Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Wayang Wong Sakral di Pura Taman Pule Mas: Dipentaskan saat Pujawali, Bertepatan Saniscara Kuningan  

I Putu Mardika • Minggu, 10 Mei 2026 | 14:27 WIB
Pementasan Wayang Wong di Pura Taman Pule Mas Ubud
Pementasan Wayang Wong di Pura Taman Pule Mas Ubud

BALIEXPRESS.ID-Pura Taman Pule Desa Mas, Kecamatan Ubud, Gianyar hingga kini masih mementaskan tarian wali berupa Wayang Wong pada saat pujawali Saniscara Wuku Kuningan. Tarian sakral ini senantiasa menyajikan kisah Ramayana dalam pementasannya.

Pementasan wayang wong di Pura Taman Pule Mas secara umum menggunakan topeng wayang wong dengan berbagai karakter kera dan juga binatang. Dalam kostumnya memperlihatkan khas masa lalu memakai baju dan celana panjang, asessoris lain seperti gelang dan juga selendang termasuk bagian ekor yang menjuntai di belakang punggung termasuk badong leher. Secara visual keseluruhan badan tertutup merujuk pada karakter

Sastra yang diambil adalah cuplikan dari cerita Ramayana Karangan Mpu Walmiki, biasanya cerita yang dimainkan adalah “Hanoman Kautus”. Ciri wayang Wong di Pura taman Pule menggunakan dialog yang diselingi dengan tembang yang disesuaikan dengan struktur pertunjukan. Tembang yang dilantumkan mengikuti laras gender wayang yang berlaras Selendro, menggunakan tembang sekar agung.

Salah seorang pengempon pura Taman Pule Mas, Ketut Rupa menjelaskan dialog cerita yang mengambil kisah Ramayana disadur dari satra Jawa kuno (Kawi) yang sering digunakan dalam dialog pewayangan.

Ciri lainnya terletak pada gaya gerak tari yang lebih banyak menstillirisasi dari peran-peran yang dibawakan, seperti peran binatang singa, baruang, burung, yang mengidentifikasi pada penggabungan antara gerak binatang yang ditarikan. Hal itu menghasiilkan kekhasan gerakan yang sangat kuno dan klasik

Wayang Wong di Pura Taman Pule Mas hanya dapat disaksikan pada saat upacara piodalan yang jatuh pada hari Sabtu (saniscara Kliwon uku Kuningan). Upacara yang diawali oleh pertunjukan wayang wong yang dipentaskan di halaman sisi luar (jaba) Pura Taman Pule, di depan gapura sebagai pintu keluar masuk,” ujarnya.

Baca Juga: Olahan Salak Naik Kelas, BRI Bawa SALAKU Tembus Pasar Global di Food & Hospitality Asia (FHA) 2026 di Singapura

Wayang wong biasanya dimulai pada pukul 15.00 Wita, bersamaan dengan hadirnya sesuhunan tapak Ida Hyang Sesuhunan melintas menuju salah satu pura yang ada di wilayah Banjar Batanancak yakni pura Bukjambe.

Tradisi melintasi pertunjukan yang sedang berlangsung adalah kebiasaan yang sudah dilakukan semenjak dahulu sehingga hal itu kemudian dilakukan dengan cara yang sama pada setiap pertunjukan wayang wong.

Pertunjukan wayang wong tetap berlangsung walau dilintasi dianggap sebagai tanda keberadaan pertunjukan mengikat wali yang dilakukan saat upacara. Saat kembalinya Ida Hyang Sesuhunan yang diikuti oleh rangkaian iring-iringan juga melintasi pertunjukan wayang wong yang sedang berlangsung, dan pertunjukanpun tidak dihentikan, menyatu dengan kehadiran beliau.

Hal itu kemudian menjadikan pertunjukan wayang wong sebagai yang tidak tergantikan dalam prosesi upacara piodalan. Tradisi wali wayang wong kemudian lama kelamaan berubah sebagai pertunjukan Wali di Pura Taman Pule Mas yang menyatu dengan rangkaian upacara piodalan.

Menurut Ketut Rupa dimulai bersamaan dengan prosesi pemendakan Ida Sesuhunan Pura Taman Pule menuju pura Bukjambe tempat di mana dilinggihkan istri beliau yang berasal dari Mas.

“Pemendakan itu dilakukan sebagai bentuk penghormatan bethara sesuhunan terhadap jalinan persahabatan yang begitu mendalam dengan bendesa Mas dalam historis kesejarahannya. Prosesi pemendakan itu sendiri menjadi permulaan dari pertunjukan wayang wong digelar,” paparnya.

Hal itu sudah merupakan bentuk pewarisan yang diterima semenjak wayang wong itu dipelajari. Persoalannya selain hal itu karena alasan Ida Hyang Sesuhunan Pura Taman Pule Mas patut diberi kemegahan yang indah sebagai bentuk kehormatan umat dalam menjaga kewibaan dan keagungan beliau.

Baca Juga: Astranauts 2026: Akselerasi Transformasi Digital dan Efisiensi untuk Memperkuat Ekonomi Nasional

Gelar pertunjukan sendiri dilakukan dipelataran depan pura di mana tempat pertunjukannya hanya ditandai oleh seperangkat gamelan yang diletakan disisi kanan. pertunjukannya sendiri dilakukan dengan membentangkan penari dari selatan ke arah utara depan wantilan yang berada di samping pura.

Begitu pertunjukan dimulai maka prosesi pemendakan juga keluar dari pintu gapura agung (candi kurung). Penari yang sedang berlangsung kemudian saat yang sama perlintasan digunakan pemedek yang menuntun Ida Hyang Sesuhunan sehingga terjadi penyebrangan diantara penari wayang wong.

Hal itu ternyata memang tidak dapat dipisahkan sebagai bukti keberadaan wayang wong menjadi pengantar penting dalam prosesi pemendakan ida bethara menuju Pura Buk Jambe.

Semua gamelan bergemuruh antara gamelan pengiring wayang wong, gamelan balaganjur sebagai pengiring pemendakan, dan gamelan angklung yang diposisikan paling depan menjadikan bunyi riuh yang saling bersahutan menandakan prosesi pemendakan dan pergelaran wali Wayang Wong sedang berlangsung.

Diawali oleh tabuh batel sebagai ciri khas dari pertunjukan wayang wong. Gending batel merupakan alunan bunyi yang berasal dari kendang kecil (kendang krumpungan) ditimpali dengan timbal cengceng, sedangkan sebagai struktur gending dijaga oleh kajar, klenang, kempur dan klentong. Gender wayang diberi tugas untuk mengisi nada sesuai dengan struktur gendingnya.

Selesai tabuh pengiring kemudian dilanjutkan dengan keluarnya Rama, laksamana, mantri dan diikuti oleh maruti, sugriwa, angada, mina, singa, guaksa, dan pengiring lainnya. Semua penari keluar dengan tembang dan cara menari yang disesuaikan dengan perannya masingmasing. Selesai melakukan proses menari maka kemudian dilanjutkan dengan dialog.

Baca Juga: Indonesia Tegaskan Komitmen Perkuat Kerja Sama Kawasan di KTT ASEAN 2026

Tujuan dialog tidak lain untuk memberikan wejangan atau titah sang rama sebagai Raja yang akan diemban sesuai dengan alur cerita oleh para pengiringnya. Selesai titah diterima selanjutnya masuk dalam adegan kedua di mana kemudian diceritakan kerajaan Alengka di bawah kuasa Rahwana. Karakter seperti pepatih raksasa diikuti oleh punakawan Delem dan Sangut sebagai ciri khasnya dalam pewayangan wong.

Setelah mendengarkan wejangan raja Rahwana yang telah berhasil membawa Sinta ke Alengka merasa penting melakukan penjagaan. Maka seluruh pasukan raksasa juga diberitahu untuk menjaganya.

Adegan terakhir adalah proses pertemuan antara hanoman yang diutus untuk mencari Sita di alengka, selanjutnya terjadi pertempuran antara hanoman dan pasukan rahwana sampai akhirnya seluruh istana alengka mengalami kebakaran.

“Di situ kemudian cerita Wayang wong diakhiri seluruh penari menyelesaikan perannya dan iringan tabuh memberikan tanda berakhir dengan menabuhkan gending penutup,” pungkasnya. (dik)

 

 
 
Editor : I Putu Mardika
#Pura Taman Pule Mas #sakral #pujawali #hindu #Wayang Wong