BALIEXPRESS.ID – Hari Raya Nyepi tidak hanya dipahami sebagai pergantian Tahun Baru Saka, tetapi juga sebagai praktik nyata ekosofi yang berakar kuat pada kearifan leluhur Bali. Dalam suasana hening tanpa aktivitas, tersimpan ajaran mendalam tentang bagaimana manusia menjaga harmoni dengan alam dan Tuhan.
Dosen UHN I Gusti Bagus Sugriwa, Putu Eka Sura Adnyana, menjelaskan bahwa Nyepi merupakan momentum reflektif yang melampaui sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, Nyepi adalah representasi nyata dari konsep ekosofi, yakni perpaduan antara nilai ekologi dan filsafat hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semesta.
Baca Juga: Program MBG Diangkat di Forum PBB, Indonesia Tekankan Investasi Gizi untuk Masa Depan Generasi
Ekosofi sendiri dimaknai sebagai kebijaksanaan hidup yang menuntut manusia untuk tidak bersikap eksploitatif terhadap alam. "Dalam perspektif ini, manusia memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk menjaga keseimbangan lingkungan, sekaligus membangun kesadaran batin dalam memperlakukan alam secara bijaksana, " jelasnya, Rabu (18/3).
Dalam tradisi Bali, nilai-nilai ekosofi telah lama tertanam. Alam tidak dipandang sebagai objek semata, melainkan sebagai entitas sakral yang harus dihormati. Keseimbangan hidup diyakini hanya dapat tercapai apabila manusia mampu menjaga keharmonisan dengan alam dan kekuatan adikodrati.
Hal ini tercermin jelas dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yakni Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan. Keempatnya bukan sekadar bentuk pembatasan aktivitas, tetapi juga cara memberi ruang bagi bumi untuk “bernapas” dan beristirahat dari berbagai tekanan aktivitas manusia.
Rangkaian Hari Raya Nyepi juga mengandung makna ekologis yang mendalam. Upacara Melasti, misalnya, menegaskan pentingnya air sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga kesuciannya. Ritual ini menjadi simbol penyucian diri sekaligus penghormatan terhadap alam.
Selanjutnya, Tawur atau Bhuta Yajña merupakan bentuk harmonisasi dengan unsur-unsur alam semesta.
"Melalui persembahan ini, masyarakat Bali berupaya menjaga keseimbangan antara manusia dan energi alam, sekaligus menetralkan kekuatan negatif yang dapat mengganggu harmoni, " bebernya.
Tahapan Ngrupuk atau pengerupukan yang ditandai dengan pengarakan ogoh-ogoh juga memiliki makna simbolis. Prosesi ini mencerminkan upaya pembersihan diri dari sifat-sifat negatif, sebelum akhirnya memasuki puncak Nyepi dalam keheningan total sebagai bentuk refleksi diri dan pemulihan alam.
Penutup rangkaian Nyepi, yakni Ngembak Geni, dimaknai sebagai awal baru. Pada momen ini, masyarakat saling memaafkan dan mempererat hubungan sosial, sekaligus memperkuat komitmen menjaga keharmonisan hidup.
Lebih lanjut, Putu Eka Sura Adnyana menegaskan bahwa konsep Tri Hita Karana menjadi landasan penting dalam ekosofi Nyepi. "Konsep ini menekankan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan, " terang Eka Sura.
Secara nyata, Nyepi juga memberikan dampak ekologis yang signifikan. Penghentian aktivitas selama 24 jam terbukti mampu mengurangi polusi udara, menekan konsumsi energi, dan meminimalkan produksi sampah. Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Bali memiliki relevansi kuat dalam menjawab tantangan lingkungan global.
Melalui momentum Nyepi, masyarakat diajak untuk tidak hanya menjalankan ritual, tetapi juga membangun kesadaran kolektif dalam menjaga alam. Dengan menghidupkan kembali nilai-nilai leluhur, diharapkan tercipta kehidupan yang harmonis, berkelanjutan, dan selaras dengan dharma manusia sebagai bagian dari alam semesta.*