Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Candi Desa Adat Selulung: Dibangun Era Abad 1-4 Masehi, Jadi Tempat Pemujaan Tuhan

I Putu Mardika • Jumat, 1 Mei 2026 | 17:01 WIB
Pura Candi di Desa Adat Selunglung, Kecamatan Kintamani, Bangli
Pura Candi di Desa Adat Selunglung, Kecamatan Kintamani, Bangli

BALIEXPRESS.ID-Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli, merupakan salah satu desa kuna yang banyak menyimpan sisa-sisa peninggalan jaman megalitik. Sisa-sisa kebudayaan kuna yang masih dapat ditemui di Desa Adat Selulung antara lain Arca Megalitik, Arca Tiongkok, Menhir, unsur bangunan berupa Tugeh yang bermotifkan tanduk kerbau, Punden Berundak dan sebagainya.

Peninggalan purbakala yang terdapat di Desa Adat Selulung diantaranya adalah Punden Berundak Pelinggih I Ratu Gede Kemulan di Pura Candi, Punden Berundak Pelinggih I Ratu Dukuh Jegir di Pura Candi, Punden Berundak Pelinggih I Ratu Gede Kanginan di Pura Mihu, Punden Berundak Pelinggih I Ratu Gede Makarang di Pura Mihu.

Ada pula Punden Berundak Madya Petirtaan di Pura Bale Agung, 8 Buah Arca Megalitik di Pura Ulun Suwi, Menhir di Pura Ulun Suwi, Menhir di Pura Puseh Sinunggal, Hiasan Tanduk Kerbau Pada Tugeh Bale, Batu Alam di Pura Ulun Suwi, Pura Mihu dan Pura Mas, Lempengan Batu dan kerang (sungu) di Pura Mihu, Arca Bercorak Tiongkok di Pura Taulan.

Arca Bercorak Hindu di Pura Arca Sabang, Arca Perunggu di Pura Pasek, Lingga Yoni di Pura Taman, Fragmen Lingga, Seperangkat Gamelan Gambang Kuno, Seperangkat Gamelan Selonding, Seperangkat Gamelan Gong Gede, Menhir dalam keadaan rebah, dan batu berbentuk roda di sekitar pura Dalem Mecantel.

Tokoh pemuda Selulung, Putu Ardiyasa mengatakan, Desa Adat Selulung memiliki warisan tak ternilai berupa peninggalan jaman megalitik. Uniknya, ragam penunggalan ini juga disucikan sebagai bagian dari aktifitas ritual.

Salah satu peninggalan megalitik yang ditemukan adalah Punden Berundak yang berada di Pura Candi Desa Adat Selulung. Bangunan Punden Berundak ini keberadaannya hingga sekarang masih dilestarikan oleh masyarakat sekitar dan menjadi tempat pemujaan untuk menyembah leluhur.

Bangunan Punden Berundak atau Madya yang terdapat di Pura Candi berjumlah dua buah, yang pertama di sebut Madya Luhur dan yang kedua di sebut Madya Alit. Secara umum Punden Berundak merupakan sarana pemujaan untuk memuja dan menghormati roh leluhur.

Akan tetapi, peninggalan Punden Berundak di Pura Candi merupakan salah satu bentuk peninggalan yang berakulturasi dengan agama Hindu. Hal tersebut dapat diketahui dari letak Punden Berundak dan Pura saling berdampingan secara harmonis.

Baca Juga: Mantan Sekda dan Pj Bupati Badung, I Wayan Subawa Berpulang

Punden Berundak yang terdapat di wilayah Desa Adat Selulung merupakan salah satu peninggalan kepurbakalaan yang ada di Bali. Sejarah keberadaan Punden Berundak di Pura Candi di Desa Adat Selulung tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan masyarakat terhadap adanya roh leluhur.

Bangunan ini merupakan salah satu hasil peradaban jaman megalitik, hal tersebut dapat dibuktikan dari ciri-ciri atau konsep umum bangunan Punden Berundak pada umumnya sangat menyerupai bangunan Punden Berundak di Pura Candi.

Punden Berundak atau Madya di Pura Candi kemungkinan dibangun sebelum masyarakat di Desa Adat Selulung mengenal agama atau sebelum masuknya Hindu.

“Peninggalan tradisi megalitik di Desa Pakraman Selulung sudah ada sebelum agama Hindu masuk ke wilayah tersebut dan diduga bahwa di desa-desa pegunungan di Bali tradisi megalitik masih tetap utuh hingga masuknya peradaban Hindu dan kemudian berkembang berdampingan dalam situasi yang baik atau berkembang ke arah penyatuan yang harmonis” ungkapnya.

Jadi, masa transisi tersebut adalah masa sebelum berakhirnya jaman prasejarah dan awal dimulainya masuknya pengaruh-pengaruh Hindu dari luar ke Desa Adat Selulung, yaitu antara abad ke 1-4 masehi

Kemudian setelah masuknya agama Hindu barulah bangunan Punden Berundak di Pura Candi mengalami perubahan fungsi, yaitu selain berfungsi sebagai tempat pemujaan roh leluhur juga difungsikan sebagai tempat untuk menyembah atau memuja Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi.

Baca Juga: Satu Dapur SPPG di Bangli Siap Terapkan Sistem Prasmanan untuk Penerima Manfaat MBG

Pada tahun 1970 Punden Berundak di Pura Candi pernah tertimpa pohon beringin yang ada di sekitar Pura Candi sehingga hal ini sangat merusak keadaan fisik bangunan Punden Berundak tersebut. Kejadian tersebut membuat terjadinya pemugaran secara sederhana terhadap bangunan ini.

Selanjutnya pada tahun 2007 terjadi pemugaran besar-besaran terhadap Punden Berundak di Pura Candi yaitu Pelinggh Madya Luhur dan Pelinggih Madya Alit. “Hal ini disebabkan karena kondisi struktur bangunan yang tidak stabil, disamping akibat faktor usia juga akibat bencana karena pernah tertimpa pohon pada tahun 1970,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Candi #selulung #Kintamani #bangli #hindu