Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ngider Buana dalam Ritual Mamukur, Penyelarasan diri dan Roh Leluhur

I Putu Mardika • Kamis, 4 Desember 2025 | 02:32 WIB

Upacara Mamukur yang terdapat prosesi Mapurwa Daksina
Upacara Mamukur yang terdapat prosesi Mapurwa Daksina
BALIEXPRESS.ID-Memukur merupakan tahapan penyucian dan peneguhan terakhir atma dalam rangkaian Pitra Yadnya, yang dilaksanakan setelah upacara ngaben tergantung pada desa, adat setempat (Desa Mawacara). Dalam praktik umum di Bali, memukur yang juga dikenal sebagai ngerorasin sering dilaksanakan sekitar 12 hari setelah ngaben.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd. H menjelaskan, memukur berfungsi sebagai ritus transisional terakhir yang menyempurnakan proses pelepasan roh leluhur dari keterikatan duniawi dan mempersiapkannya menuju tingkat kesucian yang lebih tinggi.

“Makna inti dari memukur adalah pemurnian dan peningkatan kualitas sang atma. Melalui uapacara memukur, diharapkan sang atma dibersihkan dari sisa-sisa pengaruh panca maha bhuta, karma wasana, serta keterikatan yang masih melekat setelah ngaben,” katanya.

Selain itu, memukur meneguhkan status roh leluhur agar layak dipuja sebagai Dewa Pitara. Dengan demikian, memukur menandai proses transisi rohani dari kondisi preta menuju pitara, bahkan hingga menuju penyatuan dengan sifat kedewataan

Lanjut Ariyoga, dalam konsepsi Hindu Bali, ngaben belum sepenuhnya memutus ikatan antara roh dan dunia manusia, karena masih tersisa pengaruh karma, unsur panca maha bhuta, prakerti dan rasa keterikatan emosional dengan kehidupan duniawi.

Baca Juga: Miris, Satu Korban Jiwa Akibat Pohon Tumbang di DTW Alas Pala Sangeh: Berencana Ambil Charger HP

Oleh sebab itu, upacara memukur sebagai tahapan lanjutan yang membersihkan sisa-sisa tersebut, sekaligus mengarahkan atma menuju alam swah atau pitraloka.

Landasan ajaran memukur secara implisit dapat ditemukan dalam lontar-lontar tattwa Pitra Yadnya, salah satunya Lontar Yama Purwa Tattwa. Dalam teks Kawi disebutkan:

Yan sampun kalaksanang śarīra ning sawa, tan hana pwa tan pamukurannya, mangkana sang ātmā tan prasida lumampah ring swarga.

Terjemahan: Apabila jasad orang mati telah diselesaikan (ngaben), tetapi belum dilakukan pemukurannya, maka atma itu belum dapat berjalan menuju alam sorga.

Kutipan ini menegaskan bahwa memukur bukan sekadar pelengkap upacara, melainkan syarat rohani agar perjalanan atma menuju alam luhur dapat terwujud.  Sejalan dengan Lontar Yama Purwa Tattwa.

Baca Juga: Hingga Triwulan III 2025, Perusahaan Pembiayaan Catat Pertumbuhan Hingga 5 Persen (yoy)

Gerakan ngider bhuwana dalam upacara memukur mengunakan arah  ritual purwa daksina, hal tersebut tersirat secara  tergas dalam teks Prastanika Parwa, yaitu parwa ke 17 dari kitab Mahabharata dalam petikan itu dinyatakan:

Mapurwa-daksina ta sira, mangastuti ring hyang paramārtha.”

Terjemahan: Mereka melakukan purwa daksina, sebagai pujian kepada Hyang Yang Maha Utama. Makna ritual dalam Ma-purwa daksina yaitu  mengitari dari Timur ke Selatan yang dilakukan sebagai tindakan pemuliaan.

Salah satu prosesi penting dalam memukur adalah ngider bhuwana dengan gerak purwa daksina, yakni mengitari ruang sakral dari arah timur menuju selatan. Gerakan ini dimaknai sebagai penyelarasan diri dan roh leluhur dengan hukum gerakan alam semesta, mengikuti lintasan matahari dan irama alam semesta.

 “Saat prosesi memukur, purwa daksina berfungsi sebagai “jalan naik” bagi atma, yakni sarana simbolik untuk mengarahkan roh menuju tingkat kesucian yang lebih tinggi secara teratur dan harmonis,” imbuhnya.

Baca Juga: Pohon Tumbang Di DTW Alas Pala Sangeh Sisakan Duka Mendalam, Sebabkan Satu Korban Jiwa

Ngider bhuwana sendiri secara umum berarti mengitari ruang atau wilayah untuk menyeimbangkan dan menyucikan buwana. Dalam kosmologi Hindu Bali, ruang dipahami sebagai kesatuan energi sekala dan niskala yang dapat mengalami ketidakseimbangan.

Oleh karena itu, gerak ngider bhuwana bukan sekadar fisik, melainkan gerak tattwa dan yadnya yang bertujuan mengharmoniskan hubungan antara Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit (manusia beserta ruang kehidupannya).

Kendatipun demikian, ngider bhuwana dalam konteks odalan di pura yang merupakan bagian dari Dewa Yadnya, ngider bhuwana memiliki fungsi yang berbeda dengan memukur. 

Pada odalan, ngider bhuwana bertujuan nangiang atau membangunkan wilayah sakral pura, meneguhkan kehadiran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi beliau yang tedun bersthana, serta menyebarkan energi kesucian ke seluruh mandala pura.

Oleh karena itu, arah putaran yang digunakan adalah pradaksina (searah jarum jam), karena melambangkan pemuliaan, bhakti, dan gerak kehidupan yang selaras dengan kosmos

Prosesi ngider bhuwana pada upacara Dewa Yadnya (odalan) dan upacara Bhuta Yadnya, memiliki perbedaan mendasar terletak pada tujuan dan arah putarannya. Dalam odalan (Dewa Yadnya), pradaksina (searah jarum jam) wajib digunakan karena ruang dan energi bersifat suci dan dimuliakan.

Baca Juga: Banteng Bali Incar Kembali Juara di Soekarno Cup II, Gung Bram: Semua Tim Terbaik

Sebaliknya, dalam Bhuta Yadnya atau prosesi yang bertujuan menetralkan kekuatan negatif, digunakan arah prasawya (berlawanan jarum jam dari timur ke Utara) sebagai simbol pelepasan dan penguraian energi bhuta/gelap.

Ia menyebut, dengan memahami perbedaan ini, terlihat bahwa arah putaran dalam ritual Hindu Bali tidak bersifat teknis semata, melainkan sarat makna tattwa yang menentukan keberhasilan spiritual suatu upacara.

“Jadi dapat ditarik benang merah bahwa prosesi upacara memukur/ngeroras dan ngider bhuwana merupakan dua praktik ritual yang saling berkaitan tetapi memiliki fokus dan tujuan yang berbeda,” paparnya.

Memukur berfungsi sebagai ritus transisional akhir dalam Pitra Yadnya untuk menyempurnakan kesucian atma dan mengantarkannya menuju status Dewa Pitara, dengan memanfaatkan gerak purwa daksina (timur ke Selatan) sebagai sarana simbolik perjalanan pemuliaan atman.

Baca Juga: PHRI Bali Soroti Ledakan Akomodasi Ilegal, Koster Siapkan Kajian untuk Hentikan Operasional Airbnb

Sementara itu, ngider bhuwana dalam konteks odalan (Dewa Yadnya) berfungsi untuk memuliakan dan menata kembali tatanan kosmis pura melalui gerak pradaksina (searah jarum jam, sama secara teknis dengan purwa daksina) sebagai ekspresi bhakti, penghormatan tertinggi, dan penyerahan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Perbedaan tujuan inilah yang menentukan arah putaran ritual, pradaksina untuk pemuliaan dan prasawya untuk pelepasan, sehingga tidak dapat dipertukarkan tanpa mengaburkan makna tattwa.

“Dengan pemahaman yang tepat, arah gerak ritual tidak lagi dipahami sebagai teknis semata, melainkan sebagai bahasa simbolik suci yang menghubungkan manusia, alam, dan Tuhan secara harmonis,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #Ngider bhuana #ngeroras #hindu #mamukur #roh #leluhur