Dalam konteks pendidikan agama Hindu, penguatan karakter tidak dapat dilepaskan dari peran susastra atau literatur suci Hindu sebagai sumber nilai dan pedoman etis.
Dosen IAHN Mpu Kuturan, Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd, yang juga dikenal sebagai peneliti Widyalaya, menegaskan bahwa strategi membangun karakter dan moral siswa harus bertumpu pada ajaran susastra Hindu secara sistematis dan kontekstual. Menurutnya, pendidikan agama Hindu bukan sekadar transfer pengetahuan keagamaan, melainkan proses pembentukan manusia susila.
“Susastra Hindu menyimpan nilai-nilai universal tentang dharma, pengendalian diri, tanggung jawab, dan kesadaran spiritual. Jika ini diinternalisasi dengan benar dalam pembelajaran, maka siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara moral,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia menjelaskan bahwa konsep susastra dalam pendidikan karakter berakar pada ajaran susila, yakni tata perilaku yang baik dan harmonis. Kata su berarti baik, dan sila berarti tingkah laku. Dengan demikian, susila menjadi fondasi etika dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan karakter dalam Hindu, lanjutnya, selalu berkaitan dengan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Kaya Parisudha.
“Ketika siswa dibiasakan berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik, di situlah karakter terbentuk. Susastra memberikan kerangka nilai yang jelas tentang mana yang patut dilakukan dan mana yang harus dihindari,” jelasnya.
Lebih jauh, Dr. Bagus Purnomo menambahkan pentingnya Bhagavadgita sebagai teks sentral dalam membangun moral siswa. Kitab ini, menurutnya, tidak hanya berbicara tentang teologi, tetapi juga tentang pergulatan etis manusia. Ia mengibaratkan konflik batin Arjuna di medan Kurukshetra sebagai simbol kebimbangan moral generasi muda saat ini.
“Arjuna mengalami krisis moral sebelum bertindak. Sri Krishna kemudian memberikan pencerahan tentang dharma, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Ini sangat relevan bagi siswa yang hari ini sering berada dalam dilema antara nilai moral dan tekanan lingkungan,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa ajaran karmayoga dalam Bhagavadgita mengajarkan siswa untuk bertindak tanpa pamrih dan tidak terjebak pada ambisi egoistik. Sementara ajaran tentang triguna—sattva, rajas, dan tamas—membantu siswa memahami dinamika sifat dalam dirinya.
“Jika sifat sattva atau kebijaksanaan dikembangkan melalui disiplin dan refleksi, maka karakter yang luhur akan tumbuh secara alami,” katanya.
Selain Bhagavadgita, ia juga menekankan peran Sarasamuccaya sebagai pedoman etika praktis. Kitab ini banyak menguraikan ajaran moral yang bersifat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari, termasuk relasi anak dengan orang tua dan murid dengan guru.
“Sarasamuccaya mengajarkan bahwa menjadi manusia adalah kesempatan langka untuk berbuat kebajikan. Di sana ditegaskan pentingnya hormat kepada orang tua, disiplin diri, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini sangat penting ditanamkan sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan karakter berbasis Sarasamuccaya dapat diwujudkan melalui pembiasaan sikap hormat, empati sosial, dan tanggung jawab pribadi di lingkungan sekolah. Ia menilai bahwa pembelajaran sloka harus disertai diskusi kontekstual agar siswa memahami makna dan relevansinya dalam kehidupan modern.
Tidak hanya itu, Dr. Purnomo juga mengangkat ajaran Canakya Nitisastra sebagai referensi penting dalam membangun disiplin karakter. Kitab ini, katanya, menekankan peran orang tua dan guru dalam mendidik anak dengan ketegasan dan konsistensi.
“Canakya menegaskan bahwa anak yang terlalu dimanjakan justru akan tumbuh tanpa karakter. Disiplin diperlukan, bukan dalam bentuk kekerasan, tetapi dalam bentuk ketegasan aturan dan pembiasaan tanggung jawab,” jelasnya.
Ia mengibaratkan ajaran Canakya tentang anak suputra sebagai simbol pentingnya pendidikan karakter dalam keluarga.
“Satu anak berbudi luhur dapat mengharumkan nama keluarga dan lingkungannya. Ini menunjukkan bahwa kualitas moral lebih utama daripada sekadar capaian material,” tambahnya.
Dalam pandangannya, tantangan terbesar pendidikan saat ini adalah bagaimana menjadikan susastra Hindu tidak hanya sebagai bahan bacaan ritual, tetapi sebagai sumber refleksi etis dalam kehidupan siswa. Ia mendorong sekolah untuk mengintegrasikan literasi susastra dalam kurikulum serta melibatkan keluarga dalam pembentukan karakter.
“Pendidikan moral tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah. Keluarga dan lingkungan sosial harus berjalan seiring. Susastra Hindu memberikan pedoman komprehensif untuk membangun manusia yang utuh—cerdas intelektual, matang emosional, dan sadar spiritual,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan karakter adalah investasi jangka panjang bagi peradaban.
“Jika generasi muda memahami dharma dan menyadari konsekuensi karmaphala dari setiap tindakannya, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Inilah tujuan sejati pendidikan agama Hindu membentuk manusia susila yang membawa kedamaian bagi dirinya dan masyarakat,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika