Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sasana Palemahan: Pemuliaan Bumi Pertiwi dalam Perspektif Lontar Hindu, Jaga Keseimbangan Ekologis

I Putu Mardika • Selasa, 16 Desember 2025 | 03:46 WIB

Harmonisme manusia dengan parahyangan dan lingkungan
Harmonisme manusia dengan parahyangan dan lingkungan
BALIEXPRESS.ID-Berbagai fenomena bencana alam akibat terganggunya keseimbangan ekologis tidak hanya membuat kerugian material, tetapi juga merenggut nyawa manusia. Dalam berbagai lontar, pemuliaan terhadap lingkungan dilakukan dengan implementasi ajaran Tri Hita Karana.

Akademisi Institut Mpu Kuturan Nyoman Ariyoga, M.Pd.H menjelaskan, dalam kehidupan masyarakat Hindu di Bali, ajaran Tri Hita Karana telah lama menjadi fondasi keseimbangan hidup manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Ajaran ini sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari sasana dharma, yaitu pedoman moral untuk menata hubungan kosmis/semesta secara harmonis.

Namun, di tengah pemahaman yang luhur ini, masih sering dijumpai kenyataan bahwa sebagian umat membuang sampah sembarangan, bahkan di tempat suci dan aliran Sungai/jurang tukad di Bali.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: mengapa orang yang memahami nilai kesucian bumi sebagai bagian dari palemahan justru melakukan tindakan yang merusak lingkungan?

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa sasana palemahan yaitu ajaran untuk menghormati dan menjaga kesucian bumi, belum sepenuhnya diamalkan. Kesadaran spiritual yang semestinya menuntun perilaku etis terhadap alam sering kali terhenti pada ranah pengetahuan, belum menjelma menjadi tindakan nyata.

“Hal ini menjadi cerminan bahwa kesadaran spiritual belum sepenuhnya terwujud dalam tindakan sehari-hari”

Secara teologis, Tri Hita Karana mengajarkan tiga hubungan suci: hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), hubungan sesama manusia (pawongan), dan hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Ketiga hubungan ini merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam berbagai Pustaka lontar tattwa, bumi atau Ibu Pertiwi digambarkan sebagai perwujudan kasih Ilahi/Tuhan yang menopang seluruh kehidupan, dan karena itu wajib dijaga melalui laku sasana palemahan.

Dalam Lontar Bhuwana Kosa disebutkan:"Bhūmir iyā sang hyang pertiwi, sira sang anemban sarwabhūta, ring sira tumuwuh sarwa prāṇi, ring sira maśesa sarwadhātu."

Terjemahan:

“Bumi itulah Sang Hyang Pertiwi, Ia yang menanggung semua makhluk, di dalamnya tumbuh segala kehidupan, dan darinya mengalir segala unsur alam.”

Kemudian dalam Lontar Purwa Bhumi Kamulan ditegaskan:"Yan hana wwang nglĕyĕdang bhuwana, tan rahayu ring jīwana, apacitra ring bhūmi, tan manggih śānti ring atma."

Terjemahan:

“Barang siapa mencemari bumi, hidupnya tidak akan memperoleh ketenteraman; orang yang mengotori bumi, jiwanya tak akan mencapai kedamaian.”

Sejalan dengan hal tersebut dalam Lontar Bhama Kertih dijelaskan:

"Bhūmi ring ambek sang manusa, yā sthira nira sang prāṇin, sira wisesa, mwang patut sinungsung ring yajña bhūmi."

Terjemahan:

“Bumi berada dalam kesadaran manusia, Ia adalah penopang segala makhluk, yang utama dan wajib dimuliakan melalui upacara suci bagi bumi.”

Ketiga kutipan ini menggambarkan pandangan mendalam bahwa bumi bukan sekadar unsur fisik, melainkan wujud spiritual dari kasih Tuhan yang menopang seluruh ciptaan. Dengan demikian, merusak bumi berarti melanggar keseimbangan ilahi antara Tuhan, manusia, dan alam.

Selain itu isi lontar di atas memberikan penegasan atas sasana palemahan, yakni ajaran untuk memuliakan bumi sebagai bagian dari dharma kehidupan.

Situasi banjir yang menggenangi Jalan Dewi Sri IV, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta, Minggu (14/12).
Situasi banjir yang menggenangi Jalan Dewi Sri IV, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta, Minggu (14/12).

Realitas sosial menunjukkan terjadinya pergeseran nilai. Sasana Palemahan yang menuntun manusia agar menjaga kesucian alam sering kali tertutupi oleh gaya hidup modern yang pragmatis dan konsumtif.

“Banyak umat memahami Tri Hita Karana sebatas ritual melakukan yadnya dan persembahan  tanpa menginternalisasi makna ekologisnya. Dan menerapkan nilai-nilainya dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.

Munculnya kebiasaan komunal yang menganggap membuang sampah di sungai atau di jalan bukan pelanggaran serius, apalagi jika dilakukan bersama-sama. Lemahnya penegakan aturan adat (awig-awig) serta meningkatnya konsumsi barang plastik juga memperburuk keadaan, sehingga nilai-nilai kesucian bumi seolah terlupakan di tengah arus modernisasi.

Selain itu juga banyak terjadi alih fungsi lahan dalam pembangunan yang menyisir pinggiran sungai, menebang pohon tanpa menanam kembali, dan lain sebagainya terjadi belakangan ini, serta viral di media sosial Fb/Ig/Tiktok. 

Ini menjadi tanda bahwa nilai-nilai sasana palemahan/menjaga Ibu Pertiwi belum dihidupi secara utuh. Akibatnya, relasi manusia dengan Ibu Pertiwi menjadi timpang dan kehilangan keharmonisannya.

Dalam konteks pendidikan Hindu, penguatan sasana palemahan menjadi keharusan. Proses pembelajaran hendaknya menekankan tiga tahapan siksa sasana: jñāna (pengetahuan), bhāvanā (penghayatan), dan karma (tindakan nyata).

Seorang anak dari rumah, sekolah dan masyarakat perlu dibimbing untuk memahami bahwa menjaga bumi bukan sekadar tugas sosial, melainkan bentuk bhakti spiritual kepada Tuhan dan manifestasi kasih kepada seluruh makhluk.

Dengan menerapkan sasana palemahan, tindakan sederhana seperti membuang sampah sembarangan tidak lagi dipandang sebagai kebiasaan kecil, tetapi sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Ibu Pertiwi yang suci.

Fenomena pencemaran bumi akibat ulah manusia telah lama diwartakan dalam naskah-naskah lontar tattwa, salah satunya dalam Lontar Roga Senghara Bumi dijelaskan:

“Yan wwang apacitra ring pertiwi, sira tan rahayu, bhuwana pĕtĕng, toya tan mili, angin guntur, wukir lumuntur.”

Terjemahan:

“Apabila manusia mencemari bumi, maka ia kehilangan kesejahteraan; bumi menjadi gelap, air tak mengalir, angin mengguncang, gunung pun runtuh.”

Kutipan ini menggambarkan konsekuensi ekologis dan spiritual ketika manusia melanggar sasana palemahan. Dalam kenyataan modern, bencana banjir, tanah longsor, pencemaran laut, dan perubahan iklim merupakan refleksi dari “penderitaan bumi” yang diuraikan lontar tersebut.

Hal tersebut terjadi akibat perilaku manusia yang membuang sampah sembarangan, menebang hutan, mengotori Sungai, dan alih fungsi lahan yang secara massif terjadi. Ketahuilah pada dasarnya bumi bereaksi terhadap ketidakseimbangan moral manusia.

Dalam pandangan Hindu, ketika Ibu Pertiwi tercemar, maka prāṇa atau daya kehidupan alam melemah, menimbulkan penderitaan bagi seluruh makhluk. Dengan demikian, bencana bukanlah hukuman Tuhan, melainkan akibat alami dari hilangnya harmoni antara manusia dan alam.

Akhirnya, fenomena ini menunjukkan adanya jurang antara pengetahuan agama dan praktik nyata dalam kehidupan. Sasana palemahan menjadi panggilan moral dan spiritual untuk mengembalikan keseimbangan alam.

Ariyoga menyebut, Umat Hindu yang memahami ajaran Tri Hita Karana semestinya tidak berhenti pada tataran konseptual, tetapi mewujudkannya dalam laku hidup yang mencerminkan kasih kepada bumi.

Menghormati bumi sebagai manifestasi Tuhan berarti mengamalkan dharma dalam tindakan, yaitu menjaga kebersihan, menjaga kesudian alam, menghargai kehidupan, dan menumbuhkan rasa syukur pada alam Ibu pertiwi.

“Dengan demikian, Sasana palemahan bukan hanya ajaran dalam lontar, melainkan jalan hidup menuju harmoni antara Tuhan, manusia, dan alam semesta,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bencana alam #lontar #Tri Hita Karana #pohon #ekologis