BALIEXPRESS.ID-Fenomena penyimpangan perilaku remaja di tengah derasnya arus modernitas dan pengaruh sosialita menjadi perhatian serius berbagai kalangan, termasuk penyuluh agama Hindu di Kabupaten Buleleng.
Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, hingga lemahnya pengawasan keluarga dinilai menjadi faktor yang mendorong remaja semakin jauh dari nilai-nilai agama dan etika sosial.
Kondisi ini tidak hanya memunculkan persoalan moral, tetapi juga berpotensi merusak masa depan generasi muda apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter dan pemahaman agama yang kuat.
Koordinator Penyuluh Agama Hindu Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi menilai bahwa agama memiliki peranan sangat penting dalam membentuk karakter remaja.
Menurutnya, ajaran agama bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi menjadi fondasi moral yang menuntun manusia dalam menjalani kehidupan sosial yang harmonis dan bermartabat.
“Agama memberikan pegangan hidup bagi remaja untuk memahami mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam Hindu dikenal konsep wiweka, yaitu kemampuan membedakan tindakan yang benar dan salah sebelum seseorang bertindak,” ujarnya.
Baca Juga: Semarak Iduladha 2026 di Perum Raya Kampial, Potret Nyata Harmoni dan Toleransi Lintas Agama
Ia menjelaskan bahwa kehidupan remaja saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Kehadiran media sosial, budaya populer, hingga gaya hidup glamor yang banyak dipertontonkan di internet membuat sebagian remaja mudah terpengaruh dan kehilangan arah. Tidak sedikit remaja yang akhirnya lebih mengutamakan pengakuan sosial dibandingkan nilai moral dan spiritual.
Menurut Susanthi, modernitas sejatinya tidak selalu membawa dampak negatif. Modernitas dapat menjadi sarana pengembangan kreativitas dan kemajuan apabila disikapi secara bijaksana. Namun ketika perubahan sosial dan budaya tidak diimbangi dengan penguatan nilai agama, maka akan muncul berbagai bentuk perilaku menyimpang di kalangan remaja.
“Modernisasi memang tidak bisa ditolak, tetapi remaja harus memiliki benteng spiritual yang kuat. Ketika mereka kehilangan pegangan agama, maka mereka akan mudah terseret arus pergaulan bebas, minuman keras, narkoba, bahkan tindakan kriminal,” katanya.
Dalam ajaran Hindu, perilaku baik dan susila menjadi dasar utama dalam menjaga keharmonisan hidup. Hal tersebut tertuang dalam sloka Sarasamuccaya yang berbunyi:
“Prawerti rahayu kta sādhananing ramaksang dharma, yapwan sang hyang aji. Jnana pageh ekatāna sādhana ri karaksanira.”
Sloka tersebut mengandung makna bahwa tingkah laku yang baik merupakan sarana menjaga dharma, sementara pengetahuan suci dan kesusilaan menjadi jalan pemeliharaannya.
Susanthi mengatakan bahwa nilai-nilai etika dan susila dalam Hindu sangat relevan diterapkan di tengah kehidupan modern saat ini. Menurutnya, remaja sebenarnya memahami ajaran agama yang mereka anut, namun sering kali tidak memiliki kesadaran untuk menjalankannya secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita melihat sekarang masih ada remaja yang berani kepada orang tua, meninggalkan persembahyangan, berbicara kasar, mabuk-mabukan, berjudi, hingga nongkrong tanpa arah. Ini menunjukkan adanya krisis kesadaran spiritual,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa penyimpangan perilaku remaja tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berkaitan dengan lemahnya kontrol diri, emosi yang tidak stabil, dan rendahnya kesadaran terhadap bahaya pergaulan bebas. Sementara faktor eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, teman sebaya, serta perkembangan teknologi informasi.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Lepas Kontingen Badung ke Porjar Provinsi Bali 2026
“Faktor-faktor yang menyebabkan remaja melakukan pergaulan bebas yang mengarah kepada perilaku menyimpang disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternalnya yaitu pada lingkungannya, faktor internalnya pada dalam diri atau kemauannya sendiri,” ungkap Susanthi.
Menurutnya, keluarga memiliki peranan paling penting dalam membentuk karakter anak. Minimnya perhatian orang tua, kondisi keluarga yang tidak harmonis, hingga rendahnya pendidikan agama di lingkungan rumah menjadi salah satu penyebab utama remaja kehilangan arah. Di sisi lain, pengaruh internet dan media sosial juga semakin memperbesar peluang remaja terpapar perilaku negatif.
Ia menilai bahwa kebebasan pergaulan saat ini sudah berada pada tingkat yang mengkhawatirkan. Banyak remaja terjebak dalam gaya hidup hedonis yang identik dengan pesta minuman keras, seks bebas, hingga penyalahgunaan narkoba. Kondisi tersebut bahkan dapat memicu meningkatnya kasus kehamilan di luar nikah dan penyebaran penyakit HIV/AIDS.
“Pergaulan bebas sering kali dianggap sebagai simbol modernitas dan kebebasan, padahal di balik itu banyak dampak buruk yang menghancurkan masa depan remaja,” katanya.
Dalam Sarasamuccaya sloka 325 juga disebutkan, “Samklistakarmanamatipramadam bhuyo ‘nrtam cadrdabbhaktikam ca vicistaragam bahumayinam ca naitan niseveta naradhaman sat.”
Sloka tersebut mengajarkan bahwa seseorang hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang yang suka berbohong, berperilaku buruk, tidak setia, serta gemar mabuk-mabukan karena dapat membawa penderitaan.
Susanthi menegaskan bahwa ajaran tersebut sangat relevan dengan kondisi remaja masa kini. Ia mengingatkan pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang sehat agar tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang.
“Lingkungan pertemanan sangat menentukan karakter remaja. Jika mereka berada di lingkungan yang salah, maka mereka akan mudah mengikuti perilaku negatif. Karena itu kemampuan wiweka atau memilah sangat penting,” ujarnya.
Selain keluarga, sekolah dan masyarakat juga dinilai memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pendidikan moral kepada generasi muda. Ia berharap pendidikan agama tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan.
Menurut Susanthi, penguatan pendidikan karakter berbasis nilai agama dan budaya lokal menjadi salah satu solusi penting dalam menghadapi tantangan modernitas. Nilai-nilai kearifan lokal Bali yang menekankan harmoni, sopan santun, dan penghormatan terhadap sesama dinilai masih sangat relevan untuk membangun moral remaja.
“Remaja perlu diberikan ruang untuk mengenal budaya dan tradisinya sendiri agar mereka memiliki identitas yang kuat. Ketika identitas budaya dan agamanya kuat, mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif,” katanya.
Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Pimpin Sosialisasi Program Beasiswa Nak Badung Tahun 2026
Ia juga mengajak para orang tua untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan anak-anak mereka. Menurutnya, perhatian dan kasih sayang dari keluarga menjadi benteng utama dalam mencegah penyimpangan perilaku remaja.
“Anak-anak yang merasa diperhatikan dan didengarkan oleh keluarganya biasanya memiliki kontrol diri yang lebih baik dibandingkan mereka yang tumbuh tanpa perhatian,” jelasnya.
Di tengah derasnya pengaruh globalisasi dan media sosial, Susanthi berharap generasi muda Hindu tetap mampu menjaga nilai dharma dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa kemajuan zaman tidak boleh membuat remaja kehilangan jati diri dan moralitas.
“Modernitas boleh berkembang, teknologi boleh maju, tetapi nilai agama dan etika harus tetap menjadi pedoman utama dalam kehidupan generasi muda,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika