BALIEXPRESS.ID-Masyarakat Desa Adat Bebandem, Kecamatan Bebandem, Karangasem masih melestarikan tradisi Metigtig hingga sekarang. Tradisi yang menggunakan pelepah pisang ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali, tepatnya pada Sasih Kapat.
Tradisi Metigtig yang ada di Desa Bebandem erat kaitannya dengan ritual (Aci) Tatebahan yang ada di Desa Bugbug Karangasem. Dimana wilayah Desa Bebandem adalah salah satu bagian dari manca desa (lima wilayah desa yang saling memiliki keterkaitan serta keterikatan tradisi antara desa yang satu dengan desa lainnya) diantaranya; Desa Bugbug, Desa Bebandem, Desa Jasri, Desa Ngis dan Desa Datah.
Pelaksanaan ritual Aci Tatebahan yang ada di Desa Bugbug juga dilakukan persembahan serupa menyerupai budaya tradisi Metigtig yang ada di Desa Bebandem. Dengan peralatan peperangan yang sama yaitu menggunakan pelepah daun pisang (tangkai daun pisang), hanya saja tradisi tersebut oleh masyarakat desa Bugbug dinamakan tradisi Tatebahan.
Tradisi Tatebahan di Desa Bugbug ini erat kaitannya dengan budaya tradisi Metigtig yang ada di Desa Bebandem. Dimana sebagian besar masyarakatnya mengandalkan hidupnya bersumber dari hasil bercocok tanam atau hidup sebagai petani.
Baca Juga: Dialog Dini Hari Rilis “Di Jumah”, Lagu Tentang Rumah dan Ingatan
Lahirnya tradisi ini dikarenakan pada zaman dahulu di Desa Bugbug yang pada saat itu sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani, ketika mereka menghadapi musim panen tiba, para petani telah memperoleh berkah, keberhasilan serta kemakmuran atas hasil panen yang sangat berlimpah.
Tokoh Adat Bebandem, Jero Mangku Sunadra mengatakan, sebelum berlangsungnya Tradisi Metigtig diawali dengan melakukan persembahyangan bersama di Pura Puseh, Pura Gaduh, Pura Panti, Pura Pasuwikan, untuk memohon keselamatan agar dalam pelaksaanaan Tradisi Metigtig dapat berjalan sesuai dengan harapan bersama yaitu penyerahan diri melalui persembahan bhakti yang sejati.
Setelah persembahyangan dilakukan, dilanjutkan dengan upacara inisiasi Matumblu di Pura Pasuwikan atau biasa disebut Usaba Sumbu. Sumbu merupakan ketupat yang digantung menggunakan bambu dengan berbagai jenis ketupat yang berjumlah enam puluh enam buah.
Kemudian ditumblu atau didorong menggunakan jempana sampai ketupat yang digantung jatuh. Ketupat-ketupat yang jatuh tadi direbut secara beramai-ramai oleh seluruh masyarakat desa, karena mereka meyakini itu semua merupakan berkat serta anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, yang dapat memberikan keselamatan, kesehatan, kekuatan, serta rejeki yang berlimpah.
Setelah dilakukan proses inisiasi Usaba Sumbu, maka barulah upacara Metigtig ini digelar di Catus Pata Desa Bebandem dengan melibatkan kaum laki-laki dari usia anak-anak, dewasa sampai yang sudah berusia tua.
Tradisi Metigtig diikuti oleh para laki-laki dari Desa Adat Bebandem. Masing-masing peserta membawa senjata berupa papah don biu atau pelepah daun pisang. Setelah sampai di perempatan desa, mereka seakan saling serang, saling pukul atau saling tigtig menggunakan senjata yang sudah dibawa.
“Metigtig di samping sebagai salah satu bentuk upacara ritual yang dikaitkan dengan upacara nangluk mrana atau menetralisir wabah penyakit seperti hama, serangga dan hewan sejenisnya. Karena memang banyak krama kami yang menggantungkan hidup di sektor pertanian,” jelasnya.
Selain diyakini sebagai penetralisir wabah penyakit, ritual tersebut juga diyakini sebagai representasi dari sifat-sifat kesatria dan pemberani. Setiap krama lanang yang mengikuti tradisi itu bebas memilih lawannya masing-masing.
Selama prosesi Metigtig berlangsung, krama lanang yang berlaga tidak boleh memendam amarah meski terkena pukulan pelepah daun pisang. Pelepah daun pisang tersebut pada mulanya dikumpulkan oleh masyarakat Desa Bebandem.
Baca Juga: Kominfosanti Buleleng–BP3MI Bali Perkuat Sinergi, Edukasi PMI Digencarkan
“Pelepah daun pisang yang terkumpul kemudian diletakkan di Catus Pata atau di persimpangan jalan Desa Bebandem. Titik ini memang dijadikan tempat dilangsungkannya ajang budaya Tradisi Metigtig yang dimaksud,” ungkapnya.
Kostum yang digunakan saat pelaksanaan tradisi Metigtig digelar, nampak sangat sederhana sekali yaitu hanya dengan busana kamben atau kain sarung saja tanpa memakai baju. Seolah-olah badannya itu menunjukan sebagai bentuk kejantanan di antara mereka saat bertarung.
Jero Mangku Sunadra menyebutkan, pertarungan dilakukan dengan cara saling pukul memukul dan terkadang saling cambuk-mencambuk ke arah badan lawan. Bahkan, sampai menimbulkan luka dan berdarah bila terkena pukulan/cambukan tersebut.
Dalam kepercayaan masyarakat Desa Bebandem, luka yang diakibatkan oleh cambukan pelepah pisang (tangkai daun pisang) diyakini dapat memberikan kekebalan tubuh secara lahir bathin serta terhindar dari segala bentuk wabah penyakit.
Selain itu dalam pertarungan ini juga dimaksudkan sebagai ajang adu ketangkasan untuk menunjukkan kekuatan atau kejantanan yang dimiliki oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan yang ikut meramaikan saat menyaksikan upacara Metigtig ini.
“Tradisi Metigtig ini selalu menjunjung tinggi sportifitas dan solidaritas di antara sesama warga desa, dalam mempererat tali persaudaraan yang mengedepankan rasa kemanusian ataupun perdamaian di antara sesama warga,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika