Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Upacara Muayon di Cempaga Jadi Warisan Pendidikan Budaya Generasi Muda

I Putu Mardika • Minggu, 24 Mei 2026 | 14:45 WIB
 Kelian Banjar Adat Desa Cempaga, Putu karya Dharma
Kelian Banjar Adat Desa Cempaga, Putu karya Dharma

BALIEXPRESS.ID-Tradisi Upacara Muayon yang masih lestari di Desa Adat Cempaga, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, terus menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

Upacara yang diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai media pendidikan budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal identitas dan tradisi leluhur mereka.

Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Dharma, mengatakan bahwa Upacara Muayon merupakan tradisi lama yang hingga kini masih dijaga oleh masyarakat desa adat. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan warga sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan tata kehidupan adat dan spiritual masyarakat Cempaga.

“Upacara Muayon bukan hanya sekadar upacara, tetapi juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap menjaga nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujarnya.

Baca Juga: Ketua DPD KNPI Gianyar I Putu Bagus Padmanegara, Satukan Prestasi, Kepemimpinan, dan Pengabdian

Dalam pelaksanaannya, Upacara Muayon melibatkan seluruh krama desa melalui berbagai tahapan, mulai dari rapat adat, ngayah, melasti, hingga persembahyangan bersama. Tradisi ini juga menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami tata cara upacara adat secara langsung.

Putu Karya Dharma menjelaskan bahwa keterlibatan anak-anak muda dalam kegiatan adat sangat penting agar tradisi tidak hilang di tengah perkembangan zaman. Ia menilai saat ini tantangan terbesar adalah menjaga minat generasi muda agar tetap peduli terhadap budaya lokal di tengah pengaruh modernisasi dan perkembangan teknologi.

“Kami selalu mengajak generasi muda untuk ikut ngayah dan terlibat dalam upacara. Dengan begitu mereka belajar langsung tentang adat, etika, dan tanggung jawab sosial di desa,” katanya.

Selain bernilai religius, Upacara Muayon juga mengandung nilai pendidikan sosial. Tradisi ini mengajarkan masyarakat tentang kerja sama, disiplin, serta rasa saling menghormati antarwarga. Nilai-nilai tersebut dianggap penting untuk menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat adat di Desa Cempaga.

Ia menambahkan, Upacara Muayon memiliki nilai pendidikan berbasis budaya lokal. Tradisi ini dinilai mampu menanamkan nilai religius, solidaritas sosial, pelestarian budaya, hingga pengembangan keterampilan masyarakat.

Putu Karya Dharma berharap tradisi Muayon tetap dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Bali Aga di Desa Cempaga. Menurutnya, pelestarian adat dan budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui seremonial, tetapi juga melalui pemahaman makna yang terkandung di dalam setiap tradisi.

“Kalau generasi muda memahami makna dari tradisi ini, mereka akan memiliki rasa bangga untuk menjaga warisan leluhur. Itu yang paling penting,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Muayon #bali aga #cempaga #Banjar