BALIEXPRESS.ID-Puncak rangkaian Yadnya Kasada pada Minggu (31/5) Mei dilaksanakan di Pura Luhur Poten, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo-Jawa Timur bertepatan dengan Purnama Sada. Rangkaian ditutup dengan prosesi Mulunen atau ujian bagi calon dukun pandita pada Senin (1/6) dinihari.
Acara diawali dengan Pujawali di Pura Luhur Poten, berlangsung pada Minggu pagi. Ribuan Umat Hindu di kawasan Tengger yang meliputi Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang datang berbondong-bondong untuk melaksanakan persembahyangan yang dilanjutkan dengan prosesi ngelabuh sesaji atau mempersembahkan hasil bumi ke kawah Bromo.
Sekertaris Paruman Dukun Pandita, Tengger yang juga Ketua PHDI Probolinggo, Bambang Suprapto menjelaskan sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Hindu Tengger melaksanakan ritual Yadnya Kasada saat Purnama Sada.
Umumnya, sarana yang dipersembahkan dalam ritual Kasada merupakan hasil bumi masyarakat Tengger.
“Karena Sebagian besar masyarakat di Tengger bermatapencaharian sebagai petani, maka yang dipersembahkan adalah hasil bumi. Seperti sayur, kentang, kubis dan daun bawang,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Ia menjelaskan, saat prosesi Pujawali di Pura Luhur Poten juga menggunakan sarana yang memang disesuaikan dengan kearifan lokal masyarakat Tengger, serta dipimpin oleh Romo Dukun Pandita.
Bahkan, ada Wewaler atau Uger-uger Pura Luhur Poten yang dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan Yadnya. Tercatat ada enam aturan yang wajib dipahami oleh masyarakat Hindu Tengger.
Pertama, Pura Luhur Poten Bromo Adalah cikal bakal / Asal Usul / Kawitan Tengger, dan sebelum ada Pura Poten Bromo, tempat ini sudah digunakan oleh umat Hindu tengger sebagai pusat pemujaan / Upacara Khususnya Yadnya Kasada.
Kedua, upacara tradisi yang dilaksanakan di Poten sebelum dan sesudah ada Pura luhur Poten Bromo adalah merupakan upacara yang ada kaitan/ benang merahnya dengan Pustaka suci Weda.
Ketiga, Pustaka suci Weda yang dimaksud oleh para leluhur telah diakulturasi atau dilokal jeniuskan yang menjadi adat tradisi Tengger.
Keempat, dalam hal Upacara dan berdasarkan tradisi turun temurun sebelum adanya Pura Luhur Poten Bromo, maka upacara Agung harus dipimpin oleh Dukun Pandita Tengger dengan sesana dan sarana persembahyangan sesaji /dandanan Tengger.
Kelima, Sesuai tata cara dan didukung para mumpuni yang bijak dan sesepuh Tengger, sesaji atau Dandanan di Pura Luhur Poten Bromo, tidak boleh menggunakan sesaji atau Dandadan yang memakai hewan hidup yang kemudian disembeleh sehingga darahnya menetes maupun menyentuh tanah di dalam dan sekitar Kawasan poten, sehingga hal tersebut menimbulkan kekotoran atau reget secara skala maupun Niskala.
Keenam, setiap Umat Hindu dari luar Tengger yang akan melaksanakan Upacara secara pribadi bisa memakai sarana upacara yang dibawa, kecuali upacara besar/agung harus dipimpin oleh Dukun Pandita dan menyesuaikan dengan wewaler/uger-uger yang sudah di tetapkan.
“Uger-uger ini yang menjadi pedoman bagi masyarakat Hindu Tengger dalam melaksanakan Yadnya Kasada,” sebutnya. (dik)
Tiga Calon Dukun Lulus Mulunen
Prosesi Yadnya Kasada ditutup dengan ritual Mulunen. Ritual Mulunen merupakan ujian menjadi dukun di Tengger yang diselenggarakan sekali dalam satu tahun pada bulan Kasada.
Saat Mulunen, para Calon Dukun Pandita diuji untuk mengucapkan mantra-mantra dan disaksikan oleh puluhan Dukun Pandita. Di sinilah prosesi terpenting untuk menjadi Dukun Pandita, banyak di antaranya yang gagal dalam upacara Mulunen ini.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) prosesi Mulunen dimulai sejak 03.00 Wita. Namun, umat Hindu Tengger sudah memenuhi areal Pura Luhur Poten. Mereka ingin menyaksikan calon Dukun Pandita melalui ujian Mulunen.
Pada Mulunen Senin (1/6) dini hari, tercatat ada tiga orang calon dukun pandita yang mengikuti ritual ini. Mereka adalah Julianto dari Desa ngadisari Kecamatan Sukapura, Probolinggo.
Kemudian calon Dukun Pandita bernama Suyono dari Sedaeng Kecamatan Tosari Kabupaten Pasuruan dan calon Dukun Pandita bernama Sigit Rahadi dari Dusun Pandansari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo.
Sebelum Mulunen dimulai, terlebih dahulu Ketua Paruman Dukun Pandita yakni Romo Dukun Pandita Sutomo membacakan Sejarah singkat Kasada dan asal-usul Tengger. Kemudian dilanjutkan dengan Puja Stuti oleh seluruh Dukun Pandita se kawasan Tengger.
Suasana menjadi hening, saat beberapa dukun pandita sebagai penguji duduk di tempat khusus di belakang calon dukun pandita. Mereka adalah Romo Dukun Pandita Sutomo selaku Ketua Paruman Dukun Pandita se Kawasan Tengger didampingi wakilnya Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah dan Romo Pandita Joko Trisno.
Giliran pertama dipanggil adalah calon Dukun Pandita bernama Julianto. Ia begitu lancar dan percaya diri saat merapalkan matra khusus Mulunen.
“Bagaimana masyarakat Brang Kulon dan Brang Wetan, apakah Bapak Julianto sah atau tidak?” tanya Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah, dan disambut teriakan sah oleh umat Hindu Tengger yang memadati areal Pura Luhur Poten.
Selanjutnya giliran Suyono diberikan kesempatan merapalkan mantra. Meski sempat mengulang sekali karena ada yang kurang jelas, maka Suyono pun dinyatakan sah sebagai Dukun Pandita.
Giliran calon dukun pandita yang ketiga bernama Sigit Rahadi juga mendapat kesempatan merapalkan mantra saat Mulunen. Dia pun begitu lancar dan jelas dalam pelafalan, sehingga dinyatakan sah.
Romo Dukun Pandita Rsi Eko Cokro Noto Bromo Telabah prosesi Mulunen pada Kasada tahun ini tergolong lancar meskipun ada yang diulangi, namun akhirnya sukses dan dinyatakan lulus sebagai Dukun Pandita.
“Ketiganya lancar, dan nantinya mereka akan bertugas melayani umat Hindu di Tengger, terutama di desa asalnya masing-masing dalam memimpin upacara yadnya,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika