BALIEXPRESS.ID - Prodi Filsafat Hindu Fakultas Brahma Widya di Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung arah kebijakan Kementerian Agama RI melalui pengabdian kepada masyarakat bertema “Internalisasi Nilai-Nilai Filsafat Hindu dalam Ekoteologi untuk Menumbuhkan Etika Lingkungan di Desa Ubung Kaja Denpasar Utara”. Kegiatan ini menjadi langkah konkret menggaungkan konsep ekoteologi yang digagas Menteri Agama RI di tengah tantangan krisis lingkungan global.
Bertempat di Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, pengabdian masyarakat ini memadukan nilai-nilai luhur filsafat Hindu, penguatan ekoteologi, serta pemanfaatan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI). Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun kesadaran lingkungan masyarakat tanpa meninggalkan akar spiritualitas Hindu.
Ketua Program Studi Filsafat Hindu, Dra. Ni Wayan Sumertini, Minggu (24/5) menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menghadirkan pendidikan berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, internalisasi nilai-nilai filsafat Hindu dan ekoteologi menjadi sangat penting untuk memperkuat kesadaran ekologis masyarakat Hindu di tengah perubahan zaman dan derasnya modernitas digital.
Baca Juga: Upacara Muayon di Cempaga Jadi Warisan Pendidikan Budaya Generasi Muda
“Nilai-nilai luhur seperti Tat Tvam Asi, Tri Hita Karana, serta penghormatan terhadap alam sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa harus terus dihidupkan melalui pendekatan edukatif dan kontekstual,” ujarnya.
Lebih jauh, Sumertini menegaskan bahwa pendekatan teknologi berbasis AI menjadi bagian penting dalam membangun generasi Hindu yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Generasi muda Hindu, menurutnya, tidak cukup hanya memahami nilai spiritual dan budaya, tetapi juga harus memiliki literasi digital dan penguasaan teknologi agar mampu menjaga sekaligus mengembangkan peradaban Hindu secara relevan di masa depan.
“Pengabdian masyarakat ini menjadi ruang integratif antara spiritualitas Hindu, kesadaran ekologi, dan inovasi teknologi berbasis AI,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Brahma Widya, Dr. I Nyoman Subrata yang mewakili dekan, menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat eksistensi fakultas dan universitas di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, kampus Hindu tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dalam membangun kesadaran spiritual, budaya, dan lingkungan masyarakat Bali.
“Pengabdian masyarakat seperti ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran kampus sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, nilai-nilai Hindu, serta penguatan karakter generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi namun tetap berakar pada budaya dan spiritualitas Hindu,” katanya.
Dukungan juga datang dari Perbekel Desa Ubung Kaja, I Wayan Astika. Ia menilai kegiatan tersebut sangat relevan dalam memperkuat karakter masyarakat berbasis nilai-nilai Hindu di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi.
Dalam kesempatan itu, Astika berharap mahasiswa UHN Sugriwa dapat melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Ubung Kaja agar sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat terus terjalin secara berkelanjutan.
“Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat akan memperkuat pendidikan sosial-keagamaan, pelestarian budaya Hindu, sekaligus membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga harmoni alam dan kehidupan,” ungkapnya.
Kegiatan pengabdian ini menghadirkan berbagai materi mulai dari ekoteologi dalam perspektif filsafat Hindu, internalisasi nilai Tri Hita Karana dan Tat Tvam Asi, hingga pemanfaatan teknologi berbasis AI dalam penguatan ekoteologi Hindu.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Filsafat Hindu UHN Sugriwa berharap lahir kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga alam Bali sebagai ruang sakral kehidupan. Pengabdian tersebut sekaligus mempertegas sinergi antara dunia akademik, masyarakat, dan pemerintah dalam mendukung visi ekoteologi Kementerian Agama RI sebagai gerakan spiritual dan sosial menuju peradaban yang berkelanjutan, humanis, dan harmonis dengan alam. *