Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Gerabah Banyuning: Diwariskan Turun-temurun, Jadi Penyuplai Sarana Upacara

I Putu Mardika • Minggu, 15 Februari 2026 | 07:42 WIB

Coblong atau kerap disebut payuk kedas menjadi salah satu sarana upakara yang dihasilkan oleh Pengrajin Gerabah di Banyuning
Coblong atau kerap disebut payuk kedas menjadi salah satu sarana upakara yang dihasilkan oleh Pengrajin Gerabah di Banyuning
BALIEXPRESS.ID-Tradisi pembuatan gerabah di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, hingga kini masih bertahan sebagai denyut kebudayaan sekaligus penopang kebutuhan upacara umat Hindu di Bali. Gerabah bukan sekadar benda pakai, melainkan bagian integral dari sistem religi yang menyatu dalam setiap tahapan kehidupan umat Hindu di Bali.

Dalam berbagai upacara keagamaan, gerabah memiliki posisi penting. Teks Lontar Eka Prathama menyebutkan bahwa pada upacara potong gigi (metatah), digunakan sarana berupa periuk kecil, tempayan pere, carat, dan periuk.

Penggunaan sarana tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi sarat makna simbolik sebagai representasi perjalanan hidup manusia. Upacara metatah dimaknai sebagai proses peningkatan status anak menuju remaja, sebuah fase transisi menuju kehidupan sosial yang lebih matang.

Secara umum, para perajin gerabah di Bali masih memproduksi berbagai bentuk gerabah untuk kepentingan upakara agama, perlengkapan rumah tangga, hingga elemen dekoratif. Namun, di Banyuning, fakta menunjukkan adanya tantangan serius terkait regenerasi perajin.

Mayoritas perajin yang aktif saat ini telah memasuki usia dewasa hingga lanjut. Generasi muda Banyuning cenderung memilih bekerja di sektor pariwisata, perusahaan swasta, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan tradisi gerabah dalam beberapa dekade mendatang.

“Teknik pembuatan gerabah seperti ini sudah kami warisi secara turun-temurun. Saya belajar dari ibu,” ungkap Kadek Bintang, salah satu perajin gerabah Banyuning.

Ia menjelaskan bahwa proses pembuatan dimulai dari pengolahan bahan, pembentukan, pengeringan, hingga pembakaran.

“Kami membuat gerabah hanya menggunakan tangan dan beberapa alat bantu seperti kayu. Tidak ada mesin,” tambahnya.

Gerabah Banyuning dikenal sebagai produk yang sepenuhnya dibuat dengan teknik tradisional. Tanah liat yang digunakan berasal dari wilayah Bungkulan, Buleleng.

Tanah kasar yang baru diambil dijemur hingga kering, kemudian dipukul menggunakan kayu dan disaring dengan sidi untuk mendapatkan butiran paling halus. Setelah itu, tanah diulet secara manual dengan campuran air hingga mencapai tekstur kalis.

Adonan tanah yang telah siap kemudian dibentuk dengan teknik pijit yang dipadukan teknik putar. Untuk wadah berdinding tinggi seperti periuk, digunakan teknik tatap landas.

Setelah terbentuk, gerabah dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering, sebelum akhirnya dibakar menggunakan api kecil berbahan abu, serutan kayu, dan jerami selama dua hingga tiga hari.

Secara karakteristik, gerabah Banyuning memiliki bentuk yang cenderung tebal dari dasar hingga bibir. Permukaannya agak kasar dan relatif lebih mudah pecah, karena hanya menggunakan tanah lokal tanpa campuran bahan perekat tambahan.

Warna gerabah dominan coklat kemerahan dengan tingkat kecerahan tertentu, yang diduga berasal dari karakter tanah serta proses pembakaran bersuhu rendah.

Produk yang dihasilkan cukup beragam, antara lain payuk kedas, pasepan, penogean, paso, pulu, gentong, kekeb, coblong, pulu tegteg, sesenden, dulang, sangkon, keren atau kampar, hingga pot bunga. Namun, mayoritas produksi kini lebih difokuskan pada kebutuhan upacara keagamaan.

“Pesanan yang kami terima sebagian besar untuk keperluan upacara. Jadi kami lebih banyak membuat pasepan, penogean, kekeb, payuk kedas, sesenden, dan dulang,” jelas Kadek Bintang.

Senada dengan itu, Luh Puriasih, perajin lainnya, menegaskan bahwa permintaan gerabah untuk upacara hingga kini belum pernah terputus.

“Selama saya bekerja, produk yang paling banyak dibuat adalah pasepan, kekeb, payuk kedas, penogean, dan sesenden. Itu sesuai pesanan dari pengepul,” ujarnya.

Prosesi pembuatan sarana upakara yang berbahan gerabah di Banyuning
Prosesi pembuatan sarana upakara yang berbahan gerabah di Banyuning

Meski demikian, perubahan selera dan preferensi material dalam masyarakat turut memengaruhi jenis produk yang diproduksi. Beberapa sarana upacara berbahan tanah mulai tergantikan oleh material lain seperti kayu, viber, plastik, perak, dan kuningan yang dianggap lebih tahan lama dan estetis.

Sebagai contoh, dulang tanah atau senden kini hampir tidak lagi digunakan. Umat Hindu lebih memilih wanci atau dulang berbahan kayu maupun viber yang dihias ukiran dan dicat perada. Pergeseran ini secara langsung berdampak pada penurunan produksi beberapa jenis gerabah tradisional.

Puriasih menambahkan, gerabah Banyuning memang tidak mampu bersaing secara kuantitas dengan produk berbasis mesin. Produksi manual membuat jumlahnya terbatas dan memerlukan waktu lebih lama.

“Kami selaku pengrajin meyakini bahwa gerabah ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama karena proses pembuatan yang tradisional dan memiliki makna religius,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#gerabah #upakara #hindu #tradisi #Banyuning