Namun jika ditelaah secara akademik melalui perspektif wariga, sastra agama, dan sejarah keputusan keagamaan Hindu Bali wacana tersebut justru bertentangan dengan fondasi tradisi itu sendiri.
Apa yang diklaim sebagai “tradisi lama” sesungguhnya adalah fragmen tafsir singkat dalam sejarah, bukan struktur tradisi Hindu Bali yang utuh dan berkesinambungan.
Dosen Wariga IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Made Gami Sandi Untara, S.Fil.H., M.Ag mengatakan dalam seluruh sistem wariga Bali klasik, Tilem Kesanga tidak pernah diposisikan sebagai hari Nyepi. Tilem Kesanga adalah rahina Tawur Kesanga, puncak Bhuta Yadnya, saat Bhuta Kala dipralina dan diseimbangkan melalui caru dan tawur.
Sementara itu, Nyepi secara konsisten ditempatkan sehari setelahnya, pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, sebagai hari brata, tapa, dan yoga spiritual. “Menyamakan Tawur Kesanga dengan Nyepi merupakan kesalahan konseptual serius yang mengaburkan batas antara ritus kosmik (Bhuta Yadnya) dan brata personal (penyepian diri),” jelasnya.
Secara struktur kalender Caka Bali, Tilem adalah akhir sasih, bukan awal. Ia menandai fase pralina penutupan siklus bukan permulaan kesadaran baru. Nyepi, sebagai Tahun Baru Saka, secara filosofis dan simbolik harus berada pada titik wiwitan, awal yang sunyi dan murni, bukan pada titik akhir yang justru sarat dengan aktivitas penetralan Bhuta Kala.
“Inilah logika kosmologis wariga Bali yang membedakannya dari sekadar hitungan hari atau kalender administratif,” ungkapnya.
Tradisi besar Bali, khususnya yang berpijak pada pedoman ritual Parahyangan Besakih, sejak awal membedakan secara tegas: Tawur dilaksanakan pada Tilem Kesanga, sedangkan Nyepi dilaksanakan pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa. Pedoman ini bersumber pada lontar-lontar tua seperti Aji Swamandala dan Sri Jaya Kusunu, yang menjadi rujukan praktik ritual hidup lintas generasi.
Lontar Sundarigama memang memuat keterangan penting tentang rangkaian upacara, tetapi menjadikannya satu-satunya dasar penentuan Nyepi adalah kekeliruan metodologis. Dalam tradisi Hindu Bali, otoritas tidak berdiri pada satu teks, melainkan pada kesinambungan sastra, praktik ritual, dan konsensus spiritual.
Sejarah kelembagaan Hindu Bali juga mencatat koreksi yang tidak bisa diabaikan. Keputusan Pesamuan Agung tahun 1960 yang sempat menempatkan Nyepi di Tilem Kesanga bukanlah puncak tradisi, melainkan produk tafsir terbatas pada zamannya.
Keputusan tersebut kemudian direvisi secara resmi melalui Seminar Kesatuan Tafsir tahun 1983 oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia. Sejak saat itu, Nyepi dijalankan kembali sesuai tradisi kuno: Tawur pada Tilem Kesanga, Nyepi keesokan harinya.
Dengan demikian, wacana “mengembalikan” Nyepi ke Tilem Kesanga justru mengabaikan hasil koreksi institusional Parisada sendiri, sekaligus menafikan proses pematangan teologis yang telah dilalui.
Dari sudut kosmologi, Tilem Kesanga berdekatan dengan ekuinoks Maret, saat Matahari berada pada titik keseimbangan (bajeging surya). Dalam konteks ini, Tawur Kesanga berfungsi menyeimbangkan bhuwana agung (alam semesta), sementara Nyepi menjadi proses internalisasi keseimbangan tersebut dalam bhuwana alit (diri manusia).
Baca Juga: Impresif! Ini Sederet Capaian BRI dan Kontribusi untuk Negeri di Sepanjang Tahun 2025
“Urutan ini bukan kebetulan, melainkan logika kosmik yang saling terkait. Jika Nyepi dipaksakan bertepatan dengan Tilem, maka fungsi yoga-semedi Nyepi justru kehilangan pijakan kosmologisnya, karena dilakukan bersamaan dengan puncak aktivitas Bhuta Kala,” kata Dr. Gami.
Penolakan terhadap wacana Nyepi di Tilem Kesanga bukanlah sikap emosional, apalagi romantisme tradisi, melainkan sikap akademik yang berpijak pada nalar wariga, ketelitian sastra, dan kesadaran sejarah keagamaan.
Perubahan ritus sakral tanpa kajian lintas disiplin hanya akan melahirkan kerancuan teologis, kegelisahan sosial, dan pengulangan kesalahan masa lalu yang sejatinya telah diselesaikan.
“Nyepi bukan sekadar hari libur. Ia adalah sumbu kosmologi Hindu Bali, titik temu antara alam dan manusia, antara ritus kosmik dan laku spiritual. Menjaganya berarti menjaga wariga, dan menjaga wariga berarti menjaga kewarasan berpikir kita sendiri,” sebutnya.
Gami menambahkan, Nyepi bukan sekadar penanda tanggal, melainkan puncak proses kosmologis dan spiritual yang tersusun secara sistematis. Karena itu, memindahkan Nyepi ke Tilem Kasanga bukan hanya persoalan teknis kalender, tetapi menyangkut ketertiban kosmos, konsistensi ajaran, dan tanggung jawab intelektual umat beragama.
Dalam seluruh tradisi Wariga Bali, Tilem Kasanga dipahami sebagai fase puncak pergerakan Bhuta Kala. Sastra-sastra tua seperti Aji Swamandala, Surya Sewana, dan Sri Jaya Kasunu menyebut hari ini sebagai ala dahat, hari yang sarat energi kasar kosmis dan karena itu memerlukan Bhuta Yadnya berupa Tawur Kesanga.
Pada hari inilah alam semesta berada dalam kondisi “riuh” secara kosmologis. Bhuta Kala dipercaya “keluar” dan menuntut harmonisasi melalui caru dan tawur. Oleh sebab itu, Tilem Kasanga secara teologis bukan hari hening, melainkan hari penyelarasan Bhuwana Agung.
Menempatkan Nyepi yang hakikatnya adalah brata sunya, yoga semadi, dan pengekangan indria pada Tilem Kasanga berarti melaksanakan keheningan di tengah kegaduhan kosmos. Ini adalah kontradiksi tattwa yang sulit dipertahankan secara ilmiah.
Sastra Wariga secara konsisten menegaskan bahwa Tilem adalah akhir sasih, sedangkan awal sasih baru dimulai pada Penanggal Apisan (Pratipada). Artinya, Tilem berfungsi sebagai titik penutup dan pelepasan, bukan sebagai awal kontemplasi spiritual.
Dalam struktur Nyepi, urutannya jelas dan tidak boleh dibalik: Tilem Kasanga → Tawur Kesanga (Bhuta Yadnya) Penanggal Apisan Sasih Kedasa → Brata Penyepian (Nyepi) Hari-hari berikutnya → Ngembak Geni
“Lontar Sri Jaya Kasunu secara eksplisit menyebut bahwa Brata Penyepian dilakukan pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa, yakni sehari setelah Tilem Kasanga. Dengan demikian, Nyepi adalah respon spiritual manusia setelah kosmos dinetralisir, bukan bersamaan dengan proses penetralan itu sendiri,” paparnya.
Secara astronomis-kosmologis, Tilem Kasanga selalu jatuh di sekitar bulan Maret, bertepatan dengan Bajeging Surya, saat matahari berada tepat di garis khatulistiwa. Ini adalah momen keseimbangan kosmis Bhuwana Agung. Karena itu, Tawur Kesanga sangat tepat dilaksanakan pada fase ini sebagai simbol penstabilan alam semesta.
Dijelaskan Gami, keseimbangan kosmos tidak otomatis berarti keseimbangan batin manusia. Di sinilah Nyepi mengambil peran sehari setelah Tilem, ketika alam telah “dibersihkan”, manusia diajak masuk ke dalam keheningan batin untuk menata Bhuwana Alit. Memaksakan Nyepi pada Tilem Kasanga sama dengan melompati satu tahap penting dalam logika kosmologi Hindu Bali
Sejarah mencatat bahwa penetapan Nyepi pada Tilem Kasanga pernah terjadi dalam kurun waktu terbatas (1960–1982), akibat tafsir tunggal terhadap satu lontar tertentu. Namun, keputusan tersebut telah dikoreksi secara akademik dan institusional melalui Seminar Kesatuan Tafsir 1983 oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat.
Hasilnya jelas: Nyepi dikembalikan ke sehari setelah Tilem Kasanga, sesuai tradisi kuno dan praktik hidup umat, termasuk di pusat ritual seperti Pura Besakih.
Maka, wacana “mengembalikan Nyepi ke Tilem Kasanga” sesungguhnya bukan restorasi tradisi, melainkan pengulangan kekeliruan lama yang telah diselesaikan secara ilmiah puluhan tahun lalu.
Tradisi tidak dijaga dengan romantisme atau simplifikasi, melainkan dengan pemahaman yang utuh terhadap sistem pengetahuan yang melahirkannya. Wariga Bali bukan sekadar kalender, tetapi ilmu kosmologi religius yang presisi, sistematis, dan sarat makna.
Karena itu, menempatkan Nyepi setelah Tilem Kasanga bukan sikap kaku, melainkan kesetiaan pada akal sehat tradisi. Inilah bentuk dharma akademik: menjaga warisan leluhur agar tidak tereduksi oleh tafsir instan yang mengabaikan struktur, konteks, dan kedalaman makna.
Nyepi bukan soal “tanggal yang dipilih”, melainkan tahap spiritual yang harus datang setelah kosmos diselaraskan. Selama Tawur Kesanga masih dimaknai sebagai Bhuta Yadnya pada Tilem Kasanga, maka Nyepi secara sahih, logis, dan dharmika harus dilaksanakan sehari setelahnya, pada Penanggal Apisan Sasih Kedasa.
“Mengubahnya berarti bukan hanya menggeser kalender, tetapi mengacaukan tata kosmos yang selama berabad-abad dijaga oleh tradisi dan pengetahuan Wariga Bali,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika