Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rauh) memiliki cucu yang bernama Mpu Mas. Setelah Mpu Mas di dwijati, beliau bergelar Ida Pedanda Sakti Magelung dan beliau membangun sebuah pasraman sekaligus menjadi parhyangan beliau di munduk galang (Pengosekan) tepatnya di Pura Taman Limut.
Dengan bukti beliau dianugerahi teken (tongkat), suamba (sarana pemujaan) dan mahkota tarian Joged, sebuah tari kesukaan Dang Hyang Nirartha yang sampai sekarang sangat disakralkan di Pura Taman Limut Pengosekan.
Jero Mangku Karya selaku Pengempon Pura Taman Limut Pengosekan menjelaskan, Tari Joged Pingit ini termasuk pada seni wali atau tari wali, karena pada saat prosesi pementasan digelar ada beberapa tahap yang harus dilakukan oleh penari dan pengibing Gelungan Joged Pingit.
Sebelum dipentaskan terlebih dahulu ada upacaranya, yaitu melakukan upacara nedunang gelungan joged dengan melaksanakan purwa daksina.
Kemudian para penabuh dan penari melakukan pesucian di madya mandala dengan upacara biakala yang dipuput oleh pemangku Pura Taman Limut. Begitu juga yang akan ngibing harus melaksanakan pesucian sebelumnya dan berdoa meminta ijin akan ngayah ngibing.
Baca Juga: Melalui Jelantik, FAD Denut Upayakan Lestarikan Budaya dan Permainan Tradisional
“Pementasan Tari Joged Pingit dilaksanakan setiap piodalan nadi Buda Cemeng Menail (1 tahun) sekali yaitu saat upacara piodalan. Selain itu, tari Joged Pingit ini juga dipercaya oleh masyarakat memiliki fungsi sebagai kesuburan bagi para petani yang memiliki lahan di sekitar pura Taman Limut,” jelasnya.
Tari Joged Pingit memiliki akar sejarah spiritual yang kuat. Berdasarkan penuturan pemangku dan tetua desa, tarian ini berasal dari peninggalan suci Dang Hyang Nirartha, yang diwariskan kepada cucunya Ida Mpu Mas dalam bentuk gelungan Joged Pingit.
Gelungan ini diyakini mengandung daya spiritual (taksu), sehingga disakralkan dan hanya tedun masolah dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya ketika piodalan nadi di Pura Taman Limut.
Ia menambahkan, awal mula dari pementasan Joged Pingit adalah pernah terjadi kegagalan panen disekitar Pura Taman Limut. Segala macam cara sudah dilakukan tetapi tidak ada hasilnya.
Kemudian masyarakat yang memiliki lahan disana mengambil jalan niskala dengan memohon di Pura Taman Limut agar diberikan kesuburan ladang dan tidak mengalami gagal panen.
“Maka semenjak dari itu dipentaskanlah Tari Joged Pingit ini yang dimana dulunya tarian ini adalah tarian kesenangan dari Dang Hyang Nirartha. Dengan demikian tari Joged Pingit adalah sebagai simbol dari rasa syukur masyarakat atas kesuburan ladang yang diberikan,” ungkapnya.
Baca Juga: Prabowo Angkat Isu Sampah Pantai Bali, De Gadjah: Sudah Jadi Perhatian Sejak Akhir 2025
Tidak hanya sebagai kesuburan ladang tetapi juga di Pura Taman Limut dipercayai oleh masyarakat sekitar untuk memohon kesuburan (anak) bagi suami istri yang belum mempunyai keturunan.
Gelungan Joged Pingit sebut Jro Mangku Karya bukan sekadar atribut penari, melainkan diyakini sebagai Pratima atau media turunnya kekuatan spiritual dari Tuhan. Gelungan Joged Pingit diperlakukan sebagai pratima yang hanya dapat ‘ditedunang’ (diturunkan, Red) melalui upacara tertentu.
“Hal ini mencerminkan prinsip tattwa bahwa realitas tertinggi (Brahman) dapat hadir melalui simbol (pratima) sebagai wahana pemujaan,” sebutnya.
Dalam pementasan Tari Joged Pingit, dravyayadnya diinterpretasikan dengan sebuah gelungan jogged pingit. Gelungan joged pingit tersebut bukan sekadar atribut tari, tetapi gelungannya ditedunang melalui prosesi yadnya yang menjadikan gelungan tersebut memiliki representasi energi niskala
Ketika para penari yang terpilih untuk mundut nyolahang gelungan joged pingit, terlebih dahulu harus ada upacara biakala yakni penyucian diri sebelum mulai menari. Tidak hanya itu pada saat menari pun harus selalu ingat dengan diri karena ini merupakan tari joged pingit bukan tarian joged seperti pada umumnya.
Ada gerak-gerak tertentu yang sudah menjadi pakem tarian ini. Begitu juga halnya dengan para pengibing harus mampu menguasai dirinya dan menyadarkan dirinya untuk ngayah bukan ngibing dengan memperlihatkan gerakan yang tidak senonoh terlebih harus bisa mengendalikan pikirannya.
Semua pihak yang terlibat dalam pementasan tari joged pingit ini tentunya telah melaksanakan pengorbanan melalui pemusatan pikiran, mulai dari serati banten yang bertugas mempersiapkan sarana upakara sebelum gelungan joged pingit tedun, para penabuh yang harus fokus dengan alunan gambelannya.
Para penari yang harus mampu mengeksplorasi gerakan sendiri namun tidak boleh terlepas dari etika/pakem dan para penonton/pengibing yang ikut memusatkan pikiran ketika pementasan berlangsung sehingga tercipta suasana spiritual mendalam.
“Masyarakat Pengosekan meyakini bahwa Tari Joged Pingit hanya boleh ditarikan ketika piodalan nadi dan dipercaya untuk membawa kesuburan bagi masyarakat yang memiliki ladang di sekitar pura taman limut, karena dianggap sebagai manifestasi kekuatan suci Ida Ratu Mas Magelung,” (dik)
Editor : I Putu Mardika