BALIEXPRESS.ID-Tradisi Nyaib Sanggah Kemulan Nganten hingga kini masih teguh dilaksanakan di Desa Pedawa di Kecamatan Banjar. Ritual pergantian pelinggih ini dilaksanakan secara turun temurun dari generasi ke generasi
Tokoh adat Pedawa, I Wayan Sukrata, menyebut tradisi ini bukan sekadar ritual pergantian pelinggih keluarga, melainkan bagian penting dari identitas masyarakat Pedawa yang tidak boleh hilang oleh perkembangan zaman.
Menurut Wayan Sukrata, sanggah kemulan nganten merupakan pelinggih suci yang dibuat ketika seseorang memasuki kehidupan rumah tangga. Pelinggih tersebut berfungsi sebagai tempat memuja leluhur dan Ida Bhatara yang diyakini menjaga keluarga.
Karena dibuat dari bambu Bali, sanggah ini memiliki masa pakai tertentu sehingga harus diperbarui melalui upacara Nyaub. “Ini bukan hanya mengganti bambu yang sudah tua. Di dalamnya ada penghormatan kepada leluhur, ada doa keselamatan keluarga, dan ada hubungan spiritual masyarakat Pedawa dengan Ida Sang Hyang Widhi,” ujarnya saat ditemui di Desa Pedawa.
Ia menjelaskan, tradisi Nyaub Sanggah Kemulan Nganten hanya ditemukan di Desa Pedawa dan menjadi ciri khas masyarakat Bali Aga di wilayah tersebut. Keunikan lainnya terlihat dari penggunaan bambu Bali sebagai bahan utama pembuatan sanggah.
Menurut keyakinan masyarakat, bambu Bali dianggap memiliki nilai kesucian tersendiri sehingga tidak dapat digantikan dengan bahan lain. Bahkan, apabila sanggah kemulan nganten rusak dan tidak segera diupacarai, masyarakat percaya hal tersebut dapat mendatangkan ketidakharmonisan dalam keluarga.
“Bambu Bali itu bukan sekadar bahan bangunan. Ada nilai sakral di dalamnya. Leluhur kami sejak dulu sudah menggunakan bambu itu sebagai simbol kesederhanaan dan kesucian hidup,” kata Sukrata.
Tradisi Nyaub sendiri dilaksanakan melalui berbagai tahapan ritual yang melibatkan keluarga besar dan masyarakat sekitar. Prosesi diawali dengan metunjan atau mengundang tukang nyapaang yang bertugas memimpin jalannya upacara.
Setelah itu dilanjutkan dengan pembuatan sanggah kemulan nganten baru yang biasanya memakan waktu hingga satu minggu. Menariknya, dalam tradisi ini perempuan memiliki peran sentral sebagai pemimpin ritual atau pemuput utama upacara.
Bagi masyarakat Pedawa, keterlibatan perempuan dalam ritual ini menjadi simbol keseimbangan dan penghormatan terhadap peran perempuan dalam kehidupan keluarga maupun adat.
Wayan Sukrata menilai hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Bali Aga di Pedawa sejak dahulu telah memberikan ruang penting bagi perempuan dalam kehidupan spiritual masyarakat.
“Perempuan di Pedawa memiliki posisi penting dalam adat dan ritual. Dalam Nyaub, perempuan dipercaya memahami tata cara banten dan spiritualitas keluarga. Itu warisan leluhur yang masih kami pegang sampai sekarang,” jelasnya.
Pelaksanaan tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong masyarakat Pedawa. Dalam proses pembuatan banten, pembangunan sanggah, hingga pelaksanaan ritual, keluarga yang melaksanakan upacara akan dibantu oleh tetangga dan kerabat secara sukarela. Suasana kebersamaan itu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Bali Aga yang masih bertahan hingga kini.
Menurut Sukrata, nilai kebersamaan tersebut merupakan kekuatan utama masyarakat adat Pedawa. Ia menyebut tradisi bukan hanya tentang ritual keagamaan, tetapi juga ruang mempererat hubungan sosial antarwarga. “Kalau ada upacara, masyarakat datang membantu tanpa diminta. Ada rasa saling memiliki. Itulah yang membuat tradisi tetap hidup,” katanya.
Selain mengandung nilai sosial, tradisi Nyaub juga memiliki makna teologi Hindu yang mendalam. Dalam proses upacara digunakan berbagai sarana sakral seperti banten, tirta, pasepan, dan ilalang yang masing-masing memiliki simbol spiritual tertentu. Tirta digunakan sebagai sarana penyucian, sementara api dalam pasepan dipercaya sebagai media penghubung antara manusia dengan para dewa.
Wayan Sukrata menuturkan bahwa masyarakat Pedawa memandang simbol-simbol tersebut sebagai wujud nyata dari hubungan manusia dengan Tuhan. “Masyarakat kami percaya bahwa yadnya bukan soal besar kecilnya upacara, tetapi tentang ketulusan hati dalam menghaturkan bhakti,” ungkapnya.
Ia menambahkan, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Karena itu, tokoh adat dan keluarga di Pedawa terus berupaya mengenalkan nilai-nilai adat sejak dini kepada anak-anak muda agar mereka memahami makna spiritual dan budaya di balik setiap ritual yang dijalankan.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah perubahan pola pikir generasi muda akibat pengaruh modernisasi dan teknologi digital. Banyak anak muda mulai meninggalkan tradisi karena dianggap rumit dan memerlukan biaya besar. Namun demikian, masyarakat Pedawa berupaya menjaga agar tradisi tetap relevan dengan kehidupan masa kini tanpa menghilangkan nilai sakralnya.
“Kami tidak melarang anak muda mengikuti perkembangan zaman. Tetapi mereka harus tahu akar budayanya. Kalau tradisi hilang, identitas masyarakat Pedawa juga perlahan akan hilang,” tegas Sukrata.
Ia berharap keberadaan tradisi Nyaub Sanggah Kemulan Nganten tidak hanya dipandang sebagai ritual lokal, tetapi juga sebagai bagian penting dari warisan budaya Bali yang perlu dilestarikan bersama. Menurutnya, dokumentasi dan penelitian akademik sangat diperlukan agar tradisi-tradisi Bali Aga tidak punah di tengah perkembangan globalisasi.
“Tradisi ini adalah pengetahuan leluhur. Di dalamnya ada filosofi hidup, spiritualitas, dan cara masyarakat menjaga keharmonisan dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Kalau tidak dijaga sekarang, generasi mendatang mungkin hanya mendengar namanya saja,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika