Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Ngusaba Bulih di Pura Manik Mas Desa Nyanglan , Momentum Memohon Kesuburan saat Masa Tanam  

I Putu Mardika • Rabu, 24 Desember 2025 | 00:08 WIB

Prosesi medagelan Tipat Taluh saat Ngusaba Bulih di Pura Mas, Desa Nyanglan
Prosesi medagelan Tipat Taluh saat Ngusaba Bulih di Pura Mas, Desa Nyanglan
BALIEXPRESS.ID-Subak Nyanglan tidak hanya berkutat dalam mengatur kegiatan irigasi dan pola tanam di Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Namun juga melakukan berbagai macam ritual upacara, seperti upacara Ngusaba Bulih. Ritual yang dilaksanakan setiap tahun ini saat jelang masa tanam ini dilaksanakan di Pura Manik Mas.

Kelian Subak Desa Nyanglan, I Nengah Sukarasta menjelaskan dalam ngusaba bulih di Pura Manik Mas Desa Adat Nyanglan tidak semua Bhatara (Pratima) hadir di Pura Puseh. Namun hanya Pratima Bhatara Sri yang tedun itupun hanya di Pura Manik Mas saja

Ngusaba Bulih dilakukan dengan cara yang berbeda. Sebab, bukan bulih itu yang dibawa ke pura tersebut. Melainkan tirta dari pura tersebut dituangkan di hulu sungai dari Subak Nyanglan tersebut, sehingga air yang digunakan mengairi sawah petani bercampur dengan tirta tersebut masuk kesawah-sawah milik petani di Desa Nyanglan.

Ngusaba Bulih di Desa Nyanglan merupakan dilakukan untuk mewujudkan hubungan harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi yakni dengan melaksanakan ritual atau persembahyangan pada saat melakukan upacara ngusaba bulih.

“Ngusaba Bulih ini tujuannya untuk mewujudkan hubungan harmonis manusia dengan alam, manusia dengan sesame dan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sesuai dengan konsep Tri Hita Karana” jelasnya.

Baca Juga: Angka PHK di Kabupaten Badung Meningkat, Disperinaker Catat Mencapai Ratusan Orang

Demi mewujudkan hubungan harmonis manusia dengan alam atau lingkungan yakni krama Subak Desa Nyanglan menarapkan konsep ekologis dengan merawat, memelihara bulih (bibit padi) menjaga sumber air agar mampu mengairi areal persawahan yang ada di Desa Nyanglan. Termasuk mempersembahkan sesajen kepada Bhatari Sri yang menjaga bibit padi dan areal persawahan tetap subur.

Dikatakan Nengah Sukarasta, secara umum dalam upacara ngusaba bulih ada beberapa sarana yang terbagi menjadi tiga jenis. Yaitu mataya yang merupakan adalah sarana upacara yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti, daun, bunga, buah dan pohon.

Mantiga merupakan sarana upacara yang berasal dari hewan yang lahir dua kali seperti telur, itik, angsa, ayam dan lain-lain dan Maharya adalah sarana upacara yang berasal dari hewan yang lahir sekali dan berkaki empat seperti: babi, kerbau, sapi, kambing dan yang lainya.

Banten yang digunakan dalam upacara Ngusabha Bulih beragam, dengan sarana utama berupa bunga, buah-buahan, daun tertentu, jajan dan lain sebagainya. Disamping sarana yang sangat penting lainnya adalah air dan api

Sarana dalam upakara Ngusabha Bulih adalah penjor, suci, segehan, daksina, datengan, pengambean, pisang guru, bayuan, canang burat wangi, canang genten, canang sari, jerimpen, peras lis, bebangkit selain sarana tersebut juga membuat berbagai jajan suci yang digunakan dalam upacara Ngusabha bulih, yang diantaranya Jajan Saraswati.

Baca Juga: Jelajah Bali Akhir Tahun Tanpa Ribet, Ini Rekomendasi Destinasi dari Gojek

Ada pula sarana berupa Jajan Carang Penapa, Jajan Klengkang, Jajan Kupe, Jajan Kuluban, Jajan Bucucelu, Jajan Pakusaji, Jajan Ratu Megelung, Jajan Bungkung-bungkungan, Jajan Bunganwaru dan Jajan Padma

Ia menambahkan, prosesi inti dimulai dari ngaturang segehan atau Bhuta Yadnya yaitu suatu korban suci/ pengorbanan suci kepada sarwa bhuta yaitu makhluk- makhluk, baik yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), hewan (binatang), tumbuh-tumbuhan, dan berbagai jenis makhluk lain yang merupakan ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tahapan selanjutnya yakni melaksanakan persembahyangan di masing-masing sawah, nedunang Pratima Ida Bhatara. Hal ini diyakini sebagai suatu prosesi menurunkan energi-energi Ida Sang Hyang Widhi yang ada di alam semesta yang disimbulKan dengan pratima (patung yang terbuat dari kayu maupun pis bolong) yang disimpan oleh krama subak di gedong penyimpanan Pura Manik Mas.

Prosesi selanjutnya adalah Mesucian. Tahapan ini merupakan rangkain upacara yang dilakukan krama subak Desa Nyanglan di sumber mata air (kelebutan) yang dinamai Grembeng. Grembeng ini dijadikan tempat mesucian Pratima Ida Bhatara. Dalam upacara mesucian ini bertujuan untuk menyucikan pratima sebelum keaturan banten piodalan di pura Manik Mas.

Setelah kembali ke pura Manik Mas, kemudian mulai katuran banten pemendak, Pratima megenah ring pesamuan agung, keaturan banten piodalan upacara ngusaba bulih. Sesampainya di pura Manik Mas dilajutkan dengan upacara keaturan piodalan, keaturan piodalan diawali dengan penjemputan sulinggih ke griya (rumah dari pada sulinggih).

Baca Juga: Ria Ricis, Anang & Ashanty hingga Mischa Chandrawinata Pandu Shopee Live Superstar, Penjualan Naik 16 Kali Lipat

Selain penjemputan di antara krama subak ada yang mempersiapkan banten atau sarana upacara di pura Manik Mas. “Setelah sulinggih tiba di lokasi upacara dimulailah upacara piodalan yang dimuali dari sulinggih duduk, gargha tirtha, ngresik, uptetti sethiti, muktyang, sembahyang” paparnya.

Usai sembahyang bersama, ada prosesi yang menarik dilaksanakan saat Ngusaba Bulih di Pura Manik Mas, Desa Nyanglan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Yaitu prosesi Medagelan Tipat Taluh atau perang Tipat (saling lempar anaman).

Tradisi ini rutin dilaksanakan saat Ngusaba Bulih. Medagelan Tipat Taluh dilaksanakan saat prosesi persembahyangan telah selesai. Setelah ngelungsur prani, masyarakat atau krama subak di bagi menjadi 2 kelompok yaitu tempek kangin di utama mandala dan tempek kauh di madya mandala, setelah kelomok ini siap dimulailah tradisi metalegan tipat taluh.

Kelian Subak Desa Nyanglan, I Nengah Sukarasta menjelaskan, prosesi penutup dari upacara ngusaba bulih adalah upacara nyineb di Pura Manik Mas Desa Nyanglan yang dilakukan keesokan harinya oleh krama subak.

Upacara nyineb adalah upacara pengembalian energi-energi positif dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa tuhan yang disimbulkan dengan pratima ke tempat yang yang telah disediakan yaitu gedong penyimpenan. Upacara penyinebab dipimpin oleh pemangku pura manik mas.

“Seluruh krama subak ikut andil dalam mensukseskan ngusaba Bulih ini. Mereka berharap agar diberikan hasil panen yang bagus, sehingga bisa memperoleh kesejahteraan. Krama tedun mulai dari tahap persiapan sampai tuntas,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#ritual #Banjarangkan Klungkung #ngusaba #Ngusaba Bulih #Subak