Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aci Penaung Bayu di Pura Batu Madeg Besakih: Dilaksanakan Setiap Tilem Sasih Kalima, Rangkaian Aci Ida Bhatara Turun Kabeh

I Putu Mardika • Senin, 23 Maret 2026 | 18:57 WIB
Aci Penaung Bayu di Pura Batu Madeg pada beberapa waktu lalu
Aci Penaung Bayu di Pura Batu Madeg pada beberapa waktu lalu

BALIEXPRESS.ID-Di kawasan suci Pura Batu Madeg yang berada dalam kompleks Pura Besakih, sebuah ritual sakral rutin digelar setiap tahun. Upacara Aci Penaung Bayu, yang dilaksanakan setiap Tilem Sasih Kalima, menjadi bagian penting dari rangkaian besar Aci Ida Bhatara Turun Kabeh.

Kelian Pemaksan Pura Batu Madeg, Jro Mangku Nengah Suartamayasa, menjelaskan bahwa Aci Penaung Bayu merupakan salah satu dari empat rangkaian Aci Nyatur yang wajib dilaksanakan sebelum puncak karya di Besakih.

“Aci Penaung Bayu ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bagian dari sistem kosmologis yang sudah diwariskan leluhur. Ia berkaitan erat dengan keseimbangan bayu atau energi kehidupan yang menopang alam semesta,” jelasnya.

Menurutnya, istilah “Nyatur” berasal dari kata catur yang berarti empat, merujuk pada empat pura utama dalam sistem ritual Besakih, yakni Pura Gelap, Pura Ulun Kulkul, Pura Batu Madeg, dan Pura Kiduling Kreteg. Rangkaian ini dimulai dari Aci Pengenteg Jagat di Pura Gelap, dilanjutkan Aci Pengurip Bumi di Pura Ulun Kulkul, kemudian Aci Penaung Bayu di Pura Batu Madeg, dan ditutup dengan Aci Penyaeb Brahma di Pura Kiduling Kreteg.

“Semua rangkaian ini tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak dilaksanakan, maka Aci Ida Bhatara Turun Kabeh tidak dapat digelar. Itulah sebabnya Aci Penaung Bayu selalu dilaksanakan secara konsisten dari dulu hingga sekarang,” tegas Jro Mangku Suartamayasa.

Persiapan upacara dimulai sejak tiga hari sebelum puncak karya. Umat melakukan kegiatan mereresik atau pembersihan area pura, memasang umbul-umbul, rontek, dan tedung. Menariknya, seluruh ornamen dihiasi dengan wastra serba hitam yang melambangkan Dewa Wisnu sebagai penguasa arah utara dan pemelihara alam semesta. Simbolisme ini menunjukkan bahwa upacara ini berorientasi pada pemeliharaan kehidupan dan energi kosmik.

Tahapan berikutnya adalah matur piuning dengan menghaturkan banten pejati sebagai bentuk permohonan restu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. “Pejati ini adalah simbol kesungguhan hati. Melalui banten ini, umat menyatakan niat tulus untuk melaksanakan yadnya serta memohon keselamatan dan kelancaran,” jelasnya.

Baca Juga: Tutup Jegeg Bungan Desa 2026, Bupati Adi Arnawa Apresiasi Kreativitas Pemuda

Sehari sebelum puncak upacara, dilaksanakan prosesi nedunang Ida Bhatara dari Pura Penataran Agung menuju Pura Batu Madeg. Prosesi ini menggunakan berbagai sarana upacara seperti peras daksina, pengulapan, paryascita, dan bayakaon yang masing-masing memiliki fungsi penyucian dan penetralisir energi negatif.

Prosesi ini diiringi dengan kidung suci dan gamelan, menciptakan suasana sakral yang memperkuat dimensi spiritual upacara.

“Ketika Ida Bhatara tedun, itu bukan sekadar simbol, tetapi representasi kehadiran kekuatan ilahi yang menyaksikan dan memberkati jalannya upacara,” ujar Jro Mangku Suartamayasa.

Dalam pelaksanaannya, Aci Penaung Bayu menggunakan berbagai sarana upakara yang kompleks dan sarat makna simbolik. Salah satunya adalah dangsil, struktur bertingkat yang menyerupai meru dan dihiasi berbagai jenis jajan Bali.

Setiap elemen dalam dangsil memiliki makna filosofis, seperti jaja gina yang melambangkan pengetahuan, uli merah putih sebagai simbol kebahagiaan dan bhakti kepada orang tua, hingga wajik yang melambangkan kecintaan terhadap sastra.

Selain itu, terdapat pula banten pulegembal yang menggambarkan keseluruhan isi alam semesta, mulai dari laut, tumbuhan, hewan, manusia, hingga simbol-simbol Dewata Nawa Sanga. “Pulegembal ini adalah miniatur jagat raya. Semua unsur kehidupan direpresentasikan di dalamnya sebagai bentuk harmonisasi antara bhuana alit dan bhuana agung,” paparnya.

Banten suci juga menjadi bagian penting dalam upacara ini, berfungsi sebagai sarana penyucian. Dengan struktur enam tamas yang berisi berbagai elemen seperti buah, jajan, nasi, dan simbol lingga, banten ini menegaskan dimensi sakral dari keseluruhan proses ritual.

Lebih jauh, Jro Mangku Suartamayasa menekankan bahwa makna utama Aci Penaung Bayu adalah kesadaran akan pentingnya menjaga sumber energi kehidupan. “Bayu itu adalah tenaga hidup. Kalau bayu tidak seimbang, maka kehidupan juga tidak seimbang. Melalui upacara ini, umat diingatkan untuk menjaga harmoni dengan alam,” ujarnya.

Dalam perspektif historis, pelaksanaan upacara ini juga merujuk pada teks lontar, khususnya Lontar Raja Purana Besakih yang menjadi pedoman ritual di kawasan Besakih sejak masa pemerintahan Sri Kresna Kepakisan. Dalam lontar tersebut disebutkan:

“Iki caritaning pangandika ring Gunung Agung mungguwing Prasasti Raja Purna, pamancangah Anglurah Kabayan ring Gunung Agung, rumaksa saturan ring sedahang Lor, mesent ring gumi Baledan saturan, tunggal pamongmong, sapara pangandika …”

Baca Juga: Pj Perbekel Sayan Apresiasi Nyepi Kondusif, Ogoh-Ogoh “Sang Kala Asu Dasong” Jadi Sorotan Filosofis

Yang berarti bahwa segala ketentuan dan kewajiban di Pura Besakih telah diatur dalam piagam raja dan harus dijaga serta dilaksanakan oleh para pemangku dan umat.

Lebih tegas lagi dalam lontar tersebut dinyatakan:

“Ling Bhatara, unduh kita manusa, langgeng ring pangandikaku… tan pangiring pangandika iki, wastu kita namu-namu dadi kita hentek-hentek iki babad: lawang apit lawang …”

Maknanya, umat manusia diwajibkan untuk menaati titah suci tersebut, dan jika tidak, akan mendapatkan konsekuensi spiritual. Kutipan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan upacara seperti Aci Penaung Bayu bukan hanya tradisi, tetapi juga kewajiban religius yang memiliki legitimasi tekstual dan teologis.

Di sisi lain, Pura Batu Madeg sendiri memiliki keunikan historis. Di dalamnya terdapat batu tegak (menhir) yang merupakan simbol pemujaan Dewa Wisnu sejak masa megalitikum. Meskipun sistem pemujaan telah berkembang menjadi Siwa Sidhanta, simbol tersebut tetap dipertahankan sebagai bentuk kontinuitas tradisi.

“Ini menunjukkan bahwa dalam Hindu Bali, perbedaan sekte tidak menjadi konflik, tetapi justru saling melengkapi. Paksa Siwa Pasupata dan Siwa Sidhanta berpadu dalam satu ruang sakral,” jelas Jro Mangku.

Selain dimensi spiritual, upacara ini juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Seluruh rangkaian kegiatan dilakukan secara gotong royong melalui sistem ngayah. Masyarakat terlibat dalam berbagai aktivitas seperti membuat banten, memainkan gamelan, hingga menyiapkan sarana upacara.

“Di sini terjadi interaksi sosial yang sangat intens. Generasi muda belajar langsung dari yang lebih tua, bukan hanya tentang teknik membuat banten, tetapi juga nilai-nilai tanggung jawab dan kebersamaan,” ujarnya.

Baca Juga: Respon Cepat Layanan 110, Pamapta Polres Gianyar Tangani Pengaduan Ancaman Sajam

Tidak hanya itu, Aci Penaung Bayu juga memiliki implikasi ekologis. Penggunaan bahan-bahan alami seperti janur, bambu, dan hewan kurban secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Kalau alam tidak dijaga, maka bahan upacara juga tidak akan tersedia. Jadi ada kesadaran ekologis yang tumbuh dari praktik ritual ini,” tambahnya.

Dengan demikian, Aci Penaung Bayu tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sistem pengetahuan yang kompleks yang mengintegrasikan aspek teologi, sosial, dan ekologi. Di tengah arus modernisasi, keberlanjutan tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal yang berakar pada ajaran Hindu.

“Selama umat masih memiliki kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan, maka upacara seperti Aci Penaung Bayu akan tetap hidup. Ini bukan hanya warisan, tetapi juga kebutuhan spiritual,” tutup Jro Mangku Nengah Suartamayasa. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Pura Batu madeg #hindu #Pura Besakih