Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pikiran Pusat Kendali Utama Menentukan Arah Tindakan Manusia

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 23 April 2026 | 16:39 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta.

BALIEXPRESS.ID - Penyuluh Agama Hindu dari Kementerian Agama Republik Indonesia wilayah Tabanan, I Made Danu Tirta, mengangkat isu penting tentang peran pikiran dalam mengendalikan perilaku manusia, khususnya terkait seksualitas. Gagasan ini disampaikan melalui refleksi terhadap ajaran dalam Sarasamuccaya Sloka 89.

 

Dalam pemaparannya, Danu Tirta menekankan bahwa pikiran merupakan pusat kendali utama dalam menentukan arah tindakan manusia. Ia menilai bahwa tanpa pengendalian pikiran, berbagai aspek kehidupan, termasuk seksualitas, dapat berujung pada penyimpangan perilaku.

 

“Sloka 89 dalam kitab tersebut mengingatkan bahwa terdapat bagian tubuh wanita yang bersifat sangat pribadi dan tidak layak menjadi bahan pembicaraan terbuka. Ajaran ini, menurutnya, mengandung nilai etika yang relevan hingga saat ini,” paparnya, Kamis (23/4).

 

Ia menjelaskan bahwa istilah “luka basah wanita” dalam konteks sloka tersebut merujuk pada organ intim perempuan. Penyebutannya bukan untuk merendahkan, melainkan sebagai simbol yang menuntut kehati-hatian dalam berpikir dan berbicara.

Baca Juga: Dies Natalis XVIII INSTIKI Perayaan 18 Tahun “Loud, Free, Alive” Jadi Momen Istimewa Civitas Akademika

Menurut Danu Tirta, ketertarikan terhadap organ intim perempuan merupakan hal yang wajar secara biologis, khususnya bagi laki-laki. Namun, cara menyikapi ketertarikan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas pikiran.

 

Ia menggarisbawahi bahwa terdapat perbedaan antara individu yang mampu mengendalikan pikirannya dengan yang tidak. Mereka yang gagal mengontrol pikiran cenderung mengekspresikan ketertarikan secara berlebihan, baik dalam ucapan maupun tindakan.

 

Lebih lanjut, ia menyoroti hubungan erat antara pikiran dan kualitas kehidupan seksual. Pikiran yang sehat dan terkendali, katanya, berkontribusi pada hubungan yang harmonis dan bertanggung jawab.

 

“Sebaliknya, pikiran yang dipenuhi obsesi dan fantasi berlebihan justru dapat menurunkan kualitas hubungan, bahkan memicu perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain,” imbuh Danu.

 

Dalam konteks kekinian, Danu Tirta menilai fenomena penyimpangan seksual semakin kompleks, terutama di era digital. Kemudahan akses informasi dinilai turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap seksualitas.

 

Ia mencontohkan maraknya kasus perselingkuhan dan pelecehan seksual sebagai indikasi lemahnya kontrol pikiran. Fenomena ini, menurutnya, tidak hanya berdampak secara moral, tetapi juga merusak tatanan sosial.

 

Dampak lanjutan dari perilaku tersebut kerap berujung pada konflik rumah tangga hingga perceraian. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pikiran tidak bisa dianggap sepele.

 

Dalam penjelasannya, Danu Tirta juga menyoroti pentingnya tidak membeda-bedakan perempuan berdasarkan aspek fisik semata. Ia menilai bahwa pola pikir semacam itu dapat memicu obsesi berlebihan.

 

Menurutnya, ketika seseorang mulai membanding-bandingkan, maka akan muncul keinginan untuk mencari variasi yang berujung pada ketidaksetiaan.

 

Ajaran dalam Sarasamuccaya, lanjutnya, justru mengarahkan manusia untuk melihat segala sesuatu secara bijaksana dan tidak terjebak dalam ilusi kenikmatan semu.

 

Ia menegaskan bahwa seksualitas seharusnya ditempatkan dalam konteks yang benar, yakni sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga yang sah dan bertanggung jawab.

 

“Selain itu, seks juga memiliki fungsi reproduksi serta dapat menjadi sarana edukasi dalam lingkup keluarga. Pemahaman ini penting untuk membangun generasi yang sehat secara fisik dan mental,” tegasnya.

 

Danu Tirta mengajak masyarakat untuk melatih pikiran agar mampu memprediksi dampak dari setiap tindakan. Dengan demikian, seseorang dapat menghindari keputusan yang merugikan di masa depan.

 

Ia menilai bahwa pengendalian pikiran merupakan kunci untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan biologis dan nilai-nilai moral.

 

Lebih jauh, ia menekankan pentingnya kesetiaan dalam hubungan sebagai bentuk implementasi dari pikiran yang bijaksana. Tanpa kesetiaan, hubungan akan mudah goyah.

 

Di akhir pemaparannya, Danu Tirta mengajak masyarakat untuk menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam mengelola pikiran dan perilaku. Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Melalui refleksi ini, ia menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berasal dari pemenuhan hasrat, tetapi dari kemampuan mengendalikan pikiran menuju arah yang lebih bermakna.*

Editor : Putu Agus Adegrantika
#kemenag ri #Dirjen Bimas Hindu