BALIEXPRESS.ID-Umat Hindu khususnya generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha kian dihadapkan pada persimpangan antara menjaga tradisi dan mengikuti tren. Fenomena perayaan Tumpek Landep yang identik dengan “mantenin motor” menjadi perbincangan hangat. Apakah ini sekadar adaptasi zaman, atau justru pergeseran makna yang mengaburkan esensi spiritual?
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, menilai bahwa fenomena tersebut perlu dilihat secara kritis namun proporsional.
“Kita hidup di antara dua dunia, antara tradisi dan tren. Di satu sisi kita bangga dengan warisan leluhur, di sisi lain kita tidak bisa lepas dari gaya hidup modern. Tetapi pertanyaannya, benarkah Tumpek Landep sekarang hanya soal motor?” ungkapnya dalam wawancara.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada objek yang diupacarai, melainkan pada kesadaran makna di balik praktik tersebut. Ia menegaskan bahwa secara filosofis, Tumpek Landep tidak semata-mata berkaitan dengan benda tajam, melainkan lebih dalam pada konsep ketajaman pikiran.
“Kata landep berarti tajam, bukan hanya secara fisik, tetapi juga ketajaman pikiran (manacika), kebijaksanaan, dan kesadaran diri,” jelasnya.
Pandangan ini sejalan dengan ajaran dalam Sarasamuscaya sloka 80 yang menyatakan:
“Manah eva manusyanam karanam bandha mokshayoh”yang berarti bahwa pikiran adalah sumber dari keterikatan maupun pembebasan. Luh Irma menekankan,
“Pikiran adalah sumber dari segala tindakan, baik dan buruk. Oleh karena itu, yang perlu ‘ditajamkan’ dalam Tumpek Landep adalah pikiran kita terlebih dahulu. Jika pikiran sudah bersih, maka ucapan dan tindakan akan mengikuti.”
Dalam konteks kekinian, ia tidak menampik bahwa motor, mobil, hingga perangkat teknologi dapat menjadi bagian dari simbol “senjata” modern. “Dulu yang disucikan adalah keris, tombak, atau senjata perang.
Sekarang, ‘senjata’ kita adalah teknologi. Jadi tidak salah jika motor ikut dimuliakan, tetapi yang sering keliru adalah ketika ritual itu kehilangan makna dan hanya menjadi formalitas,” ujarnya.
Fenomena ini, lanjutnya, sering kali terjebak dalam logika pembenaran yang dangkal. Ketika upacara hanya dijadikan konten media sosial atau sekadar mengikuti tren, maka kualitas yadnya berpotensi turun menjadi rajasika atau bahkan tamasika. Ia mengutip Bhagavad Gita 3.7:
“Yas tv indriyani manasa niyamyarabhate’rjuna, karmendriyaih karma-yogam asaktah sa vishishyate.” yang berarti bahwa seseorang yang mampu mengendalikan indria dengan pikiran dan bertindak tanpa keterikatan adalah yang utama.
“Maknanya sangat dalam. Menggunakan motor itu boleh, bahkan perlu. Tetapi jangan sampai kita dikuasai oleh gaya hidup, gengsi, atau tren. Kita yang harus mengendalikan, bukan sebaliknya,” tegasnya.
Lebih jauh, ia mengajak umat untuk menjadikan Tumpek Landep sebagai momentum refleksi diri. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukanlah seberapa meriah upacara dilakukan, melainkan sejauh mana kesadaran spiritual terbangun.
“Apakah pikiran kita sudah tajam membedakan benar dan salah? Apakah teknologi yang kita gunakan membawa manfaat atau justru menjauhkan dari dharma?” katanya.
Dalam perspektif tekstual, makna Tumpek Landep juga ditegaskan dalam Lontar Sundarigama yang menyebutkan bahwa hari suci ini merupakan momentum penyucian sarwa landep, baik yang bersifat sekala maupun niskala.
Artinya, bukan hanya benda fisik, tetapi juga pikiran manusia sebagai “senjata” paling tajam.
Luh Irma juga menguraikan tiga konsep penting dalam sayut Tumpek Landep, yakni Sayut Jayeng Perang, Sayut Pasupati, dan Sayut Kusuma Yudha. Sayut Jayeng Perang dimaknai sebagai kemenangan dalam perang batin, melawan ego, iri hati, dan tekanan sosial di era digital.
“Hari ini, perang itu nyata overthinking, toxic comparison di media sosial, keinginan untuk selalu terlihat lebih. Tumpek Landep adalah momentum untuk menang dalam perang itu,” jelasnya.
Sementara itu, Sayut Pasupati dimaknai sebagai proses menghidupkan atau memberi jiwa pada sesuatu yang semula bersifat profan. Dalam konteks modern, hal ini tidak hanya berlaku pada benda, tetapi juga pada diri manusia.
“Pasupati yang utama adalah pada pikiran, agar kita kuat menghadapi tantangan zaman,” ujarnya.
Adapun Sayut Kusuma Yudha mengandung filosofi yang lebih subtil, yakni “berperang dengan bunga”. Sebuah paradoks yang justru mencerminkan kedalaman ajaran Hindu.
“Ini adalah simbol bahwa perjuangan tertinggi tidak dilakukan dengan kekerasan, tetapi dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan keindahan hati. Kita diajarkan untuk tajam tanpa melukai, menang tanpa menghancurkan,” tutur Luh Irma.
Irma membedakan secara tegas antara tradisi dan tren. Tradisi, menurutnya, adalah warisan nilai yang sarat makna filosofis dan spiritual, sementara tren adalah arus cepat yang sering kali dangkal dan berorientasi pada tampilan.
“Masalahnya muncul ketika tradisi dibungkus tren tanpa pemahaman. Yang tersisa hanya simbol, tanpa makna,” katanya.
Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa perayaan Tumpek Landep tidak bisa direduksi hanya pada praktik “mantenin motor”.
“Bukan soal salah atau benar, tetapi soal kesadaran. Kalau hanya menghias motor tanpa memperbaiki diri, itu sekadar tren. Tetapi jika dimaknai sebagai simbol untuk menajamkan pikiran dan mengendalikan diri, itulah tradisi yang hidup,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika