BALIEXPRESS.ID-Keindahan Tari Legong tidak hanya terletak pada gerakannya yang lembut dan penuh ketegasan, tetapi juga pada sejarah panjang yang menyertainya. Di balik tarian klasik Bali yang mendunia itu, tersimpan kisah spiritual, perjalanan budaya kerajaan, hingga dinamika perubahan sosial akibat pariwisata modern.
Akademisi Seni, Universitas PGRI Mahadewa, Ni Made Pira Erawati menjelaskan dalam artikelnya, sejarah lahirnya Tari Legong di Bali erat kaitannya dengan pengalaman spiritual bangsawan Kerajaan Sukawati, I Dewa Agung Made Karna. Sosok bangsawan tersebut dikenal taat menjalankan kegiatan keagamaan dan menjaga tradisi Bali.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, saat melakukan yoga semadi di Pura Penataran Agung Ketewel, I Dewa Agung Made Karna mendapat penglihatan batin berupa para bidadari yang menari dengan gerakan sangat halus dan luwes. Pengalaman spiritual itu kemudian menjadi awal lahirnya tarian yang kini dikenal sebagai Legong.
“Beliau melihat gerakan para bidadari yang lembut dan penuh keindahan. Setelah selesai melakukan yoga semadi, pengalaman spiritual itu kemudian diwujudkan dalam bentuk seni tari,” tulis Pira Erawati.
Setelah sadar dari semadinya, Dewa Agung Made Karna disebut memerintahkan Bendesa Ketewel untuk membuat tapel atau topeng bagi penari Sanghyang Legong tersebut. Karena menggunakan topeng, tarian itu kemudian dikenal dengan nama Sanghyang Topeng. Sementara lokasi tempat beliau melakukan yoga semadi kini dikenal dengan nama Pura Payogan Agung.
Hingga sekarang, Tari Sanghyang Legong Topeng masih dipentaskan setiap pelaksanaan piodalan di Pura Payogan Agung, Ketewel. Tarian tersebut tetap dipandang sebagai bagian dari seni sakral yang memiliki hubungan erat dengan ritual keagamaan masyarakat Bali.
Pira Erawati memaparkan, bentuk Tari Legong yang berkembang saat ini mulai muncul ketika Anak Agung Gede Rai Perit mendapat perintah dari Raja Gianyar untuk menciptakan tari kerajaan dengan nilai estetika tinggi. Inspirasi dari Sanghyang Topeng kemudian diolah menjadi bentuk tari yang lebih artistik dan dikenal luas sebagai Tari Legong.
“Anak Agung Rai Perit memanfaatkan inspirasi dari tari sakral itu lalu mengemasnya menjadi tari kerajaan yang memiliki keindahan gerak dan nilai estetika yang tinggi,” paparnya.
Dalam proses penciptaannya, unsur keindahan menjadi bagian utama. Gerakan tari dibuat sangat lembut, tatapan mata penari dibuat tajam dan memikat, sementara postur tubuh penari juga dipilih secara khusus agar sesuai dengan gambaran bidadari yang anggun.
Karena itu, pada masa lalu penari Legong bukan penari biasa. Mereka dipilih secara selektif dan menjalani latihan khusus. Keindahan tubuh penari dan kehalusan gerak dianggap menyatu menjadi kekuatan utama pertunjukan Legong.
Selain gerakan, Tari Legong juga dilengkapi dengan cerita untuk memperkuat daya tariknya. Kisah pertama yang digunakan adalah cerita Prabu Lasem yang menampilkan unsur romantisme kerajaan. Salah satu bagian paling terkenal ialah gerakan pengipuk lasem yang menggambarkan adegan romantis melalui ekspresi dan gerak tari.
“Cerita dalam Legong menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan raja dan bangsawan yang menikmati pertunjukan tersebut,” sebutnya.
Pada masa kerajaan Bali, Tari Legong tergolong seni pertunjukan sakral yang tidak boleh dipentaskan sembarangan. Tarian ini hanya tampil dalam kegiatan tertentu seperti upacara kerajaan, pernikahan bangsawan, potong gigi, hingga prosesi Bhiseka Ratu atau penobatan raja.
Meski demikian, masyarakat umum tetap dapat menikmati Tari Legong ketika ada ritual besar di lingkungan puri. Popularitas Legong pun perlahan berkembang luas di masyarakat Bali. Bahkan muncul ungkapan “mebalih legong di pura” yang digunakan masyarakat untuk menyebut kegiatan menonton tari Bali, meski yang dipentaskan bukan Tari Legong.
Menurut Pira Erawati, ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Legong telah menjadi identitas tari Bali.
“Legong dianggap sebagai simbol keanggunan dan keagungan tari Bali. Karena itu masyarakat sering menyebut semua pertunjukan tari sebagai legong,” ujarnya.
Ia menilai identitas Tari Legong tidak hanya terlihat dari bentuk geraknya, tetapi juga dari nilai budaya yang dikandungnya. Legong menjadi simbol estetika, sikap, hingga gaya hidup kalangan puri di Bali pada masa lalu.
Cerita-cerita yang digunakan dalam Legong juga banyak bersumber dari kisah kepahlawanan seperti Mahabharata, Ramayana, dan cerita Panji. Hal itu membuat Legong tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media penyampaian nilai budaya dan moral.
Perubahan besar mulai terjadi ketika sistem kerajaan di Bali bergeser ke masa kolonial Belanda. Pada masa itu, fungsi Tari Legong perlahan berubah. Jika sebelumnya hanya dipentaskan untuk kepentingan ritual kerajaan, Legong kemudian mulai disajikan untuk menyambut pejabat Belanda yang datang ke Bali.
Menurut Pira Erawati, kondisi itu menjadi awal terjadinya sekularisasi Tari Legong.
“Legong yang awalnya sakral mulai menjadi seni hiburan publik. Apalagi setelah pariwisata berkembang pesat di Bali,” katanya.
Masuknya industri pariwisata membuat Tari Legong semakin sering dipentaskan untuk wisatawan. Bentuk pertunjukan pun mulai disesuaikan dengan kebutuhan industri wisata. Durasi pertunjukan yang sebelumnya bisa mencapai dua jam dipersingkat menjadi sekitar 30 menit agar sesuai dengan jadwal wisatawan dan hotel.
Baca Juga: Ayu Aulia Bongkar Sosok ‘Bupati R’, Nama Ridwan Kamil Mendadak Terseret
Akibatnya, beberapa bagian gerak tari, struktur pertunjukan, hingga adegan tertentu mulai dipotong atau disederhanakan. Meski demikian, perubahan itu juga membuka ruang kreativitas baru bagi seniman Bali.
Di Bali Utara misalnya, muncul Tari Legong Tombol yang menggunakan iringan Gong Kebyar dan tidak memakai alur cerita seperti Legong di Bali Selatan yang diiringi gamelan Semar Pagulingan.
Namun Tari Legong Tombol tidak berkembang lama karena wisatawan lebih tertarik pada Legong klasik Bali Selatan yang dianggap lebih autentik.
Di tengah derasnya perubahan sosial dan modernisasi, muncul kekhawatiran akan hilangnya Tari Legong klasik. Karena itu berbagai upaya pelestarian dan rekonstruksi dilakukan oleh seniman Bali.
Beberapa jenis Legong lama yang sempat hilang kemudian direkonstruksi kembali, seperti Legong Sudarsana, Legong Semaradahana, hingga Legong Raja Cina pada tahun 2017.
Tidak hanya direkonstruksi, Tari Legong juga menjadi sumber inspirasi lahirnya karya-karya baru seperti Legong Pengider, Legong Buwuk, dan Legong Calonarang.
Pira Erawati menilai perkembangan itu menunjukkan bahwa Tari Legong tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya.
“Legong sekarang bukan hanya warisan sakral, tetapi juga ruang kreativitas seni Bali yang terus berkembang. Walaupun mengalami sekularisasi, masyarakat Bali tetap menjaga sisi sakralnya melalui pementasan ritual seperti Sanghyang Legong,” tutupnya. (dik)