Advertorial Bali Balinese Bisnis Features Hiburan Internasional Kesehatan Kolom Nasional Nusantara Politik Sportainment Wisata & Travel

Meluruskan Pemahaman Tradisi Patrilineal di Bali Anak Perempuan Menjadi Penjaga Dharma Keluarga

I Putu Mardika • 2026-03-15 16:34:45
Prosesi ritual tiga bulanan bagi umat Hindu di Bali ( I Putu Mardika/Bali Express)
Prosesi ritual tiga bulanan bagi umat Hindu di Bali ( I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID-Kehidupan masyarakat Hindu di Bali seringkali perbincangannya mengarah tentang pentingnya memiliki anak laki-laki masih sering terdengar hingga kini. Tidak jarang dalam percakapan sehari-hari muncul kalimat yang dirasakan cukup menggetarkan nurani.

“Kalau tidak punya anak laki-laki, nanti siapa yang melanjutkan keturunan?” atau “Kalau tidak ada anak laki-laki, siapa yang akan mengurus leluhur?” Ungkapan semacam ini menunjukkan bahwa dalam sebagian masyarakat masih kuat keyakinan bahwa anak laki-laki adalah penerus utama keluarga.

Pandangan tersebut sering menimbulkan kecemasan bagi keluarga yang hanya memiliki anak perempuan atau bahkan belum memiliki anak sama sekali. Namun jika ditelaah lebih mendalam melalui ajaran sastra Hindu, pandangan tersebut sebenarnya perlu dipahami secara lebih bijaksana dan tidak semata-mata dimaknai secara sempit.

Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, menjelaskan bahwa dalam banyak masyarakat tradisional yang menganut sistem patrilineal, anak laki-laki memang sering dianggap memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan garis keluarga, menjaga tempat suci keluarga, serta melaksanakan berbagai upacara untuk leluhur.

“Pandangan ini kemudian membentuk persepsi bahwa anak laki-laki adalah harapan utama keluarga. Akibatnya, sebagian orang merasa khawatir atau bahkan sedih jika hanya memiliki anak perempuan,” ujarnya.

Baca Juga: Polres Gianyar dan Pemkab Gianyar Gelar Mudik Ceria 2026, 113 Pemudik Diberangkatkan ke Jawa Timur

Menurut Luh Irma, pandangan tersebut sebenarnya tidak sepenuhnya keliru, tetapi sering kali dipahami tanpa melihat makna filosofis yang terkandung dalam ajaran Hindu. Dalam sastra Hindu, konsep tentang keturunan sering dikaitkan dengan ajaran Pitra Ṛṇa, yaitu hutang suci manusia kepada leluhur.

Salah satu sloka yang sering dijadikan rujukan terdapat dalam kitab Manava Dharmasastra IX.137 yang berbunyi: Putrena pitarah trayante, putrena labhate sutam, putrena narakam yati, tasmad putro nigadyate. Sloka tersebut sering diartikan bahwa melalui putra para leluhur memperoleh kebahagiaan di alamnya. Namun Luh Irma menegaskan bahwa kata putra dalam sloka tersebut tidak boleh dimaknai secara literal hanya sebagai anak laki-laki.

Ia menjelaskan bahwa secara etimologis dalam bahasa Sanskerta, kata putra berasal dari dua suku kata, yaitu pu yang berarti penderitaan atau neraka, dan tra yang berarti menyelamatkan. Dengan demikian, makna putra adalah seseorang yang mampu menyelamatkan orang tuanya dari penderitaan.

“Makna ini sebenarnya tidak terbatas pada jenis kelamin. Yang dimaksud adalah keturunan yang hidup dalam dharma dan mampu mengangkat martabat keluarganya. Anak perempuan yang berbakti dan menjalankan dharma juga dapat menjadi penyelamat bagi orang tua dan leluhurnya,” jelasnya.

Realitas kehidupan modern juga menunjukkan bahwa kebahagiaan keluarga tidak ditentukan oleh jenis kelamin anak. Ada keluarga yang memiliki anak laki-laki tetapi kehidupan rumah tangganya penuh konflik. Sebaliknya, banyak keluarga yang hanya memiliki anak perempuan tetapi hidup dalam keharmonisan dan kasih sayang. Dalam ajaran Hindu, kesetaraan nilai manusia sesungguhnya telah diajarkan dengan sangat jelas.

Hal ini dapat dilihat dalam kitab Bhagavad Gita V.18 yang menyatakan bahwa orang bijaksana memandang semua makhluk dengan pandangan yang sama. Sloka tersebut mengajarkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh status sosial, kelahiran, maupun gender, melainkan oleh kesadaran dharma dan perilaku dalam kehidupan.

Luh Irma menambahkan bahwa dalam berbagai pustaka suci Hindu, perempuan justru ditempatkan pada posisi yang sangat mulia. Hal ini tercermin dalam sloka terkenal dari kitab Manava Dharmasastra III.56 yang berbunyi: Yatra nāryastu pūjyante ramante tatra devatāḥ, yatraitāstu na pūjyante sarvāstatraphalāḥ kriyāḥ.

Baca Juga: BPBD Gianyar Ikut Percepatan Penanganan Banjir Bandang di Kecamatan Banjar, Buleleng

Sloka tersebut berarti bahwa di mana perempuan dihormati, di sanalah para dewa merasa bahagia dan melimpahkan anugerahnya. Sebaliknya, di mana perempuan tidak dihormati, semua upacara suci menjadi tidak bermakna.

“Sloka ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap perempuan adalah fondasi keharmonisan keluarga dan masyarakat. Jika anak perempuan dianggap tidak bernilai, maka pandangan itu sebenarnya bertentangan dengan ajaran dharma,” jelasnya.

Pertanyaan lain yang sering muncul di tengah masyarakat adalah bagaimana jika sebuah keluarga tidak memiliki anak sama sekali. Tidak sedikit pasangan yang merasa khawatir bahwa leluhur akan murka jika mereka tidak memiliki keturunan. Namun menurut Luh Irma, dalam ajaran Hindu nilai kehidupan manusia tidak hanya diukur dari keturunan biologis.

Manusia tetap dapat menjalankan dharma melalui berbagai cara seperti melakukan yadnya, berbuat kebajikan kepada masyarakat, mendidik generasi muda, maupun menjalankan kehidupan spiritual. Banyak tokoh suci dalam tradisi Hindu yang tidak memiliki keturunan, tetapi tetap dihormati karena kebijaksanaan dan dharmanya.

Selain itu, dalam tradisi patrilineal sering muncul pertanyaan tentang posisi anak perempuan setelah menikah. Banyak yang beranggapan bahwa setelah menikah, seorang perempuan sepenuhnya menjadi bagian dari keluarga suaminya sehingga tidak lagi memiliki tanggung jawab kepada orang tua kandungnya.

Namun Luh Irma menegaskan bahwa dari perspektif dharma, bakti kepada orang tua tidak pernah terputus oleh pernikahan. Dalam ajaran Hindu, menghormati orang tua merupakan bagian dari konsep Tri Ṛṇa, yaitu tiga kewajiban suci manusia kepada Tuhan, leluhur, dan guru.

“Bakti kepada orang tua adalah dharma yang melekat pada setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan. Pernikahan tidak pernah menghapus kewajiban moral tersebut,” katanya.

Dalam realitas kehidupan saat ini, banyak contoh yang menunjukkan bahwa anak perempuan justru menjadi sosok yang paling setia merawat orang tua hingga usia lanjut. Mereka menjaga keharmonisan keluarga, mendampingi orang tua dalam masa tua, serta meneruskan nilai-nilai spiritual yang diwariskan dalam keluarga.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai seorang anak tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh kasih sayang, tanggung jawab, dan kesadaran dharma yang dijalankannya.

Di tengah perubahan zaman, semakin banyak generasi muda yang mulai menyadari bahwa warisan keluarga bukan sekadar soal nama atau garis keturunan. Warisan sejati adalah nilai kehidupan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Hilirisasi Riset: Hasil Laboratorium Didorong Tembus Industri

“Yang membuat keluarga mulia bukan jenis kelamin anak, tetapi karakter dan dharmanya,” ujar Luh Irma. Ia juga mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali pandangan lama yang terlalu menitikberatkan pada anak laki-laki.

Jika anak laki-laki selalu dianggap sebagai penyelamat leluhur, mengapa dalam kenyataan banyak orang tua justru dirawat oleh anak perempuan? Jika garis keturunan dianggap sebagai segalanya, mengapa kebahagiaan keluarga tetap bergantung pada kasih sayang antar anggota keluarga?

Menurut Luh Irma, pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk membuka cara pandang yang lebih bijaksana dalam memahami ajaran dharma. Ajaran agama sejatinya tidak diciptakan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk mengajarkan nilai kasih sayang, penghormatan, serta keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam kehidupan manusia.

Pada akhirnya, ajaran Hindu tidak pernah menempatkan nilai keluarga pada jenis kelamin anak. Kehadiran anak laki-laki tidak otomatis menjamin kebahagiaan keluarga, dan ketiadaan anak laki-laki tidak membuat sebuah keluarga menjadi hina.

Menurutnya, yang membuat keluarga mulia adalah kehidupan yang selaras dengan dharma, kasih sayang antar anggota keluarga, serta penghormatan kepada leluhur dan orang tua. Ketika seseorang hidup dalam dharma, leluhur tidak akan murka, tetapi justru berbahagia melihat keturunannya menjalani kehidupan yang penuh kebajikan.

Karena pada akhirnya, anak yang berbakti adalah kebanggaan keluarga, dan anak yang hidup dalam dharma adalah kebahagiaan bagi para leluhur. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#anak #bali #hindu #laki-laki