Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Ngerebeg di Pura Alas Kedaton, Dilaksanakan Usai Kuningan, Simbol Menetralisir Energi Negatif

I Putu Mardika • Jumat, 2 Januari 2026 | 11:34 WIB

Prosesi ngerebeg di Pura Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan
Prosesi ngerebeg di Pura Alas Kedaton, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan
BALIEXPRESS.ID-Pura Alas Kedaton yang terletak di Desa Adat Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan wajib menggelar ritual Ngerebeg saat pujawali. Tradisi Ngerebeg dilaksanakan saat Anggara Kasih Medangsia (Kalender Bali), 10 hari setelah hari raya Kuningan yang bertujuan untuk menetralisir energi negatif.

Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa menjelaskan Upacara Ngerebeg diyakini mempunyai makna sebagai upaya untuk menetralisir sifat negatif manusia (sad ripu). Selain itu, ritual ini juga sebagai wujud rasa syukur bahwa upacara piodalan telah usai dan berjalan dengan lancar

Prosesi upacara diawali dengan ngebijiang Ida Bhatara ke Pura Beji yang berlokasi di sisi timur hutan Kedaton. Sekitar pukul 13.00 Wita, tradisi mepeed gebogan (berjalan beriringan dengan menjunjung aneka buah tersusun rapi) dari 12 banjar pakraman dimulai.

Dalam tradisi mepeed gebogan ini sekaligus ngiring patapakan Barong Ket dan Barong Landung yang tersebar di masing-masing banjar adat. Sebagai pemungkas, tradisi yang paling dinanti anakanak merupakan ritual Ngerebeg.

Sekitar pukul 18.30 Wita, saat matahari senja memancarkan cahayanya, kegiatan persembahyangan di pura Kahyangan Kedaton diakhiri. Kegiatan persembahyangan di Pura Dalem Kahyangan Kedaton memang dibatasi, sebelum matahari terbenam.

Sebab, tidak diizinkan menyalakan api di jeroan pura yang justru berada di posisi paling rendah. Umumnya, pura di Bali jeroan pura sebagai Utama Mandala berada di posisi paling tinggi. Larangan tak menggunakan api, termasuk dupa saat sembahyang bertalian dengan areal pura yang dikitari hutan.

Setelah kegiatan sembahyang ditutup, kemudian dilanjutkan dengan prosesi sembahyang bersama antara pamangku dan pacalang. Pemedek yang duduk di jaba tengah pun mulai siap-siap untuk melaksanakan tradisi Ngerebeg.

Prosesi ini berlangsung setelah kegiatan persembahyangan selesai sebelum matahari terbenam saat matahari condong ke Barat, suara kentongan (kulkul) terdengar bertalu-talu. Pada saat tersebut para anak-anak remaja yang sudah antusias mengikuti prosesi ini mempersiapkan bahan-bahan sarana Ngerebeg.

Baca Juga: Depresi Pasca Perang, WNA Rusia Ulah Pati di Bali, Tulis Surat: Putin Mengambil Segalanya Dariku

Mereka juga membawa tedung, tombak, lelontek maupun bandrang. Sedangkan anak yang tidak kebagian cukup membawa ranting-ranting pohon saja. Perlengkapan tersebut nantinya akan diarak mengitari pura Alas Kedaton.

Sebelum prosesi Ngerebeg dimulai, Petapakan Ida Bhatara berupa Barong Ket dan Barong Landung juga tedun ikut menyaksikan prosesi tersebut. “Seluruh pemangku desa menyiapkan tirta yang nantinya dipercikkan kepada peserta, juga menyiapkan sarana tetabuhan seperti tuak, arak dan berem untuk persembahan ke Bhuta Kala,” sebutnya.

Begitu prosesi ngerebeg dimulai, maka sorak-sorai peserta baik itu anak-anak, remaja maupun orang tuapun terdengar ketika pemangku mulai memercikkan tirta (air suci). Setelah diperciki tirta, semua peserta yang membawa berbagai peralatan melesat mengitari pura sebanyak tiga kali.

Saat prosesi berlangsung, kera penghuni hutan di kawasan objek wisata Alas Kedaton ikut bersorak, seolah ikut ambil bagian dan menyaksikan tradisi Ngerebeg tersebut. Para pemedek pun antusias untuk menyaksikan ritual ini sembari memberikan sorak sorai kepada peserta.

Usai Nerebeg prosesi dilanjutkan dan ditutup dengan tarian Pendet yang dibawakan oleh para Pemangku, pemangku menarikan kincang-kincung, dengan posisi berhadap-hadapan terbagi dalam 2 baris, salah satu baris membawa tekor dari daun pisang emas dan baris satunya membawa botol yang berisi tetabuhan.

Baca Juga: Tragedi Awal Tahun di Jembatan Tukad Bangkung: Polisi Ungkap Hasil Olah TKP dan Pesan Korban

Pada saat para pemangku yang menarikan tarian pendet mulai berpapasan. Maka saat berpapasan tersebut, yang satu menuangkan tetabuhan dan satunya menengadahkan tekor, sebagai pertanda upacara ini telah selesai.

“Ngerebeg ini tujuannya untuk memohon keselamatan dan perlindungan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari bencana dan mara bahaya serta memperdalam kepercayaan masyarakat untuk terus melaksanakan upacara Ngerebeg dan tidak berani meninggalkan upacara tersebut karena masyarakat serta wilayah Desa Kukuh akan terusik ketentramannya,” sebutnya.

Tak hanya diiringi oleh krama yang mengikuti prosesi ngerebeg juga diiringi oleh Petapakan Barong Ket dan Barong Landung. Ada juga Tedung dan Kober yang juga buatan dari warga yang menambah kesakralan dari tradisi upacara Ngerebeg ini.

Bendesa Adat Kukuh, I Gede Subawa menambahkan antusiasme krama sangatlah tinggi saat prosesi ngerebeg dilaksanakan. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua ikut terlibat dalam prosesi ini. Termasuk juga petapakan barong ket dan barong Landung mengiringi prosesi sakral ini.

“Tradisi ini sudah dijalankan secara turun temurun, dan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam semesta. Ritual ini dilaksanakan secara tulus iklas tanpa adanya paksaan, sehingga krama dengan senang hati nangkil dalam prosesi ini” ungkapnya.

Baca Juga: Kasus Kekerasan Seksual Anak di Jembrana Naik Dua Kali Lipat Sepanjang 2025

Di sisi lain, pelaksanaan Upacara Ngerebeg juga tak bisa dipungkiri dapat mendorong masyarakat agar dapat berkumpul. Hal ini merupakan suatu alat untuk mempersatukan masyarakat Desa Kukuh tanpa membedakan status sosial dan kedudukan, karena masyarakat Desa Kukuh mempunyai tanggung jawab yang tinggi dalam menangani keselamatan dan kesejahteraan masyarakat di lingkungan Desa kukuh.

“Inilah sebabnya ritual Ngerebeg sebagai prosesi pamungkas dalam pelaksanaan pujawali di Pura Alas Kedaton, Artinya sudah labda karya sidaning don,” singkatnya. (dik)

 

 

 

Editor : I Putu Mardika
#marga #pura #desa kukuh #Ngerebeg #tabanan #alas kedaton