Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Nasi Pradnyan Warnai Banyupinaruh, Simbol Suci Ilmu dan Kebijaksanaan

Putu Agus Adegrantika • Minggu, 5 April 2026 | 20:15 WIB
BANTEN : Prosesi menghaturkan banten banyupinaruh.
BANTEN : Prosesi menghaturkan banten banyupinaruh.

BALIEXPRESS.ID – Suasana spiritual begitu terasa dalam perayaan Hari Raya Banyupinaruh, Minggu (5/4), di wilayah Desa Dinas Sayan, Kecamatan Ubud. Sehari setelah Hari Suci Saraswati, umat Hindu melaksanakan tradisi menghaturkan nasi kuning yang dikenal sebagai Nasi Pradnyan atau Nasi Yasa di pura, merajan, beji, hingga segara, griya sebagai tempat melukat.

Tradisi ini menjadi bagian penting dari rangkaian Banyupinaruh yang sarat makna penyucian diri, baik secara jasmani maupun rohani. Setelah melaksanakan ritual melukat di sumber air suci atau laut, umat kemudian menghaturkan persembahan nasi kuning sebagai simbol penerimaan ilmu pengetahuan yang suci.

Pemangku Pura Desa Adat Penestanan, Jro Mangku Ketut Kesumawijaya menjelaskan bahwa Nasi Pradnyan memiliki makna mendalam yang berkaitan erat dengan ajaran spiritual Hindu, khususnya dalam memaknai ilmu pengetahuan sebagai anugerah suci.

Baca Juga: Semakin Mewah dan Retro, New Honda Stylo 160 Hadir dengan Warna Spesial Burgundy

“Pradnyan berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kebijaksanaan atau kecerdasan. Nasi kuning ini adalah simbol rasa syukur dan penghormatan kepada Dewi Saraswati sebagai sumber ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Ia menambahkan, warna kuning pada nasi bukan sekadar estetika, melainkan melambangkan keagungan, kemakmuran, serta moralitas yang luhur. Dalam konsep Dewata Nawa Sanga, warna ini juga dikaitkan dengan manifestasi Bhatara Mahadewa yang memberikan nilai sakral tersendiri dalam persembahan tersebut.

Secara penyajian, Nasi Pradnyan dibuat dengan santan dan rempah-rempah yang menghasilkan cita rasa gurih dan harum. Hidangan ini biasanya dilengkapi dengan lauk seperti kacang-kacangan, ayam, bebek, hingga hasil laut yang melambangkan kelimpahan rezeki dan berkah kehidupan.

Menariknya, wadah yang digunakan pun tidak sembarangan. Umat biasanya menggunakan tamas atau bokor beralas daun hijau, yang mencerminkan kesucian sekaligus keindahan dalam tradisi persembahan.

Lebih lanjut, Jro Mangku Ketut Kesumawijaya menegaskan bahwa filosofi utama dari tradisi ini terletak pada kesiapan batin dalam menerima ilmu pengetahuan. Banyupinaruh menjadi momentum penting untuk membersihkan diri sebelum menyerap ilmu yang suci.

“Ilmu pengetahuan hanya bisa diterima dengan baik oleh hati yang bersih dan tulus. Karena itu, setelah melukat, umat menyantap Nasi Pradnyan sebagai simbol bahwa diri sudah siap menerima pengetahuan yang murni,” jelasnya.

Tak hanya itu, tradisi ini juga mengandung pesan moral agar ilmu yang dimiliki digunakan untuk kebaikan bersama, bukan untuk kepentingan pribadi semata atau bahkan merugikan orang lain.

Di sisi lain, keberadaan Nasi Pradnyan dalam Banyupinaruh juga mencerminkan kuatnya kesinambungan tradisi dan kearifan lokal di Bali. Ritual ini telah diwariskan secara turun-temurun dan tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Sebelum dinikmati, nasi kuning tersebut terlebih dahulu dihaturkan kepada leluhur serta Bhatara-Bhatari di merajan atau sanggah masing-masing. Setelah itu, nasi tersebut menjadi prasadham yang kemudian disantap bersama sebagai bentuk berkah yang telah diterima.

Melalui tradisi ini, umat Hindu tidak hanya merayakan hari suci, tetapi juga meneguhkan nilai-nilai spiritual, budaya, dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan Banyupinaruh di Sayan pun menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan sejatinya bukan hanya untuk dipelajari, tetapi juga untuk diamalkan demi menciptakan keharmonisan hidup yang seimbang antara manusia, alam, dan Tuhan.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#banyu pinaruh