon Chet Choon dari Malaysia, Yoga Iswara dari Indonesia, hingga Winston Hanes dari Amerika Serikat yang mewakili Archipelago International. Kehadiran pembicara global ini memberikan perspektif berharga tentang kepemimpinan dalam industri perhotelan dan pariwisata dunia.
Ketua IHGMA Bali, Komang Artana, menegaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, terutama dalam hal pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan, pembangunan infrastruktur tangguh, serta inovasi ramah lingkungan.
Baginya, pariwisata tidak bisa hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi harus memerhatikan keberlanjutan sosial dan ekologi. “Kami ingin menumbuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas dalam bisnis, tetapi juga peduli pada keberlanjutan,” jelasnya.
Khusus penghargaan yang diterima Djoko Moeljono, publik menilai hal itu sebagai simbol pentingnya kolaborasi antara media dan sektor pariwisata. Kehadiran jurnalis dalam daftar penerima penghargaan menegaskan bahwa informasi publik merupakan bagian vital dari ekosistem pariwisata.
Tanpa kerja media, pesan pembangunan tidak akan tersampaikan dengan baik, sementara kritik konstruktif dari jurnalis juga menjadi kontrol sosial yang membantu industri tetap berada di jalur yang tepat.
Dengan semangat itu, ITLS 2025 tidak hanya menjadi ajang berbagi gagasan, tetapi juga ruang kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, tokoh adat, hingga media.
Konvergensi ini diharapkan mampu mencetak generasi baru pemimpin pariwisata yang berwawasan global, berpijak pada kearifan lokal, dan mampu menjawab tantangan zaman dengan strategi inklusif. (dik)
Editor : I Putu Mardika