Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Didirikan sejak 2024, Sekolah Adat Pedawa Sukses Hidupkan Tiga Tarian Rejang yang Mati Suri Hampir 50 Tahun

I Putu Mardika • Kamis, 20 November 2025 | 22:19 WIB

 

Proses revitalisasi tari rejang yang mati suri di Pedawa selama 50 tahun dan dipelajari lewat Sekolah Adat
Proses revitalisasi tari rejang yang mati suri di Pedawa selama 50 tahun dan dipelajari lewat Sekolah Adat
BALIEXPRESS.ID-Satu tahun sudah Sekolah Adat Manik Empul berdiri di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Meski tergolong muda, namun sekolah ini perlahan mampu menunjukkan kontribusinya dalam pelestarian budaya. Buktinya, sekolah ini mampu menghidupkan tiga tarian rejang yang sudah mati suri selama 50 tahun.

Sekolah Adat ini memang diinisiasi oleh tokoh-tokoh Adat Pedawa. Salah satunya adalah akademisi Undiksha Wayan Sadyana. Ia bahkan terlibat aktif dalam perumusan kurikulum yang digunakan untuk pembelajaran sekolah Adat.

Sadyana menjelaskan pendirian sekolah adat dilakukan pada Oktober 2024 lalu. “Kami sepakat mendirikan sekolah adat denega bekerja sama dnegan Yayasan Wisnu dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara bersepkat untuk membuat sekolah Adat Manik Empul,” kata Sadyana.

Manik berarti intisari, permata, berlian. Sedangkan empul itu berarti cerminan Pedawa berbasis air. Menurutnya, penggunaan kata empul tidak terlepas dari keberadaan empul tiing (bambu) tali, tiing (bambu) ampel yang berguna untuk upacara. Bahkan di Pedawa memiliki 33 jenis air yang diambil dari alam semesta.

Sadyana menyebut, peserta didik sekolah adat di Desa Pedawa tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak desa Pedawa. Melainkan lintas generasi yang juga berperan sebagai pebelajar.

“Konsep kami dalam sekolah adat ini bukan seperti sekolah formal yang ada gedung. Namun kami menyediakan sistem persekolahan. Tempat belajar kami ada di mana-mana,” imbuhnya.

Para remaja yang mengikuti sekolah adat di Desa Pedawa
Para remaja yang mengikuti sekolah adat di Desa Pedawa

Ketika anak-anak ingin belajar tentang air, maka proses pembelajaran akan langsung dilakukan dengan mendatangi sumber-sumber air di Pedawa. Begitu juga saat belajar pura tentu akan belajar ke pura.

Saat belajar sistem sosial, maka pihaknya akan mengajak anak-anak maupun remaja lintas usia ini  bertanya langsung kepada tokoh-tokoh adat yang juga disebut sebagai ulu desa, karena memiliki peran yang kuat dalam proses ritual di Pedawa.

“Siapa pengajarnya? Semua orang pedawa adalah pengajar, selama dia mampu membagi ilmunya. Siapa pebelajarnya semua orang Pedawa adalah pebelajar, jadi siapapun bisa hadir untuk menimba ilmu di sekolah adat ini,” ungkapnya

Meski demikian, pihak pengelola sekolah adat tetap melakukan klasterisasi untuk anak-anak, remaja dan dewasa. Jika sasaranannya adalah anak-anak mungkin memberikan pengenalan budaya pedawa, dan seterusnya

“Kalau level dewasa, seperti FGD, dan saling mengisi. Makanya kami mengenalkan tentang tabu budaya pedawa, atau sesuatu yang jarang dilakjukan, tetapi terkait dengan aspek moral, lingkungan, konservasi,” sebutnya.

Meski baru setahun berdiri, namun upaya melakukan rekonstruksi, revitalisasi dan konservasi perlahan menunjukkan hasil positif.

Sadyana menjelaskan, upaya rekonstruksi atau dilakukan untuk melestarikan budaya yang sudah punah. Kemudian revitalisasi budaya merupakan upaya penguatan budaya yang sudah rentan punah terutama karena penganutnya dan penuturnya.

“Contoh revitalisasi yang dilakukan terutama menyasar penggalian Cerita lisan sastra Pedawa. Kami meggali cerita I Jaum yang sudah penuturnya semakin berkurang, sehingga dilakukan proses revitalisasi,” paparnya.

Setelah melakukan proses revitalisasi, Sekolah Adat juga melakukan proses konservasi budaya. Ruang konservasi budaya harus disiapkan sebagai ruang untuk belajar dan melakukan pewarisan berbagai tradisi budaya di Pedawa.

Wayan Sadyana, salah seorang pendiri sekolah adat di Pedawa
Wayan Sadyana, salah seorang pendiri sekolah adat di Pedawa

“Dengan adanya sekolah adat, maka mereka akan belajar disini dengan baik. Anak-anak bisa menggali banyak hal didampingi oleh pengajar,” sebutnya.

Kehadiran sekolah adat juga diyakini sebagai katalisator atau penghubung antara golongan muda dan golongan tua. Menurutnya, sebelum berdirinya sekolah adat, ada semacam jarak antara golongan tua dengan golongan muda.

Tokoh muda ewuh pakewuh atau malu untuk bertanya dengan golongan tua. Sedangkan tokoh tokoh tua juga harus memaklumi bahwa dunia sudah berubah, sehingga kondisi ini sama sama menjadi diam.

“Akhirnya kami melihat ada beberapa hal yang hilang seperti tari, Bahasa dan pemahaman-pemahaman lain seputar Budaya Pedawa yang semakin minim,” akunya.

Salah satu persoalan adalah ada tiga rejang yang hilang, yakni rejang Silihkuri, Rejang Kepet dan Rejang Pengecek Galuh, yang hampir 50 tahun sudah tidak pernah ditarikan lagi oleh generasi muda Pedawa.

Ia menyebut jika Rejang ini dulu dipentaskan di sejumlah pura di Pedawa saat adat Sabha. Tetapi, sejak 50 tahun belakangan rejang ini kian tenggelam bak ditelan bumi lantaran tidak ada penari yang menarikannya.

Sebagai solusi, sekolah adat turun melakukan revitalisasi kesenian rejang dengan melibatkan para sepuh yang pernah menarikannya. “Kami meminta tolong kepada seorang nenek yang usianya 70 tahun, dialah yang membantu melakukan revitalisasi. Saat ini, 3 rejang dikuasai oleh 50 orang penari.

Setelah berhasil dihidupkan kembali, tarian ini dipentaskan di Pura Bingin saat sabha ngelemekin pada awal Januari 2025 lalu. Pihaknya pun akan terus berupaya melakukan revitalisasi terhadap kesenian maupun cerita yang penuturnya kian minim.

Selama ini, Di pedawa ada tiga sekolah formal yang siap mensuport siswanya untuk belajar di sekolah adat. Bahkan, kedepannya ia juga akan melibatkan sekolah SMP untuk menjadi parter dalam pelaksanaan sekolah adat.

Kami disuport oleh sekolah-sekolah formal bekerja sama dengan sekolah adat.“Kami melakukan kegiatan bersama, untuk merevitalisasi tanaman upacara, yang ditanam oleh anak-anak, sebagai edukasi tentang sarana upacara” pungkasnya. (dik)

Keterangan foto

Wayan Sadyana selaku pendiri sekolah adat Manik Empul di Pedawa

Revitalisasi rejang yang nyaris punah di Desa Pedawa

Editor : I Putu Mardika
#desa pedawa #Tari Rejang #Banjar #sekolah adat #buleleng