Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Baris Dapdap di Pedawa: Ditarikan setiap Lima Tahun Sekali, Kerap dijadikan Membayar Sesangi  

I Putu Mardika • Sabtu, 22 November 2025 | 01:54 WIB

Tari Baris Dadap di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar
Tari Baris Dadap di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar
BALIEXPRESS.ID-Tari Baris Dadap merupakan salah satu tarian sakral di Desa Pedawa Kecamatan Banjar, Buleleng. Tarian sakral ini tak bisa sembarangan dipentaskan. Sebab, hanya bisa dipentaskan saat hari tertentu seperti Ngusabha Ngelemekin Lelintih Nemu Gelang dimana tarian ini hanya dapat ditarikan lima tahun sekali.

Kelian Adat Pedawa, Wayan Sudiastika menjelaskan sebagai tarian sakral, Baris Dapdap wajib dipentaskan saat momen-momen tertentu. Dimana, rangkaian atau eedan Saba sesuai dengan Lelintih Nemu Gelang yang ada di desa Pedawa yaitu Ngusabha Ngemalunin, Ngusabha Ngelemekin, Ngusabha Nguja Binih, Ngusabha Nyenukin, Ngusabha Muga Ratu Ngurah Melayu.

Dikatakan Kelian Sudiastika, Lelintih Nemu Gelang merupakan rangkaian kegiatan ritual yang ada di desa Adat Pedawa dari awal sampai kembali lagi pada saat semula.

Tradisi Ngusabha Ngemalunin dan Ngusabha Ngelemekin ke beberapa pura yang ada di desa Pedawa biasanya dilaksanakan di Pura Desa, Pura Bingin, Pura Pecetian, Pura Telaga dan Pura Munduk di mana upacara ini dilaksanakan dalam waktu 5 tahun sekali.

Ketika Ngusabha Ngelemekin di Pura Bingin dilaksanakan, tidak jarang ada masyarakat yang kerap naur sangi dengan mempersembahkan Tari Baris Dadap.

Tarian ini akan ditampilkan dan disaksikan Dewa saksi melalui banten dan Manusa saksi atau saksi adat yakni Ulu Desa, Kelian Adat, Perbekel, Kelian Dadia.

Baca Juga: Tahun 2026, Pemkot Denpasar Pastikan Lakukan Penataan Titik 0 Kilometer

“Dengan adanya saksi-saksi diatas berarti warga yang Naur Sangi tersebut dianggap sudah menepati janjinya kepada Ida Bhatara Sesuhunan dan berharap agar selalu diberikan kesehatan,” jelasnya.

Sudiastika menceritakan Tari Baris Dadap di Desa Pedawa ditarikan berawal dari kisah naur sangi atau membayar janji kepada para leluhur. Pada saat itu salah satu warga di Pedawa mengalami sakit keras yang tidak bisa sembuh.

Meski sudah dibawa ke rumah sakit dan ke dukun membuat keluarganya pasrah, sehingga keluarganya berjanji jika yang bersangkutan sembuh, maka beliau akan mempersembahkan sebuah tarian yang disebut Tari Baris Dadap pada saat ada Upacara Ngusabha Ngelemekin.

Di tengah kepasrahan tersebut, akhirnya sembuhlah yang bersangkutan. Maka ketika upacara Ngusabha Ngelemekin tiba akhirnya keluarga tersebut membayar janji untuk mempersembahkan tarian yang bernama Tari Baris Dadap.

“Karena sudah membuktikan sendiri, dan melalui kepercyaan dari salah satu keluarga inilah sehingga Tari Baris Dadap disakralkan dan hanya dipentaskan pada saat upacara Ngusabha Ngelemekin, serta tidak boleh dipentaskan oleh sembarangan orang,” paparnya.

Sebelum Tari Baris Dadap dipentaskan Balian Desa yang diikuti oleh beberapa warga dan Daa Truna ngayah untuk membersihkan area pura. Kemudian disucikan dengan tirta/air suci serta ikatan daun janur yang dikibaskan ke udara sembari membaca doa.

Baca Juga: Luapan Air Lantai III Genangi Pasar Singamandawa Kintamani, 50 Pedagang Terdampak

Setelah segala proses pembersihan atau penyucian area pura dilaksanakan, kemudian para penari yang dipimpin oleh Balian Desa akan menghaturkan banten Canang Daksina Baas Pipis dan Caru Atuunan di Penyarikan.

“Hal ini tujuannya untuk meminta ijin untuk mementaskan tarian Tari Baris Dadap agar diberikan kelancaran dan kemudahan,” paparnya.

Ada sejumlah ketentuan saat pementasan Tarian Baris Dadap ini. Baik dari sisi gerakan, jumlah penari, hingga gamelan yang digunakan untuk mengiringi tarian sakral ini ketika dipentaskan di Pura.

Dikatakan Kelian Adat Pedawa, Wayan Sudiastika adapun gerakan yang ditarikan oleh penari Baris Dadap, yaitu  Tanjek, yaitu gerakan sentuhan tumit pada tanah hal ini menandakan untuk memanggil Ida Bhatara agar berkenan hadir ke bumi untuk menyaksikan upacara.

Kemudian gerakan Ngembat, yaitu gerakan ini menandakan bahwa seorang penari telah membuka jalan untuk penyambutan kehadiran Ida Bhatara.

Selanjutnya gerakan Nebteb, yaitu gerakan yang menandakan bahwa seorang prajurit raja telah mengalahkan semua musuh dalam peperangan.

Ngayog, yaitu gerakan yang menandakan kegembiraan semua krama Pedawa dalam menyambut kemenangan dengan ikut menari.

Gerakan lainnya yakni Makulatan, yaitu sebagai gerakan yang menandakan tentang bagaimana cara bergulat atau berperang melawan musuh.

Ia menambahkan, Tari Baris Dadap tidak boleh melebihi dari 16 orang. Pertimbangannya lebih ke estetika atau keindahan. Sebab, jika melebihi dari 16 orang, maka tarian yang dipentaskan akan tidak elok dipandang.

Baca Juga: Puncak HUT Mangupura, Masyarakat Diimbau Gunakan Transportasi Umum

“Setelah mementasakan tarian sakral ini para penari akan menghaturkan segehan dan nunas tirta, ini tujuannya untuk mengucapakan rasa syukur dan menandakan bahwa tarian Tari Baris Dadap sudah selesai ditarikan,” katanya lagi.

Sedangkan busana Tari Baris di Desa Pedawa yang digunakan dalam pementasan Tari Baris yang sampai saat ini. Busananya masih menggunakan pakaian sederhana.

Yakni berupa kemeja putih lengan panjang, kamben, sesaputan, selendang, stagen, udeng dengan membawa aksesoris berupa keris dan tombak diwariskan secara turun temurun, seperti halnya dengan Tari Baris Dadap

Pada saat mementaskan Tari Baris Dadap para penari biasanya akan membawa senjata berupa Tombak Kecil dan Tameng yang berbentuk seperti perahu yang keduanya terbuat dari kayu dapdap.

Dalam pementasan Tari Baris Dadap diiringi musik tradisional, ada Giying yang dimainkan dua orang. Gender dimainkan empat orang. Kantilan dimainkan empat orang. Jegong dimainkan oleh satu orang.

Gong dimainkan oleh satu orang. Kempul dimainkan oleh satu orang. Bende dimainkan oleh satu orang.

Ceng-ceng dimainkan enam orang. Juglak dimainkan dua orang. Reong dimainkan lima orang. Rompong dimainkan satu orang. Klenang dimainkan oleh satu orang. Tawa-tawa dimainkan oleh satu orang. Kendang dimainkan oleh dua orang.

“Para penabuh ini dengan setia mengiringi Tari Baris Dadap sampai selesai,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#desa pedawa #pura desa #Tari Baris Dadap #Banjar #tarian sakral